EKSISTENSI GONTOR DALAM MENCETAK KADER UMAT - IKPM KAIRO

Jumat, 10 Mei 2019

EKSISTENSI GONTOR DALAM MENCETAK KADER UMAT





Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan lembaga pendidikan pesantren yang telah berkiprah 90 tahun lebih sejak berdirinya. Lika-liku perjuangan dalam bidang pendidikan telah menghasilkan para alumni yang saat ini berkiprah di seluruh pelosok Indonesia, bahkan mancanegara. Nilai-nilai gontor serta jiwa kepondokmodernan yang menjadi identitas (shibghoh) Gontor harus terus dilestarikan dan dikawal sebagai regenerasi dan pengkaderan mundzirul qoum yang akan berkiprah di masyarakat nantinya.

Melalui dunia pendidikan itulah Gontor mengepakkan sayapnya menyiarkan kalimat Allah lewat kiprah para alumni yang telah ditempa dalam lingkup pondok. Di saat sebagian besar terbutakan oleh politik kekuasaan, Gontor tetap eksis dengan pendidkan sebagai politik tertingginya. Seperti yang disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam salah satu pidatonya, bahwa pendidikan merupakan politik substantif. Yaitu memperjuangkan kebenaran bukan kekuasaan yang menjadi tujuannya dengan mencetak generasi mundzirul qoum yang berani menyatakan kebenaran bukan hanya membenarkan kenyataan.

Seperti halnya Islam tak terlepas dari dasar dan sumber pedomannya yaitu al-Qur’an dan Sunnah, Gontor pun demikian. Syiar pendidikan Gontor telah berulang kali dibacakan dan diarahkan setiap tahunnya saat Pekan Perkenalan Khutbatu al-Arsy atau bahkan dalam berbagai pidato Bapak Pimpinan dan guru senior.Syiar tersebut  terangkum dalam Surah Al-Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (التوبة : 122)

 “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (Q.S. At-Taubah: 122)

Mereka yang memperdalam agama adalah investasi bagi umat Islam untuk mengingatkan masyarakat ketika kembali kepadanya. Akrab dalam pidato pak kyai dengan sebutan kader daerah. Melalui berjuang dalam bidang pendidikan, mendidik generasi penerus bangsa, perekat umat serta menjunjung tinggi kalimatillah. Itulah syiar Pondok Modern Darussalam Gontor dalam pendidikan.

Dengan mencetak kader-kader ulama yang intelek, bukan hanya intelek yang tau agama menjadi strategi apik dalam menghadapi tantangan zaman. Karena mundzirul qoum yang kembali pada umat tak cukup hanya sekedar ulama tanpa wawasan tentang keadaan yang dihadapi saat ini. Apalagi hanya sekedar seseorang yang tahu wawasan keadaan saat ini namun hanya tahu agama bukan ulama.

Begitu pula kurikulum pendidikan yang seratus persen ilmu agama dan seratus persen ilmu umum menunjukkan tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan umum. Disamping itu setiap dinamika kehidupan antara santri, guru dan kyai di dalamnya terdapat pendidikan mental karakter.



Pembentukan karakter, mental, serta penanaman nilai-nilai Gontor dibangun dan dikembangkan berlandaskan hidayah Allah, ketakwaan dan ketaatan untuk menggapai mardhatillah. Yaitu menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai fondasi utama Gontor. Seperti keyakinan kita bahwa langkah awal yang paling berkah adalah bismillah, proses paling aman dan menjanjikan adalah bersama Allah dan tujuan yang paling indah dicapai adalah ridha Allah. (K.H. Ahmad Suharto, Ayat-Ayat Perjuangan).

Seperti yang ditegaskan oleh Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) K.H. Hasan Abdullah Sahal, “Di atas PMDG hanya Allah, di bawah PMDG hanya tanah. Jasad melekat di bumi, tetapi jiwa berhubungan langsung dengan Yang di langit, di ‘Arsy, dengan segala resikonya.”

Melalui dasar yang kokoh itulah akan muncul serangkaian dinamika yang berporos pada jiwa dan nilai yang digagas pendiri pondok. Seperti sebuah pohon dengan akar kuat menghujam tanah, menyerap setiap unsur dalam tanah untuk pertumbuhannya. Batang dan dahannya kuat, ranting dengan daun yang lebat membantunya dalam fotosintesis, cabangnya menjulang tinggi menghasilkan buah yang bermanfaat bagi manusia. Itulah gambaran kebermanfaatan sesuatu bagi sekitarnya.
Gontor dapat diibaratkan sebagai syajaroh thoyyibah. Akarnya merupakan fondasi kuat sebagai Panca Jiwa (keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah, kebebasan) dan Motto Pondok Modern Darussalam Gontor (Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas). Panca Jangka yang merupakan program pondok kedepannya (Pendidikan dan pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Khizanatullah, Kesejahteraan Keluarga Pondok) sebagai batang yang menunjang cabangnya.

 Adapun daun yang dihasilkan adalah para alumninya. Yaitu ketika daun itu jatuh, ia akan kembali pada tanah dan memberi kesuburan bagi tanah dan pohonnya. Daun yang jatuh menjadi pupuk alami, hingga buahnya menjadi manfaat bagi umat. Sebagaimana seorang santri akan kembali ke masyarakat menjadi mundzirul qoum setelah menuntut ilmu tafaqquh fiddin. Dan cabang yang menjulang tinggi pada pohon  ibarat cita-cita Gontor.

Seperti dalam al-Qur’an surah Ibrahim, Allah Swt mengumpamakan kalimat yang baik, seperti syajaroh thoyyibah (pohon yang baik). Kalimat yang baik adalah kalimat tauhid, laa ilaaha illa allah, kalimat yang tidak mengandung kesyirikan, yang beramar ma’ruf nahi munkar. (K.H. Ahmad Suharto, Ayat-Ayat Perjuangan)
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء  (إبراهيم : 24)

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Q.S. Ibrahim: 24)

Uraian singkat sebelumnya mengenai peran Gontor dalam mencetak kader umat melalui pendidikan menggambarkan adanya kebermanfaatan yang dihasilkan. Kebermanfataan sesuatu di bumi ini akan selalu menetap bertahan, dan yang lainnya akan tersingkirkan dengan sendirinya ketika tidak lagi memberi manfaat. Itulah salah satu sebab mengapa Gontor tetap eksis di tengah pergulatan zaman saat ini, yaitu adanya kebermanfaatan. Seperti halnya Universitas al-Azhar Kairo yang merupakan universitas tertua di dunia, al-Azhar pun menjadi salah satu sintesa Gontor karena wakafnya.

Dengan izin Allah, Gontor telah berkiprah dalam bidang pendidikan hingga saat ini. Semoga terus dapat memberikan manfaat bagi kejayaan umat dan bangsa. Dari Gontor, oleh gontor, untuk Islam dan Indonesia. Itulah seleksi alam, bagi yang bermanfaat akan tetap tinggal. Seperti yang Allah perumpamakan dalam ayat berikut:

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ (الرعد : 17)

 “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat permumpamaan tentang yang benar dan bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan” (Q.S. Ar-Ra’ad : 17)

Wallahu A'lam bi al-showwab

Ummu Maghfiroh

Tidak ada komentar: