Perjalanan Sejarah dan Rohani (1): Menyusuri Terusan Suez, Benteng Berlief, dan Syarm el-Syeikh - IKPM KAIRO

Selasa, 01 Oktober 2019

Perjalanan Sejarah dan Rohani (1): Menyusuri Terusan Suez, Benteng Berlief, dan Syarm el-Syeikh

Perjalanan memang mewariskan banyak cerita. Tak hanya duduk menunggu waktu untuk tiba di tempat tujuan. Dalam perjalanan ke Sinai yang ditempuh bersama Armada Jelajah IKPM Cabang Kairo, tak hanya mata yang memandang kanan kiri indahnya alam, namun telinga pun mematik cerita dari guru kita selama perjalanan, al-Ustadz Faiz Taufiq. Cerita yang dimulai ketika bis mulai memasuki Terusan Suez hingga Sungai Nil dan peradaban Mesir Kuno pun diceritakan selanjutnya. Berikut terkait beberapa sejarah yang beliau ceritakan:

1. Terusan Suez
Terusan Suez yang terletak di sebelah barat Semenanjung Sinai mengubungkan port said di Laut Tengah dengan suez di Laut Merah yang terbentang sepanjang 163 km. Dengan adanya Terusan Suez ini, tranportasi dari Eropa ke Asia tak lagi mengelilingi Afrika. Karena sebelum adanya Terusan Suez ini, beberapa transportasi dilakukan lewat jalur darat mengelilingi Afrika untuk sampai dari Asia ke Eropa.

2. Benteng Berlief
Yaitu benteng terkenal yang dibangun Israel saat menguasi Sinai Selatan dan Sinai Utara yang dikuasi Israel pada tahun 1967. Pada 1973, pada masa presiden ke-3, Anwar Sadat, meminta bantuan dari negara perbatasan lainnya untuk kembali menguasi Sinai yang saat itu dikuasi Israel.  Pada 6 Oktober 1973 tentara Mesir berhasil menggiring mundur tentara Isarel yang berlindung di Benteng Berlief meninggalkan Sinai. Bertolak dari kejadian bersejarah atas kemenangan Mesir atas Isarel pada 6 Oktober tersebut menjadi tanggal yang bersejarah dan lambang keperkasaan Mesir. Sittah Oktober, tanggal tersebut terkenang dengan dijadikan nama bagi kota di Mesir yang mana Syekh Ali Jumu’ah menetap di sana, serta menjadi nama salah satu jembatan di Mesir, Jembatan Sittah Oktober.

Doc. Benteng Berlief dari kejauhan

Yang menjadi salah satu sebab Israel menguasai Sinai adalah adanya pusat peradaban dan Terusan Suez. Karena Terusan Suez yang menghubungkan Eropa dengan Asia tanpa berputar ke Afrika merupakan hal yang berharga bagi Israel dari segi perekonomian.

3. Sungai Nil
Sungai Nil mengalir ke 9 negara, tapi mengapa yang paling terkenal di Mesir?  Karena sungai terbesar dan terluas dari Nil terdapat di Luxor, Aswan dan Abu Simble yang merupakan daerah di Mesir. Namun Sungai Nil tidak mengairi 3 kawasan di Mesir, yaitu: Wahatul Bahriyah (tempat padang pasir putih dan gurun pasir hitam yang indah), Farofro', dan Siwa. Yang mana ketiga daerah tersebut dialiri oleh uyun (mata air). Adapun ciri-ciri dari kawasan yang dialiri uyun yaitu adanya  kebun kurma yang dangkal-dangkal seperti yang terdapat di Siwa, itulah daerah yang dialiri uyun.

Sebenarnya terdapat 4 kawasan yang tidak diari Sungai Nil, yang keempat adalah kota Foyoum. Yang menjadikan sungai Nil mengalir ke Foyoum adalah berkat kincir air yang dibangun Nabi Yusuf As. Karena kincir air yang dibangunnya itulah, air Sungai Nil berhasil dialirkan dari pelosok-pelosok masuk ke daerah Foyoum. Foyoum termasuk 36 kampung yang dibangun dalam waktu 360 hari dengan kincir air oleh Nabi Yusuf As. atas perintah penguasa di zamannya.

4. Masjid Shohabah, Jantung Kota Syarm el-Syeikh
Kota Syarm el-Syeikh merupakan destinasi terakhir dalam perjalanan Armada Jelajah IKPM Cabang Kairo. Di dalamnya kita mengunjungi Masjid Shohabah, Alfu Lail wa Lailah dan Museum al-Fannar. Masjid Shohabah yang merupakan jantung kota Syarm el-Syeikh berada di kawasan Laut Merah. Bangunan masjid tersebut terdiri dari 3 arsitektur peradaban, yaitu arsitektur Dinasti Fathimiyah, Dinasti Mamluk dan Turki Usmani. Kawasan masjid tersebut merupakan kawasan syuq qodim (pasar lama) sepertihalnya Khan Khalili di Kairo. Ketika malam hari di jantung kota Syarm el-Syeikh dapat kita temui berbagai penampilan seperti tari sufi dan penampilan lainnya.
Doc. Masjid Shohabah di Syarm el-Syeikh

Pembangunan Masjid Shohabah ini di bawah komandan arsitek Fuad Taufiq. Dalam membangun jantung kota ini, Fuad Taufiq mengerahkan 3000 orang asykari (prajurit). Warna masjid yang didesian seperti yang kita lihat saat ini merupakan warna khas dari seragam para asykari.

Kawasan ini juga akrab disebut sebagai kawasan aladin. Di dalamnya terdapat pula alfu lailin wa lailah yang diambil namanya dari dongeng. Alfu lailin wa lailah merupakan kawasan berbagai macam cafe terbesar di kota ini, gaya bangunannya pun layaknya kartun di dongeng-dongeng biasanya. Selain itu terdapat pula Monumen al-Fannar yang tidak jauh dari jantung kota, yaitu monumen yang dibangun untuk mengingat para syahid saat peristiwa jatuhnya pesawat Crash Boeing 737 di kawasan tersebut pada tahun 2004. Terdapat nama-nama syahid yang dituliskan pada dinding monumen tepat di belakang gerombolan burung merpati yang melambangkan jiwa-jiwa yang terbang syahid ke langit. Gaya arsitektur prancis menjadi ciri khas momumen ini.
Doc. Monumen al-Fannar

Rep: Ummu
Red: Rima

Tidak ada komentar: