Ramadhan Kareem Bersama Bapak - IKPM KAIRO

Selasa, 07 Mei 2019

Ramadhan Kareem Bersama Bapak

Doc. KH Hasan Abdullah Sahal tampak berbincang dengan Wakil Duta Besar KBRI Mesir, Aji Surya yang juga warga IKPM


Satu atau dua tahun, bahkan mungkin lebih dari itu tak kunjung menatap secara langsung ayahanda kita, KH. Hasan Abdullah Sahal. Raut muka yang dihadapan kami, terukir darinya perjuangan dan pendidikan luar biasa hingga menjadi sosok yang ketika kedua mata menatapnya, tak didapati kecuali ketenangan, kenyamanan dan keterpanggilan untuk berjuang kembali 'liyundziru qoumahum' sebagaimana orientasi pendidikan Gontor.

Senin sore, hari pertama Ramadhan di Mesir (6/5) bagaikan kembali mengulang memori yang takkan terganti nilainya. Tentu saja, bukan hanya cuplikan visual keadaan sekitar dan pertemuan teman dalam satu didikan yang sama. Lebih dari itu, ulasan nilai-nilai pondok yang disampaikan baik secara tersirat maupun tersurat dalam perkataan beliau sore ini tak lepas dari apa itu arti 'kembali' serta bagaimana. Begitupula mengenai siapa yang menyampaikan, sudah tak dipungkiri lagi sosok di hadapan kami sore tersebut membakar kembali bahan bakar yang mulai padam.

Perkataan yang nisbi, namun nilainya abadi. Yaitu ketika masuk ke dalam hati, kemudian diamalkan kembali bahkan mengulanginya hingga siapa yang melihat atau mendengarnya mengambil nilai yang beliau sampaikan sore ini. Singkat tapi penuh refleksi bagi orang-orang yang mau berpikir, karena Gontor memberi kail bukan ikan.

Nilai sore itu itu berupa syukur. Kata yang mengawali pembukaan nasehat beliau sejatinya adalah induk dari yang beliau sampaikan. Syukur yang disambung dengan potensial seorang individu, bahwa anak gontor mempunyai banyak potensi. Banyak yang telah berkiprah di berbagai bidang, baik kala beliau di Mesir bahkan sekarang yang telah temui langsung.

Nilai syukur itu tersirat dalam ungkapan pak kyai, "Seindah-indah masa adalah masa menuntut ilmu, maka beruntunglah kamu menuntut ilmu di Mesir. " Fabiayyi aalaai rabbikuma tukadziban. Esensi dari menuntut imu itu sendiri adalah menggali potensi dalam diri seorang individu. Adapun ekplorasi adalah penggalian potensi sesuai kecenderungannya. Penggalian potensi tersebut dibingkai dengan panca jiwa yang mewarnai diri sendiri dan masyarakat lainnya. "Potensimu nak!" Seru Pak kyai menyambung nasehatnya, kemudian membacakan ayat:

(وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ * وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ * وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ)

(Wa fi al-ardhi aayaatun li al-muuqiniina * wa fi anfusikum afala tubshiruun * wa fi al-samaai rizqukum wa ma tuu'aduun)

"Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." (Al-Dzariyaat: 20-22)

Karena di bumi terdapat tanda-tanda kebesaran Allah begitupula pada dirimu, maka galilah! maka kembangkanlah potensimu. Afala tubshiruun? Apakah kamu tidak melihatnya? Jangan pula khawatir (pada saat kamu mengembangkan potensimu) karena fi al-samaai rizqukum wa ma tuu'aduun, dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.

Setelah menggali potensi, maka jadilah man yamsyii sawiyyan, bukan mukibban 'ala wajhihii," sambung beliau lagi.

(أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ)
(Afaman yamsyii mukibban 'ala wajhihii ahdaa amman yamsyii sawiyyan 'ala shiroothin mustaqiim)

"Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkap yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?"

Selain itu nilai kebesaran jiwa dan hati pun beliau sampaikan. Bukan besar kepala, besar mulut, besar nama tapi amalan tidak ada!

Semua hal tersebut membutuhlan proses. Namun dalam setiap proses pasti terdapat tantangan. Tantangan itulah yang nantinya membuka pintu surga atau neraka, jika tiada tantangan mana tiada pintu pun yang terbuka. minkum man yuriidu al-dunya wa minkum man yuriidu al-aakhiroh, diantaramu ada yang menginginkan dunia dan di antaramu (pula) ada yang menginginkan akhirat.

Pak Kyai pun menyambung dengan nilai selanjutnya, agar kita menjadi pelopor, pendiri, dan perintis, bukan hanya muqallid dan pengikut yang hanya ikut-ikutan saja.

Nilai yang memang tersurat, yaitu panca jiwa beliau jelaskan bahwa itu merupakan sebuah pola hidup yang membentuk pribadi kita. Yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah, serta kebebasan. panca jiwa tersebut ditanamkan serta membina anak didik dengannya hingga kuat kemasyarakatannya.

Beberapa rangkuman nilai-nilai pondok yang beliau sampaikan tersebut, "tidak bisa di beli!" Jelas pak kyai. Setelah sampai pada kita nilai-nilai tersebut (yang sejatinya adalah pengulangan kembali) agar ditekuni, diistiqomahkan serta dibuat sebaik-baiknya. Inna Allah yuhibbu 'abdan idzaa 'amila amalan an yutqinahu, sesungguhnya Allah menyukai hambanya yang apabila dia mengerjakan sesuatu dengan teliti.

Diakhir nasehatnya, ditutup dengan kalimat indah dari seorang bapak ke anaknya, "Inilah obat rindu saya pada antum semua, ana uhibbukum. Saya tetap ingin menjadi kyai santri, bukan kyai podium, bukan kyai whatsapp atau kyai Facebook, " tutup pak kyai menjelang waktu di mana mustajabnya suatu doa.

Rep. Ummu Maghfirah
Red. Rahmadi Prima

Tidak ada komentar:

@way2themes