Menjadi ‘Santri al-Azhar’ - IKPM KAIRO

Selasa, 22 Oktober 2019

Menjadi ‘Santri al-Azhar’

“Santri itu besar, santri itu tinggi, santri itu kuat, santri itu kaya (ilmu), santri itu benar, santri itu baik. Santri tidak usah minta ditinggikan, tidak usah dibesarkan, tidak usah dibaik-baikkan.” (K.H. Hasan Abdullah Sahal)

Doc. Masjid al-Azhar saat peringatan 1079 tahun al-Azhar

Pada abad ketujuh, Islam menguasai Mesir di bawah komando Amr bin Ash. Disebut dengan kinanatul ardh (negeri kinanah), Mesir menjadi pusat peradaban dunia, ilmu agama Islam, ilmu pengetahuan dan tsaqofah keislaman dari masa kholifah Abbaasiyah sampai sekarang, serta tempat lahirnya ulama kharismatik Islam yang terkenal dari masa ke masa hingga saat ini. Salah satu pusat intelektual yang sangat terkenal  adalah Universitas al-Azhar yang terletak di ibu kota Mesir, Kairo.

Al-Azhar adalah Universitas Islam tertua yang berada di Kairo, Mesir.  Dengan sistem klasik, al-Azhar berhasil memikat hati para penimba ilmu Islam di seluruh penjuru dunia. Kendati demikian ada filosofi yang harus diketahui di balik sistem klasiknya. Al-Azhar benar-benar mendidik pencari ilmu untuk mencari bukan dicari, untuk menunggu bukan ditunggu dan untuk mengambil bukan diambil, karena al-Azhar merupakan sebuah masjid di mana terdapat halaqah-halaqah ilmu. Di sana diajarkan berbagai macam bidang ilmu yang tidak didapatkan di bangku kuliah, terlebih ilmu-ilmu turast (klasik).

Al-Azhar, yang dinisbahkan kepada putri Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahrah itu terkenal dengan sistem sanad (riwayat). Dimana seorang murid mengambil sebuah ilmu langsung dari gurunya dengan bertatap muka dan tentunya para murid pun diuji seberapa jauh ia menguasai ilmu tersebut. Sistem ini ternyata sudah ada semenjak zaman Rasulullah Saw. dan dipraktikkan oleh para sahabat serta ulama sesudahnya. Sistem sanad ini pulalah yang menjadikan keilmuan Islam tetap terjaga dari masa ke masa, dan masih banyak lagi keistimewaan dari al-Azhar yang ada sejak zaman Dinasti Fatimiyah ini.

Sebagai seorang penuntut ilmu yang mendapat amanat sebagai duta bangsa dengan risalah al-Azhar yang diharapkan, kita harus menata niat, ke Mesir apa yang kita cari? Perlu kiranya bagi kita menilik kembali, apakah kriteria untuk menjadi ‘santri al-Azhar’ sudah kita penuhi? Atau akrab kita ketahui dengan azhari.

Dari tulisan sederhana ini, terdapat sedikit pemaparan yang penulis coba sampaikan mengenai hal tersebut. Menjadi seorang santri harus berpegang teguh pada nilai yang ditanamkan oleh sang kyai. Seperti halnya ketika disebut sebagai santri Gontor, maka nilai yang ditanamkan oleh trimurti dan kyai harus kita pegang erat-erat karena di jidat kita terdapat tulisan PM (Pondok Modern), seperti yang sering disampaikan bapak pimpinan PMDG di berbagai kesempatan.

Begitupula seorang santri al-Azhar, yaitu dengan menghormati dan mencintai al-Azhar sepenuh hati. Selain itu agar mengetahui pula sejarah al-Azhar beserta ulamanya hingga bermulazamah dengan para ulama. Serta mengetahui kemuliaan sebuah ilmu, mempelajari apa yang ada di al-Azhar dengan itqan (teliti) dan menyiapkan untuk mengajarkannya ketika kembali sebagai mundzirul qoum, sebagai pengingat umat.

Al-Azhar terdiri dari dua unsur utama yaitu jami’ (masjid) dan jami’ah (universitas),  Talaqqi dan kuliah menjadi media bagi para penuntut ilmu untuk berinteraksi langsung dengan para ulamanya sehingga bisa mengetahui metode al-Azhar hingga nilai yang diwariskan al-Azhar dan para ulama mampu kita bawa dalam risalah al-Azhar yang diharapkan tersebar di negeri kita berasal.

Terdapat pernyataan yang sering kita dengar dari masyayikh al-Azhar, bahwa seorang Azhari yaitu yang berakidah ‘Asy’ari atau Maturidi, bermadzhab satu dari yang 4 (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah), serta berakhlak karimah (Sufiyyu al-Tawajjuh). Maka dari itu, barangsiapa yang belajar di al-Azhar dan membawa pulang ijazah al-Azhar tapi tidak sejalan dengan manhaj (metode) al-Azhar, belum bisa disebut sebagai  Azhari. Begitupula sebaliknya, jika terdapat seseorang yang bernilaikan seperti yang disebutkan di atas maka baginya jiwa azhari.

Syekh Ahmad Tantowy pernah mengatakan berkenaan dengan azhari, bahwa “laisa azhariyaan al-ladzii lam yahfadz al-qur’an” (bukanlah Azhari yang belum hafal al-qur’an). Dan begitu pula pernyataan Syekh Yusri Rusydi, “Orang yang sudah memakai Romzul Azhar (peci merah putih), merupakan sebagai tanda bahwa mereka sudah hafal al-Qur’an tapi sayangnya mahasiswa al-Azhar sekarang  malah lebih disibukkan untuk menghafal kitab-kitab muqorror (diktat kuliah).’’ Bertolak dari pernyataan tersebut, dapat kita pahami pentingnya al-Qur’an yang tidak hanya dihafalkan namun diamalkan menjadi ciri penting bagi kita yang belajar di al-Azhar. Adapun ‘Hifdz’ yang sering disampaikan mengenai al-Qur’an, bukan hanya menghfal di luar kepala, akan tetapi menjaganya hingga menjadi nilai dan dasar kita dalam dinamika kegiatan.

Adapun metode talaqqi sudah diperaktekan sejak zaman Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, begitu pula para tabi’in hingga berlanjut hari ini seperti yang kita temui di al-Azhar. Melalui talaqqi kita dituntut untuk memperhatikan dari mana kita menimba ilmu, belajar langsung dengan seorang guru, bisa merasakan semangat para ulama, dapat bergaul dengan ahli ilmi dan mendapatkan do’a dari para masyayikh. Sikap ahli ilmu akan berbeda, dia akan selalu menganalisa ilmu secara detail tidak hanya sekedar membaca dan memahami kitab sendiri akan tetapi langsung merujuk kepada guru.

Tidak ada yang salah dalam sistem talaqqi, masalahnya kita sebagai seorang penuntut ilmu yang masih kurang kemauan dan belum memahami manfaat dari talaqqi. Seperti apa yang disampaikan maulana Syekh Muhammad al-Aroby, “Datangnya sebuah keinginan yang kuat untuk mengerjakan sesuatu, terlihat dari seberapa besar motivasi yang ada untuk meraih suatu hal yang penting nan berharga tersebut.”

Banyak sudut pandang dan pendapat-pendapat ulama serta para masyayikh tentang bagaimana menjadi santri al-Azhar. Dari apa yang penulis tuliskan di sini hanyalah sebagian dari setetes air di lautan. Namun yang harus kita ingat selalu adalah bahwa al-Azhar berdiri dengan wasathiyah-nya (kemoderetannya). Karena terdapat yang beragama tapi keras, sehingga mudah mengkafirkan. Dan juga terdapat yang terlalu longgar dalam beragama sehingga liberal. Adapun al-Azhar berdiri dengan wasathiyah (kemoderetannya) rahmatanlil’alamiin.

Di akhir tulisan ini, marilah kita mengingat pesan yang disampaikan oleh Grand Syekh al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Thoyyib:

 “Jangan lupa bahwa keluargamu mengirimmu ke sini untuk menuntut ilmu. Mereka telah membanting tulang siang dan malam. Maka dari itu manfaatkanlah waktumu, dan jangan sampai hanya kamu gunakan untuk berdebat kusir atau bergadang tanpa adanya kepe7ntingan dan manfaat. Dan ketahuilah walaupun kamu memberikan seluruh waktumu demi ilmu, sungguh ilmu hanya memberikanmu sebagian saja. Apalagi kalau kamu hanya memberikan sebagian waktumu, maka jelaslah ia tidak akan memberikan kepadamu apapun”


Sri Ayu Munassaroh
Red: Ummu

Tidak ada komentar: