Perjalanan Sejarah dan Rohani (4): Kawasan Lembu Samiri dan Khalwat Nabi Musa As. di Jabal Sinai - IKPM KAIRO

Selasa, 01 Oktober 2019

Perjalanan Sejarah dan Rohani (4): Kawasan Lembu Samiri dan Khalwat Nabi Musa As. di Jabal Sinai

Di komplek ini terdapat tempat bersejarah berupa bekas patung lembu Samiri, bekas jejak kuda putih bercahaya yang dinaiki malaikat jibril serta makam Nabi Harun As. yang telah dijelaskan sebelumnya. 

Lembu Samiri merupakan sebuah patung anak sapi emas yang dibuat oleh seorang laki-laki yang pernah ditolong nabi Musa As, yaitu Samiri. Samiri membuat patung tersebut ketika Nabi Musa As berada di Tur Sina berkhalwat mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa kepada-Nya.

Doc. kawasan Tur Sinai

Selama 30 hari Nabi Musa berkhalwat di Jabal Musa, selama itu pula ia berpuasa, bertasbih, beristighfar memohon ampunan baginya dan kaumnya. Tanpa ditemani oleh siapapun kecuali ukaz (tongkat) miliknya yang bercahaya.

Dalam keadaan berpuasa, Nabi Musa memohonkan ampun untuk kaumnya, hingga ketika ia ingin bertemu dengan Allah, Nabi Musa menggosokkan ujung bunga kuning kecil di gigi dan mulutnya. Selang beberapa waktu, Nabi Musa didatangi malaikat dan disampaikan padanya bahwa Allah tidak menyukai hal yang dilakukannya tersebut. Mengapa? Karena bau mulut orang yang berpuasa adalah bau surga. Karena itulah Nabi Musa merasa bersalah dan malu untuk meminta lagi, hingga semakin keras pula ia memohon ampunan pada Allah Swt dengan menambah jumlah hari untuk berdiam diri di Jabal Sinai selama 10 hari lagi.

Sedangkan dalam masa 30 hari yang ditambah 10 hari, Bani Israel ditinggalkan bersama saudaranya Nabi Harun as. Selama selang waktu itu Bani Israel yang mempunyai kepribadian banyak berbicara, banyak bertanya, susah diatur, dan banyak tingkah; timbul dari pada diri mereka keragauan dan ketidakpercayaan pada Nabi Musa as. Kaum yang sebenarnya lurus namun sering membelok dari arah yang diarahkan Nabi Musa.

Doc. Lembu Samiri di Kawasan Tur Sinai

Singkat cerita, Samiri memasukan sebuah pemahaman kepada Bani Israel bahwa Musa adalah pembohong,  bahwa ia takkan kembali lagi. Hingga ia buatkan sebuah patung lembu terbuat dari emas yang dikumpulkan dari para penduduk. Patung tersebut mampu mengeluarkan suara dan bergerak maju mundur hingga Bani Israel ketakutan dan dibuatnya percaya atas seruan Samiri bahwa lembu itu adalah Tuhan. Hal demikian sebenarnya dikarenakan angin yang masuk ke dalam lubang patung yang dibuat seperti siulan hingga suaranya nyaris seperti suara lembu.

Nabi Harun kala itu sudah tak didengar oleh Bani Israel, hingga selesai masa khalwat Nabi Musa di Jabal Sinai pun Bani Israel masih dialam keadaan demikian. Tak ayal bagi Nabi Musa memohon pada Allah untuk memperingatkan kaumnya yang makin menyimpang dari ajaran-Nya. Peringatan Allah datang menghampiri Bani Israel, patung lembu tersebut terbakar dan tiada lagi unsur emas yang tersisa hingga mampu kita temui bekas patung lembu tersebut di kawasan Tur Sinai atau lebih terkenal dengan lembah San Catrine, karena bukan hanya tempat penting dan bersejarah bagi Islam namun bagi Kaum Yahudi dan Nasrani.

Nabi Musa As. Kalimallah dan Doanya

Kedudukan seseorang di hadapan Dzat yang dicintainya memiliki kedudukan yang berbeda satu sama lainnya. Seperti Nabi Ibrahim yang merupakan Kholilullah, karena hatinya menerima segala apa yang dilakukan oleh Allah baginya, yaitu dalam maqam taslim. Begitu pula Nabi Musa As. yang merupakan Kalimullah berada di keadaan di mana ia berbicara dengan Allah Swt. dan termasuk yang sering dikabulkan doanya; mulai dari berbagai permintaan dari Bani Israel dan keinginannya untuk melihat Tuhan dalam doanya. Begitupula ketika mi'raj Nabi Muhammad Saw, saat menerima perintah shalat 50 waktu yang akhirnya menjadi 5 waktu karena usulan dari Nabi Musa yang merupakan kalimullah.

Kembali ke masa di mana Nabi Musa As. menghadapi Bani Israel; Nabi Musa merupakan yang selalu didengarkan dan dikabulkan permohonannya oleh Allah Swt. Nabi Musa pun dikisahkan dalam al-Qur’an pernah meminta kepada Allah agar diberi kesempatan untuk melihatnya.

Selang beberapa waktu, doa nabi Musa As dikabulkan Allah Swt. Dibukakan baginya 7 pintu langit hingga arsy-Nya. Pada langit yang pertama turun para malaikat dengan berbagai macam bentuk, seperti malaikat yang sayapnya membentang dari kanan ke kiri dan lain sebagainya. Ketika malaikat yang menyerupai seperti apa yang disebutkan mendekati nabi Musa, cahaya yang awalnya besar ketika mendekat ke Nabi Musa semakin mengecil di pandangannya. Kemudia dibukakan baginya langit kedua, turun pula berbagai malaikat yang menyerupai pohon, hewan dan lain sebagainya. Begitupula langit yang ketiga hingga langit ke 7.

Semakin tinggi tingkatan langit yang dibukakan oleh Allah, Nabi Musa semakin tidak mampu memandangnya bahkan dikisahkan hingga pecah retina matanya dan tersungkur tak kuat dengan cahaya yang semakin besar. Adapun saat arsy-Nya dibukakan, bukan hanya Nabi Musa yang tak kuasa menahannya, melainkan gunung-gunung terpecah seketika hingga Nabi Musa tertutupi oleh reruntuhan gunung-gunung. Dikatakan pula hingga Nabi Musa meninggal dunia dan kemudian dihidupkan kembali oleh Allah Swt.  Karena Allah dengan kekuasaan apapun mampu melakukan yang Dia hendaki, Kun Fayakun. Wallahu A'lam bi al-Showwab.

Doc. Bekas Jejak Kaki Kuda Malaikat Jibril dan Di atasnya Terdapat Pohon Zaitun

Bekas Jejak Kaki Kuda Putih Malaikat Jibril
Selain patung Samiri dan makam Nabi Harun As. di kawasan Tur Sinai atau lebih terkenal dengan San Catrine ini terdapat pula bekas jejak kaki kuda putih yang dinaiki malaikat Jibril saat menghampiri Nabi Musa As. Hingga saat ini masih tersisa jejak kuda tersebut. Dapat dilihat 4 bekas pijakan kaki kuda yang terdapat di atas kawasan patung Samiri. Selain bekas tersebut, terpancar darinya mata air di tengah batu. Sebagaimana kita pahami dari Tur Sinai yang artinya perbukitan yang gersang, tak masuk akal dengan adanya mata air yang sampai saat ini masih kita temui dari bekas jejak kaki kuda tersebut. Tak hanya itu, bau wangi yang penulis dan kawan-kawan pahami dengan bau mint pun turut menyegarkan air yang sesekali dibasuhkan pada muka saat panasnya suhu.

Yang lebih membuat tercengang dan bertasbih akan kuasa Allah Swt, di perbukitan gersang dan bebatuan tersebut tumbuh di atasnya pohon Tin. Pohon tersebut tumbuh di sekitar bekas jejak kaki kuda yang dikisahkan ditunggangi malaikat Jibril, walau hanya tumbuh satu pohon.

Ketika menilik kembali Surah at-Tin ayat 1-3. ‘Wa al-tin wa al-zaitun, wa tur al-sin wa hadza al-balad al-amiin.’ Dalam ayat tersebut mampu kita temui tiga poin penting. Yang pertama buah Tin, Tur Sinai, dan balad al-aamiin (Negeri yang aman). Apakah Tur Sinai yang kita kunjungi saat ini merupakan yang disumphkan oleh Allah Swt. tersebut? Hal tersebut bisa dikatakan benar karena buah Tin pun tumbuh di Tur Sinai di sekitar bekas jejak kaki kuda Malaikat Jibril. Adapun balad al-amin, menurut tasfir al-Qurthubi, balad al amin terdapat di Palestina, yaitu di Baitul Maqdis, Masjid al-Aqsho. Sedangkan menurut Ibnu Kastir dalam tafsirnya, balad al-amin merupakan Mesir bertolak pada ayat udkhulu mishro aaminin. Hanya paparan sejarah yang bisa kita paparkan, untuk mana yang paling benar, Wallahu A'lam bi al-Showwab.
Doc. Tur Sinai dari ketinggian saat matahari terbit

Salah satu sebab yang mendukung bahwa Tur Sinai merupakan tempat dimana Nabi Musa As. melihat Allah Swt. yaitu bahwa Nabi Musa As. mengajak 70 orang yang paling sholeh dari Bani israel  untuk mengikutinya ke Jabal Musa dimana ia berdiam diri selama 40 hari. Hal tersebut dilakukan untuk meyakinkan Bani Isarel akan kekuasaan Allah. 70 orang yang paling shaleh tersebut meminta sesuatu aneh yang tidak bisa dijangkau oleh Nabi Musa As. Hingga Allah mengazab mereka dengan mejadikanya abu dan dikisahkan bahwa mereka dihidupkan kembali hingga akhirnya percaya kepada Allah melalui Nabi Musa As. lalu menyebarkan kebenaran kepada yang lainnya. Melalui hal demikianlah, 70 orang tersebut mengetahui Jabal Musa tempat di mana Nabi Musa berdiam diri hingga sampai kabarnya pada kita hari ini.

Rep: Ummu
Red: Rima

Tidak ada komentar: