Melalui al-Azhar, Mendapatkan Ilmu dari Guru atau Buku? - IKPM KAIRO

Sabtu, 12 Oktober 2019

Melalui al-Azhar, Mendapatkan Ilmu dari Guru atau Buku?

Al-Azhar yang merupakan salah satu sintesa Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi sorotan banyak alumni PMDG sebagai destinasi melanjutkan jenjang pendidikan strata 1. Hal tersebut dikarenakan al-Azhar merupakan kiblat eksistensi ilmu di dunia Islam, sesuai dengan yang disampaikan oleh Trimuri Gontor, “Jika kamu ingin beribadah sepuas-puasnya maka datanglah ke Makkah, jika kamu ingin menuntut ilmu sepuas-puasnya maka datanglah ke Mesir, dan jika kamu ingin mendapatkan pendidikan sepuas-puasnya maka datanglah ke Gontor.” Al-Azhar yang merupakan jami’ (masjid) yang menjadi pusat talaqqi serta jami’ah (universitas) saling berpadu dalam mencetak ulama sebagai duta negerinya berasal. Dari keduanya kita mampu menarik dua hal yang merupakan bagian dari faktor menuntut ilmu, yaitu guru dan buku.

Doc. Masjid al-Azhar dari atas saat acara peringatan 1079 tahun al-Azhar

Belajar dalam bahasa arab dapat diartikan dengan talaqqi, yang artinya mendapatkan ilmu atau menerima. Ada beberapa pelajar yang hanya membaca buku tanpa mencari atau mendatangi guru untuk memastikan benar atau salah apa yang ia baca. Namun ada juga  yang hanya mendatangi guru dan mendengarkan apa yang beliau sampaikan tanpa membaca ulang atau membandingkan apa yang ia dapatkan dari gurunya dengan apa yang ia baca dari buku-buku lainnya. Atau harus membaca buku dan mencari guru. Jika memang demikian mana yang harus didahulukan antara keduanya?

Memang ada banyak cara dan media yang beragam untuk mendapatkan ilmu. Syekh Muhammad Ibrahim Abdul Baits –salah satu ulama besar al-Azhar- menyampaikan bahwasanya talaqqi adalah mengambil ilmu dari sumbernya melalui ulama. Belajar secara langsung dengan membaca buku memang salah satu cara untuk belajar. Akan tetapi dalam buku itu sendiri ada beberapa hal yang benar dan ada beberapa hal yang perlu didiskusikan. Maka beliau sangat menyarankan untuk mencari guru setelah membaca agar ada yang dapat mengingatkan mana yang benar dan mana yang kurang benar. Karena dulu para sahabat belajar dengan Rasulullah Saw. secara lisan atau langsung bertemu dengan beliau dalam sebuah majlis.

Syekh Muhammad Ibrahim Abdul Baits juga pernah menyampaikan suatu hal dalam siaran televisi terkait soal pembelajaran, “Maka sangat penting bagi pelajar untuk menggabungkan apa yang ia dapat dari buku dan apa yang ia dapat dari gurunya. Tidak boleh merasa cukup dengan hanya membaca buku tanpa mencari guru, ataupun hanya mencari guru tanpa membaca buku-buku yang ada. Kecuali hanya ingin mempelajari sebagian bab yang ada dari sebuah buku saja, maka dia boleh hanya mendengar dari gurunya. Karena untuk membandingkan pendapat dari gurunya saja. Wallahu A’lam.

Dr. Amru Wardhani -salah satu ulama al-Azhar- pernah menyatakan bahwa ada beberapa ilmu yang hanya bisa didapat dan dipelajari dengan cara yang khusus, yaitu belajar langsung dengan guru yang jelas mempunyai sertifikasi atas ilmunya dan memahami bukunya dengan baik dan benar secara bersamaan.

Seorang ulama pernah mengatakan:

من يأخذ العلم عن شيخ مشافهة يكن من الزيغ والتحريف في حرم .ومن يكن آخذا للعلم عن صحف فعلمه عند أهل العلم كالعدم

“Barangsiapa yang belajar sebuah ilmu dari seorang guru secara lisan, maka ia akan diharamkan dari kesesatan dan penyelewengan. Dan barangsiapa yang menuntut ilmu hanya dari sebuah buku, maka ilmunya menurut para pakar ilmu tidak ada.”

Terlihat jelas peran dari seorang guru/ulama bagi muridnya. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda bahwa ulama adalah warisan para nabi. Mereka tidak mewariskan uang, akan tetap mereka mewariskan ilmu yang mereka ajarkan kepada murid-muridnya. Maka dari itu, ulama terdahulu tidak sembarangan mengajarkan ilmunya. Mereka mengajarkan ilmunya sebagaimana dulu para nabi mengajarkan ilmu tersebut kepada mereka.

Imam Syafi’i juga berpesan kepada murid-muridnya, bahwa ilmu tidak akan didapatkan kecuali dengan enam perkara. Pertama adalah kecerdasan. Kecerdasan merupakan istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Perkara yang kedua adalah kemauan yang keras. Kemauan yang sangat kuat untuk mendapatkan sesuatu atau mempelajari suatu hal. Ketiga adalah kesungguhan, karena dalam kesungguhan itu terkandung mental baja dan sikap pantang menyerah. Yang keempat adalah bekal yang cukup. Bekal di sini merupakan harta benda yang digunakan untuk mendapatkan ilmu tersebut. Perkara kelima adalah selalu bersanding dengan guru. Guru yang dapat membantu dan mengarahkan para pelajar ke arah yang baik. Yang terakhir adalah waktu yang panjang. Untuk menguasai sebuah ilmu memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk menguasainya.

Dari 6 perkara yang disebutkan oleh Imam Syafi’i diatas, buku dan guru termasuk dalam perkara-perkara yang harus dimiliki oleh pelajar. Maka belajar melalui buku dan belajar bersama guru merupakan 2 hal yang tidak bisa dilepaskan. Harus berjalan bersama agar bisa mendapatkan ilmu dengan baik dan benar. Semoga kita semua yang merupakan duta bagi bangsa ketika kembali ke tanah air mampu mengamalkan ilmu yang kita peroleh melalui ulama dan buku yang kita baca. Aamiin.


Rizqi Mohammad Moi
Red: Ummu

Tidak ada komentar: