Menjawab Pertanyaan Khofifuddin Sesaat Sebelum Pelantikan DP IKPM Kairo - IKPM KAIRO

Jumat, 09 Agustus 2019

Menjawab Pertanyaan Khofifuddin Sesaat Sebelum Pelantikan DP IKPM Kairo

Saudara Khofifudin (kanan) menerima jabatan DPO dari saudara Farhan Aziz (kiri)


Pada (13/7) saya menyempatkan hadir memenuhi undangan
Adam Huda untuk acara pelantikan Dewan Pengurus IKPM Kairo periode 2019/2020. Walau di awal sempat merasa canggung mempertanyakan ihwal sebab undangan, sebab saat ini saya tidak menduduki peran struktural apapun di IKPM Kairo. Namun setelah sedikit merenung, tidak salah juga saya ikut melirik detik-detik awal masa pengabdian adik-adik kelas saya ini. Ditambah lagi, secara psikologis saya meyakini bahwa peran “kakak” melihat adik-adiknya dilantik sedikit bisa jadi pemantik spirit dan moral pengurus. Walau cukup disayangkan, karena dari segelintir hadirin undangan, dari kategori senior “mantan Dp” hanya bisa dihitung tidak lebih dari jari tangan kanan. Bahkan mantan Ketua IKPM periode sebelumnya ada yang berhalangan hadir, jangan lagi tanya pengurus harian periode sebelumnya, tidak ada yang datang! kecuali Muhammad Novan Hidayat dan Musthofa Fadhila Akbar. Mungkin jika keduanya tidak didapuk meneruskan estafet ketua IKPM rasanya keduanyapun tidak akan hadir.  Bagi saya, peran “kakak-kakak” tadi tidak kurang penting dari hadirnya Presiden PPMI yang berjas dan berdasi, walau kami kadang hanya ber-kaus dan ber-jeans. 

Saya tidak akan berpanjang lebar tentang peran kakak senior dalam sebuah instansi organisasi apapun, karena bukan itu main point dari tulisan saya kali ini. Bukan juga tentang “obesitas” pengurus tahun ini sebagaimana yang ditulis adik saya. Atau tulisan lainnya yang bernada auto-kritik pada momen pelantikan pengurus IKPM tahun ini. Pada kesempatan ini saya akan berbagi tentang apa kiranya yang perlu pengurus IKPM Kairo lakukan pada tahun ini di tengah perubahan sosial masyarakat Masisir khususnya dan kaum milenial pada umumnya. Sebelumnya, saya ingin bercerita, beberapa menit sebelum pelantikan pengurus di Aula Kemass saya tidak sengaja bertemu Khofifudin, ketua DPO (Dewan Pengawas Organisasi) IKPM Kairo, dia membawa saya masuk dapur aula Kemass. Tanpa ba-bi-bu dia bertanya, “kaifa pek, Ghazi jami’an dilantik pengurus?.” Dalam hati saya tertawa sedikit terbahak. Jadi, kata-kata itulah asal muasal tulisan saya ini.

Ghazi adalah nama angkatan dari mahasiswa-mahasiswi Al Azhar tahun kedatangan 2018 yang “kebetulan” terafiliasikan dengan IKPM Kairo. Kebetulan lagi, angkatan ini memang diberkahi dengan kuantitas yang besar. Hal ini tidak terlepas dari meledaknya jumlah Camaba pada tahun itu. Tepatnya mereka berjumlah  306 orang, dan keseluruhannya adalah Dewan Pengurus IKPM Kairo periode tahun ini. Nampaknya, dari seluruh organisasi dalam lingkup Masisir, IKPM kairo menempati rekor terbesar dalam hal jumlah kepengurusan. Mengapa? Mudahnya, karena tata-tertib organisasi mengharuskan seluruh anggota IKPM pada tahun ke dua ia tinggal di Mesir maka wajib menjadi pengurus organisasi. Sebagaimana lazim diketahui tata-tertib tidak sedinamis jadwal piket flat-flat Masisir yang sangat fleksibel. Untuk perubahannya diperlukan Sidang Istimewa yang membutuhkan waktu.

Dengan jumlah pengurus yang “nampaknya” besar, tentunya kepengurusan pada tahun ini juga memerlukan sedikit penyesuaian. Apalagi dengan dihadapkannya kita pada arus globalisasi yang serba instan dan cepat, tentunya cara-cara kuno dalam manajemen harus perlu dibungkus dan disimpan dalam rak-rak dokumentasi. Saya meringkas tulisan ini pada beberapa beberapa poin mendasar yang kiranya perlu dilakukan oleh Dewan Pengurus IKPM periode tahun ini.

1.      1. Efiesiensi Kegiatan

Sebagaimana fungsinya, IKPM Kairo sebagai cabang dari pusat perlu kembali ke pada titah  tujuan IKPM yang tertuang dalam Ad-Art IKPM Pusat PMDG. Zaman Now, nampaknya mengembalikan arus pergerakan organisasi pada Ad-Art dianggap kuno dan anti-dinamisasi. Padahal sependek penglihatan saya, banyak terjadi disorientasi kegiatan organisasi dalam internal  Masisir karena mengabaikan garis besar arah dan tujuan yang tertuang dalam Ad-Art. Dalam Ad-Art IKPM Pusat sendiri ada empat poin besar arah kegiatan yang seharusnya mendapatkan slot besar dalam agenda tahunan IKPM Kairo. Ke-empat poin itu adalah: Pendidikan dan Dakwah, Publikasi dan Penerbitan, Usaha dan Ekonomi, serta terakhir Keputrian. Dengan menjadikan  ke-empat poin itu sebagai falsafah pergerakan maka organisasi akan berjalan sesuai dengan harapan pendiri PMDG. Karena sejatinya IKPM adalah perpanjangan dan wadah pondok untuk membina alumni-alumni PMDG. 

Mari kita ambil contoh. Di tahun kepengurusan Nurman Haris Dkk, hampir tidak ada program yang memiliki dasar falsafah kegiatan yang sesuai dengan empat kegiatan utama IKPM. Mayoritas kegiatan yang dilaksanakan baru dan mungkin saja bersifat temporal andai jika pada tahun ini Adam Huda dan seluruh DP tidak mengambil pelajaran dan mengevaluasi kegiatan yang sudah berlalu. Sejauh ini di antara sejumlah kegiatan tahunan IKPM Kairo yang seharusnya semakin baik adalah Getar. Setiap tahunnya, Gema Takbir Akbar (Getar) bergulir dengan konsep dan rentetan kegiatan yang boleh dibilang “gitu-gitu saja.” Mari kita lihat Getar tahun ini!

Silahkan jujur, bagi pembaca yang kebetulan pernah menjadi DP IKPM Kairo pasti merasakan bahwa ke-empat poin tersebut tidak menjadi program kerja utama. Kebanyakan, program-program kerja yang diusung oleh Dewan Pengurus setiap tahunnya temporal dan tidak ada tindak lanjut (follow up) dan pada akhirnya generasi dewan pengurus selanjutnya buta arah dan biasanya akan mengulang semuanya dari awal. Problematikanya akan semakin bertambah ketika laporan dan dokumentasi terlampau buruk sehingga tidak bisa dijadikan bahan rujukan untuk generasi selanjutnya. Maka solusi terbaik adalah memusatkan kegiatan organisasi pada ke-empat poin besar tersebut, mengeliminir atau paling tidak memilah-milih kegiatan yang diyakini sesuai dengan Ad-Art IKPM Pusat, dan selebihnya kegiatan IKPM Kairo akan dilimpahkan pada komunal-komunal kecil yang langsung terafiliasi dengan Dewan Pengurus. Jadi intinya, bukan banyak-sedikit acara, tapi efisien atau tidak acara tersebut.

2.      2. Desentralisasi IKPM Kairo

Salah satu bentuk efisiensi adalah efisiensi waktu. Pada saat ini, waktu menjadi semakin berharga. Di saat yang bersamaan kegiatan mahasiswa juga semakin beragam. Jika dahulu kegiatan talaqqi menjadi barang langka, kini aktifitas itu bahkan sudah menjadi trendsetter, tidak jarang untuk membuka pembicaraan dengan seorang mahasiswa Indonesia kita memulai dengan “mau kemana? Ngaji ya, sama siapa...” dan perbincangan akan terus berlanjut, apalagi kalau yang diajak ngobrol ternyata satu majelis, satu syeikh, dan satu pelajaran. Tidak jarang pembicaraan diakhiri dengan tukar id akun instagram. Belum lagi kegiatan wajib Masisir yang terus digaungkan oleh Bapak kita bersama, Dr Usman Syihab, Atase Pendidikan dan Budaya, yaitu perkuliahan. Terbayang, kedua kegiatan itu saja sudah menguras waktu dan tenaga Masisir. Maka jika bisa diurutkan, kegiatan organisasi haruslah ada di urutan ke tiga setelah keduanya, karena ke dua kegiatan pertama adalah alasan kita datang ke negeri ini.

Maksud desentralisasi di sini adalah fleksibilitas tempat, waktu, dan keadaan perkumpulan. Tentunya organisasi tidak mungkin tidak kumpul, mangan ora mangan sing penting kumpul, Begitu kiranya filosofi Jawa kuno yang paling tepat untuk mode organisasi Masisir masa kini. Selama ini, aula IKPM Kairo selalu menjadi pusat tempat perkumpulan, tanpa memandang jarak dan waktu yang perlu ditempuh. Sang “ketua”mewajibkan anggotanya untuk hadir dari manapun anggotanya tinggal. Semuanya hanya demi pertimbangan kelayakan aula dan tempat yang strategis. Padahal nyatanya, jarak dan waktu perjalanan dari Darrosah menuju asyir tak jarang hingga 4 jam pulang pergi. Waktu yang sama untuk perjalanan Jakarta-Bogor PP. Perihal tempat, sudah sewajarnya mahasiswa bisa beradaptasi di manapun ia berkumpul. Bisa sholah rumah, pelataran masjid, atau kedai-kedai jus sederhana. Dan kiranya makanan tidak perlu menjadi acuan hadir tidaknya seseorang pada sebuah perkumpulan, sungguh hina kiranya saat keikhlasan diukur dengan sebutir nasi dan secangkis es teh.

Ketua perlu bijak me-manage baik kegiatan Dp maupun kepanitian yang tersusun di bawah kendali Dp. Terkait hal ini, efektifitas rapat menjadi hal mutlak demi terlaksananya acara dengan baik, acara yang kiranya bisa diselesaikan dengan satu pertemuan, tidak perlu kiranya diperpanjang hingga tiga pertemuan. Begitupun opsional tempat yang seharusnya beraneka ragam. Kumpul dapat dilakukan di mana saja, bahkan untuk skala yang kecil, media seperti skype sudah tidak jarang digunakan untuk perkumpulan yang bersifat unpredictabel. Kalau sudah seperti ini, tentunya Mindset “perkumpulan pamflet jam 4 kumpul jam 6” sudah seharusnya hilang dari benak kita.

3.    3.  Orientasikan Minat dan Bakat

Prinsipinya, IKPM adalah wadah berkarya bagi warga IKPM. Ia menjadi lapangan terbuka bagi warga yang memiliki hobi berolahraga, ia menjadi kanvas bagi siapapun warga yang memiliki bakat kaligrafi atau melukis, ia menjadi kertas di mana warga menulis karya-karya tulisnya, bahkan ia menjadi studio musik bagi warganya yang punya bakat dalam hal musik. Maka untuk itu, kegiatan selain memang perlu disesuaikan dengan ke-empat asas kegiatan IKPM, perlu juga untuk disesuaikan dengan minat dan bakat yang digandrungi oleh warga. Tidak hanya melalui seminar-seminar atau acara sesaat yang muncul lalu meredup. Perlu digalakan program berkesinambungan agar minat dan bakat itu bisa teresksplor dengan baik dan pada tempatnya sehingga bisa “dipetik” hasilnya suatu saat nanti.

Sampai saat ini IKPM Kairo bisa dibilang sudah cukup eksis mewadahi minat dan bakat warganya. Terdapat empat kajian keilmuan yang meliputi: Nun Center, I’jaz, Sanad Center dan Ar Razi studi klub, selain itu ada dua buletin yang semakin berkembang pesat: Cakrawala dan La Tansa, selain itu media daring macam website dan media sosial lainnya juga terus digalakan, bagi yang menggandrungi dunia terjemah ada Forter (Forum Terjemah), dan akhir-akhir ini ketua IKPM juga meresmikan tiga komunitas baru Gruvie (komunitas fotografer), A’lama (komunitas menulis) dan GDC (Komunitas desain grafis). Jumlah komunitas yang tidak banyak tapi cukup mampu untuk menjaring segelintir kecil warga IKPM. Sementara di bidang olahraga, bagi peminat bulutangkis sudah ada  PB IKPM Kairo untuk mewadahi dan mungkin masih ada lagi dan luput dari pandangan penulis. IKPM Kairo masih perlu terus berfikir dan berdinamika lebih jauh untuk membuat dan mengarahkan warganya untuk menemukan minat dan bakatnya. Membuka lebih banyak lagi komunitas-komunitas agar semakin banyak lagi talenta-talenta muda lahir dari rahim IKPM Kairo.

Sebagaimana disinggung di awal, langkah pengorientasian ini bisa menjadi solusi membengkaknya jumlah Dewan Pengurus. Karena pada dasarnya bukan sedikit dan banyak yang menjadi permasalahan, tapi kemampuan manajemen ketua adalah kunci dari berkembangnya organisasi. Karena tidak jarang kita menemukan sebuah organisas memiliki banyak pengurus dan dapat dengan maksimal melakukan program kerjanya. Ormas-ornas besar di Tanah Air contohnya. “Badan boleh kecil, tapi fikiran dan pergerakan harus besar” begitu kata kyai-kyai di pondok dulu. Dalam hal ini, Dewan Pengurus dapat diarahkan sebagai fasilitator dan penghubung antara komunal-komunal kecil internal IKPM tadi agar ketua dapat memfasilitasi hajat-hajat yang diperlukan oleh warganya sekaligus membimbing dan memberikan masukan agar kegiatan semakin baik. Tentunya komunikasi adalah hal terpenting dari semuanya. Tanpa terjalin komunikasi dan pengarahan yang jelas dan terstruktur dari ke tiga ketua keseluruhannya mustahil berjalan dengan sesuai.

Namun di lain sisi, kita tidak boleh melupakan peran IKPM yang paling utama yaitu sebagai wadah  ukhuwwah Islamiyyah bagi alumni Pondok Modern. Terlebih di negeri yang kadang tidak menentu kondisinya ini. Ukhuwwah antar sesama warga harus didahulukan. IKPM harus menjadi orang pertama yang berdiri dan memberikan selamat jika ada warganya berdiri di podium untuk sebuah prestasi, begitu juga jika seorang warga terbaring di rumah sakit, maka perlu ada saudara dari IKPM yang menjaganya, apalagi jika sudah berhubungan dengan keamanan maka salah seorang yang terdahulu menghubungi kontak keamanan KBRI adalah kawan dari IKPM itu sendiri. Ketiga poin tadi kiranya mungkin menjadi oase dari surutnya minat pergerakan dewan pengurus IKPM. Karena tujuan dan arah organisasi yang jelas tentunya menjadi “bensin” tersendiri bagi segenap dewan pengurus. Selain itu, perlu kiranya sama-sama disadari bahwa amanah menjadi Dewan Pengurus adalah suatu tugas mulia. Inilah waktunya untuk membuat sebuah prestasi bagi diri sendiri ataupun kolektif. IKPM Kairo selamanya tidak akan memberi apa-apa selama kita tidak memberi apa-apa untuk IKPM Kairo. Pondok perlu dibela, dibantu dan diperjuangkan.

“Sebentar sampai sejauh ini, jadi, Ustaz Khofif, pertanyaan antum sudah terjawab ya?”

1 komentar:

  1. Walaupun sekarang kita sudah tak berada di Gontor lagi, semoga dengan adanya IKPM Cabang Kairo cukup menyadarkan kita akan pentingnya membela, membantu dan memperjuangkan nilai² Gontor

    Walaupun tulisan di atas bisa terbilang panjang, bi idznillah saya kuat membacanya sampai akhir karna ternyata cukup mengisnpirasi dan membuka mata, hati dan pikiran yang sempat tertutup sebelumnya

    BalasHapus