Esensi Historikal Ulum al-Quran - IKPM KAIRO

Kamis, 07 November 2019

Esensi Historikal Ulum al-Quran


Al-Quran adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril dan merupakan sumber utama ajaran Islam. Al-Quran tidak hanya memuat petunjuk dan pedoman hubungan manusia dengan Tuhannya, akan tetapi juga memuat tentang keselarasan manusia dengan alam dan lingkungannya.

Doc. Google

Seperti yang kita ketahui, al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab dalam lafal dan uslubnya. Sebagai seorang pelajar muslim yang baik, kita dianjurkan untuk mempelajari dan memahami kandungan al-Quran untuk kemudian mengamalkannya dalam kehidupan kita. Untuk memahami al-Quran, sudah sepatutnya kita mendalami ilmu-ilmu yang bisa mengantarkan kita kepada inti pemahaman isi dan kandungan al-Quran. Ilmu-ilmu itulah yang disebut dengan Ulum al-Quran.

Sebelum mengetahui lebih dalam tentang Ulum al-Quran, seyogyanya kita mengetahui apa itu arti dan maksud dari Ulum al-Quran. Menurut bahasa, kata Ulum al-Quran berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Ulum dan al-Quran.

Kata Ulum menurut bahasa merupakan bentuk jamak dari ilm yang berarti ilmu-ilmu atau sejumlah ilmu. Ilmu juga dapat diartikan sebagai pengetahuan dan pemahaman akan suatu hal. Dengan demikian, kata ilm semakna dengan kata ma’rifah yang berarti pengetahuan dan ulum berarti sejumlah pengetahuan.

Tentang ilmu, banyak ulama yang berpendapat secara istilah. Menurut para hukama (filsuf dalam Ilmu Mantik), ilmu adalah hasil gambaran sesuatu yang dihasilkan dari akal, atau keterikatan jiwa dengan sesuatu menurut cara pengungkapannya. Sedangkan menurut Imam Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin: Ilmu adalah pengetahuan tentang Allah SWT dengan ayat-ayat Nya dan dengan perintah-perintahnya kepada hamba dan ciptaan-Nya yang memiliki suatu kekhususan sehingga banyak diketahui dalam berbagai perdebatan beserta kewajiban dalam masalah-masalah fikih dan lain sebagainya.

Sedangkan al-Quran adalah bentuk masdar dari kata kerja (fiil) qoroa yang berarti bacaan.
Menurut ulama Ushul Fiqh, lafal al-Quran adalah isim alam yang menunjukkan bahwa itu adalah lafal dari Allah SWT yang sedari awal memang digunakan sebagai nama kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan al-Quran menurut istilah antara lain merupakan firman Allah SWT yang yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang tertulis di dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan membacanya bernilai ibadah.

Setelah melalui banyak pembahasan diatas, dapat kita ketahui bahwa definisi Ulum al-Quran menurut bahasa adalah ilmu-ilmu yang memiliki hubungan dengan al-Quran dan membahas tentang segala yang bersangkutan dengannya. Sedangkan dari segi istilah, Ulum al-Quran merupakan pembahasan-pembahasan yang membahas segala hal yang bersangkutan dengan al-Quran secara umum dan menyeluruh; baik dari segi turunnya ayat, penertiban dan pengumpulannya, penulisan dan penafsirannya, kemujizatannya, serta nasikh dan mansukhnya.
Maka, bisa kita simpulkan bahwa Ulum al-Quran itu tidak hanya terdiri dari satu ilmu saja, melainkan banyak macam beserta cabang-cabangnya, seperti: Ilmu Rasm Ustmani, Ilmu Qiraat, Ilmu ghorib al-Quran, Ilmu I’jaz al-Quran, Ilmu Nasikh wa al-Mansukh, Ilmu Muhkam wa Mutasyabih, Ilmu Irab al-Quran, dan masih banyak lagi.

Syekh Abdul Azhim al-Zurqani dalam bukunya mengatakan bahwa Ulum al-Quran adalah pembahasan yang berkaitan dengan al-Quran dari segi urutan, pengumpulan, penulisan, qiraah, tafsir, kemukjizatan, nasikh dan mansukh, upaya dalam menepis segala hal yang menimbulkan keraguan terhadapnya, dan lain sebagainya.

Sedangkan pokok pembahasan pada Ulum al-Quran adalah al-Quran itu sendiri dari segala sisi yang ada padanya. Sebagai contoh, Ilmu Qiraat yang memiliki pokok bahasan dari segi lafal al-Quran dan bacaannya, dan Ilmu Tafsir yang memiliki pokok bahasan dari segi penjelasan dan makna yang terkandung pada al-Quran.

Fungsi dari Ulum al-Quran adalah mengetahui secara rinci tentang segala pembahasan yang terkandung dalam al-Quran, sebagai alat untuk menjaga dan mempertahankan al-Quran dari segala hal yang dapat menimbulkan keraguan terhadapnya, dan juga sebagai senjata utama para mufasir untuk menafsirkan al-Quran.
Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, Ulum al-Quran tidak lahir sekaligus, akan tetapi tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu, mengikuti pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta ide dan gagasan para ulama dalam ilmu ini.

Pada zaman Rasulullah SAW, Ulum al-Quran belum dikenal sebagai ilmu yang berdiri sendiri, yang tertulis dengan segala pembahasannya. Namun, itu tidak menghalangi para sahabat untuk memiliki pemahaman lebih terhadap Ulum al-Quran daripada ulama-ulama setelahnya. Mereka dapat memahami al-Quran dengan baik karena al-Quran turun dengan bahasa ibu mereka. Mereka pun dapat merujuk langsung kepada sumbernya, Rasulullah SAW.

Pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, banyak para penghafal al-Quran yang wafat. Melihat ini, umat Islam khawatir akan hilangnya para penghafal al-Quran dari dunia ini. Maka, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Quran yang masih tertulis dalam pelepah kurma, batang kayu, dan lain-lain dalam bentuk shuhuf. Pada saat itu belum ada penulisan nama surah, tanda ayat sajdah, dan tanda-tanda lainnya.

Kemudian pada zaman Khalifah Ustman bin Affan, pada saat agama Islam sudah menyebar luas di seantero negeri Syam dan Mesir, banyak ditemukan sengketa antar kaum muslim dikarenakan adanya ikhtilaf dalam standar bacaan al-Quran yang benar bagi mereka. Ustman bin Affan pun berinisiatif untuk membentuk panitia pengumpulan al-Quran dan membagikan mushaf induk yang berhasil dikodifikasi pada masa itu ke berbagai daerah kekuasaan Islam. Beliau memerintahkan kepada seluruh umat Islam agar berpegang pada mushaf tersebut. Dengan ini Khalifah Ustman bin Affan meletakkan dasar-dasar ilmu al-Quran dalam segi rasm, yang kemudian dikenal dengan Ilmu Rasm Ustmani.

Kemudian pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, banyak umat Islam dari bangsa non-Arab yang kurang benar dalam membaca al-Quran karena mereka sulit membedakan huruf-huruf hijaiyah yang mirip satu sama lain. Khalifah Ali bin Abi Thalib pun memerintahkan kepada Abu Aswad ad-Duali untuk menyusun kaidah-kaidah dalam bahasa Arab dan menaruh titik di huruf untuk membedakan huruf-huruf yang memiliki kemiripan dalam bentuknya. Ini merupakan peletakkan dasar Ilmu I’rab al-Quran.

Masa abad ke-2 Hijriyah bisa kita sebut sebagai masa penulisan Ulum al-Quran, sebagaimana mulai muncul banyak buku tentang ilmu-ilmu al-Quran. Para ulama lebih memprioritaskan Ilmu Tafsir karena fungsinya sebagai Umm Ulum al-Quran (Induk ilmu-ilmu al-Quran). Diantara ulama yang pertama menulis tentang tafsir adalah: Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, dan Waki bin Jarah. Mereka mengumpulkan perkataan-perkataan sahabat dan tabiin tentang tafsir al-Quran.

Pada abad ke-3 Hijriah, muncul seorang ulama yang sangat terkenal yaitu Ibnu Jarir at-Thobari (Wafat 310 H), mufasir pertama yang menentukan berbagai pendapat dan mentarjih antara ayat satu dengan yang lainnya. Beliau juga yang pertama mengemukakan i’rab dan istinbat (penggalian hukum dari al-Quran). Selain beliau, ada beberapa ulama yang mulai menulis dan membukukan ilmu-ilmu tentang al-Quran, antara lain: Ali al-Madini yang merupakan guru dari Imam Bukhari yang menulis tentang Asbab an-Nuzul, Abu Ubaid al-Qasim bin Salam yang menulis tentang Nasikh wa al-Mansukh, Abu Ja’far bin Zubair al-Andalusi yang menulis kitab dengan judul al-Burhan Fî Tartîbi Suwar al-Quran.

Pada abad ke-4 Hijriah, banyak ulama yang menulis dan meletakkan ilmu-ilmu tentang al-Quran, diantaranya adalah Abu bakar al-Sijistani yang menulis tentang Ilmu Gharib al-Quran, Abu Bakar Muhammad bin al-Qasim al-Anbari yang menulis tentang Ajaib Ulum al-Quran, Abu Hasan al-Asyari yang menulis kitab Al-Mukhtazan fi Ulum al-Quran, dan Muhammad Ibnu Ali al-Adfawi yang menulis kitab Al-Istighna Fî Ulum al-Quran.

Kemudian pada abad ke-5 Hijriah, muncul banyak ulama yang mencetuskan ilmu-ilmu baru tentang al-Quran. Diantaranya adalah: Ali bin Ibrahim bin Said al-Haufi yang menulis kitab dengan judul Al-Burhan Fî Ulum al-Quran dan Irab al-Quran.

Lalu pada abad ke-6 Hijriah, lahir Ilmu Mubhamat al-Quran yang ditulis oleh Imam Abu al-Qasim Abdurrahman as-Suhaili (wafat 581 H), dan ada juga Ulama Ibnu Jauzy (wafat 597 H) yang menulis kitab dengan judul Funun al-Afnan Fî Ulum al-Quran danAl-Mujtabâ Fî Ulum Tataalaqu bi al-Quran.

Pada abad ke-7 Hijriah, ada juga beberapa ulama yang menulis kitab yang berkenaan dengan Ulum al-Quran. Diantaranya adalah: Alamuddin al-Sakhawi (wafat 641 H) yang menulis kitab dengan judul Jamâl al-Qurâ, kemudian Ibn Abdussalam (wafat 660 H) yang menulis kitab dengan judul al-Isyarah ila al-îjâz Fî badhi Anwaal-Majâz, dan ada juga Abu Syamah (wafat 665 H) yang menulis kitab dengan judul al-Mursyid al-Wajîz Fîma Yataalaqu bi al-Quran al-Aziz.

Lalu pada abad ke-8 Hijriah, muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu al-Quran yang belum pernah ada pada zaman sebelum mereka tanpa meninggalkan ilmu-ilmu terdahulu. Diantaranya adalah Badruddin az-Zarkasyi (wafat 794 H) yang menulis kitab al-Burhan Fî Ulum al-Quran, dan ada juga Ibnu al-Qayim al-Jauziyyah (wafat 751 H) yang menulis kitab dengan judul At-Tibyan Fî Aqsâm al-Quran.

Dan pada abad ke-9 Hijriah, muncul beberapa ulama yang melanjutkan perkembangan ilmu-ilmu al-Quran, antara lain: Abu Abdillah Muhyiddin al-Kafiaji (wafat 879 H) yang menulis kitab dengan judul At-Tafsir Fî Qawâid al-Tafsir yang membahas tentang makna tafsir, takwil, al-Quran, surat, dan ayat. Juga membahas tentang persyaratan ayat-ayat al-Quran. Ada juga Imam Alamuddin al-Bulqini (wafat 824 H) yang menulis kitab dengan judul Mawaqi al-Ulum min Mawâqi al-Nujum. Menurut Imam Suyuthi, Imam al-Bulqini merupakan pelopor dalam mempersiapkan Ulum al-Quran dengan lengkap karena dalam kitab beliau mencakup 50 macam ilmu al-Quran.

Kita telah membahas panjang lebar perkembangan Ulum al-Quran di setiap masanya, lantas kapan Ulum al-Quran dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu yang tertulis dan terkodifikasikan dalam satu kitab? Dan siapakah peletak Ilmu tersebut?

Banyak ikhtilaf tentang kapan dan siapa yang menegaskan bahwa Ulum al-Quran menjadi sebuah disiplin ilmu seperti ilmu-ilmu lainnya. Kita akan meringkasnya dalam beberapa kalimat. Abad ke-3 Hijriah merupakan awal mula titik terang Ilmu Tafsir, lewat kitab yang dikarang oleh Imam Ibnu Jarir at-Thabari. Sedangkan istilah Ulum al-Quran sebagai disiplin ilmu telah ada sejak abad ke-5 Hijriah yang ditandai terbitnya kitab al-Burhan fî Ulum al-Quran karangan Imam al-Haufi. Lalu pengesahan Ulum al-Quran sebagai suatu disiplin ilmu yang sudah terkodifikasikan menjadi satu kitab yang diringkas dan mencakup segala ilmu yang ada pada al-Quran ada pada awal abad ke-10 Hijriah, ditandai dengan munculnya kitab Al-Itqan fî Ulum al-Quran karangan Imam Jalaluddin al-Suyuthi. Kitab tersebut merupakan ringkasan dari tiga guru Imam Suyuthi; Syekh Badruddin Muhyiddin Abdullah al-Zarkasyi, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kafiaji, dan Syekh Abdurrahman bin Umar al-Bulqini. Kitab milik al-Suyuthi ini pun menjadi kitab yang paling mencakup keseluruhan dari Ulum al-Quran dan belum pernah ditemukan sebelumnya.

Sepeninggal Imam Suyuthi, belum ditemukan buku yang membahas tentang Ulum al-Quran hingga abad ke 14, yaitu Syekh Thahir al-Jazairy menulis buku dengan judul at-Tibyan Fî Ulum al-Quran. Tidak berhenti sampai disana, penulisan Ulum al-Quran masih berlanjut hingga abad-abad selanjutnya. Ada Syekh Muhammad Ali Salamah yang menulis kitab dengan judul Manhaj al-Furqân Fî Ulum al-Quran, Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi dengan kitab al-Kalimât al-Hisan, Syekh Muhammad Hasanain Makhluf al-Adawi dengan kitab Unwân al-Bayân Fî Ulum al-Tibyan, dan lain-lain.

Di antara karangan terbesar ulama al-Azhar terkait Ulum al-Quran adalah kitab Manâhil Irfan fî Ulum al-Quran yang ditulis oleh Syekh Muhammad Abdul Azhim al-Zurqani. Dan pada tahun 1934 M pelajaran Ulum al-Quran menjadi pelajaran pokok bagi Fakultas Ushuluddin di Universitas al-Azhar, Kairo.


Reno Kuncoro

Tidak ada komentar: