IKPM Gelar Diskusi: Agama Sumber Perpecahan atau Perdamaian? - IKPM KAIRO

Senin, 18 November 2019

IKPM Gelar Diskusi: Agama Sumber Perpecahan atau Perdamaian?

Dalam upaya mengajak mahasiswa meningkatkan wawasan, membuka fikiran, serta menelisik lebih dalam akan permasalahan umat masa kini, IKPM Kairo gelar Diskusi Akbar 4 Kajian IKPM dengan tema bertajuk “Agama Sumber Perpecahan atau Perdamaian?” bertempat di aula sekretariat IKPM Kairo, Hay Asyir, Kamis (14/11) bersama dua panelis, Albi Tisnadi dan Fathan Fadhlurrahman.

Doc. Diskusi Akbar IKPM

Diskusi dimulai dengan panelis pertama, Albi Tisnadi. Albi mengatakan bahwasanya tema yang diangkat kali ini termasuk tema yang sangat luas, karena perlu diketahui agama apakah yang menjadi sumber perpecahan pun sumber perdamaian, karenanya beliau mengambil tema dari segi agama kristen dengan judul “Kegagalan Kristen Abad Pertengahan, Kegagalan Peradaban Dunia?”. Berbeda dengan panelis pertama yang mengangkat tema antar agama Kristen itu sendiri, panelis kedua, Fathan Fadhlurrahman kini mengangkat tema antar agama yaitu: “Meneliti Sumbu Perpecahan Melalui Konflik Agama di Myanmar”.

Moderator memberi waktu kepada para panelis perwakilan dari setiap kajian untuk memberikan tanggapan, pandangan menurut kaca masing-masing kajian. Keseruan mulai terasa ketika sesi pertanyaan panelis kepada panelis berlangsung. Acara tersebut diakhiri dengan tanggapan dan closing statement dari kedua pemantik. “Agama adalah syariat atau jalan dari Tuhan Yang Maha Esa, siapa yang menolak jalan ini, sudah menolak ketuhanan, siapa yang menolak ketuhanan, sudah menolak kemanusiaan dan siapa menolak kemanusiaan sudah merusak kedamaian” tutup Albi.

Diskusi yang berjalan kurang lebih 7 jam ini telah menarik banyak audiens, banyak juga yang hadir selain anggota keempat kajian tersebut. “Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk memaksimalkan fungsi 4 kajian (Ijaz, Sanad, Nun dan Ar-Razi) di IKPM tersebut, agar mampu berkolaborasi fikiran antara satu sama lain” ujar Adam (ketua IKPM Kairo).

Rep: Ilham
Red: Prima

Tidak ada komentar: