Implementasi KMI Sebagai Kurikulum Indonesia 2020 - IKPM KAIRO

Selasa, 19 November 2019

Implementasi KMI Sebagai Kurikulum Indonesia 2020

Oleh : Rafi’ah Husna Fatihah

Potret Ujian Tulis KMI (Kuliyyatul Al-Mualimin Al-Islamiyah)
Potret Ujian Tulis KMI (Kuliyyatul Al-Mualimin Al-Islamiyah) sumber: @gontorgraphy

Perubahan kurikulum atau sistem pendidikan yang sering terjadi merupakan problematika pendidikan nasional saat ini. Hingga guru-guru dan para siswa harus dibingungkan dengan buku pegangan belajar-mengajar yang ikut berubah. Belum lagi tentang kompetensi guru yang masih sering diragukan, serta sistem ujian yang sering mengundang perdebatan. Ditambah dengan makin rendahnya moral anak-anak didik dan hilangnya sopan santun terhadap guru.

Oleh karena itu, banyak lembaga pendidikan yang menciptakan kurikulum dan metode sendiri. Kurikulum atau sistem yang digunakan bagaikan jantung yang menggerakkan aktifitas kehidupan pendidikan. Layaknya sebuah pusaka, sebuah sistem harus dijaga dan dipegang nilai-nilainya. Sehingga seluruh kegiatan yang diadakan dapat berjalan sesuai dengan visi dan misinya.

Sejak 19 Desember 1936 Pondok Mondern Darussalam Gontor menerapkan sistem Kuliyyatu al-Mu’alimin al-Islamiyyah (KMI) yang berarti persemaian guru-guru Islam, sebagai kurikulum rujukan. KMI merupakan jenjang pendidikan yang bersifat independen. Kurikulum KMI disusun secara mandiri sesuai dengan visi pondok, prinsip penyusunannya mengutamakan pembentukan mental dan kepribadian serta keseimbangan antara pengetahuan agama dan umum.

Sistem KMI merupakan hasil ijtihad para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor; K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fananie, K.H. Imam Zarkasyi dalam rangka melakukan modernisasi terhadap sistem pendidikan pesantren sebagai budaya asli Indonesia. Hingga saat ini sistem KMI secara konsekuen dan konsisten, tetap berdiri tegak di tengah perubahan yang terjadi di dunia pendidikan.

Para pendiri Gontor berwasiat agar sistem ini tetap dipertahankan sampai kapan pun dan berharap berdirinya seribu Gontor di Indonesia. Bukan hanya harapan semata, pada tahun 2015 lebih dari 200 pondok pesantren di tanah air yang mengadopsi sistem KMI. Bahkan tidak sedikit pengelola lembaga pendidikan yang datang ke Gontor untuk mempelajari sistem pendidikannya, termasuk lembaga pendidikan dari luar negri. Beberapa lembaga pendidikan di Indonesia yang menggunakan sistem KMI adalah Pondok Pesantren Baitul Hidayah, Padang Panjang; Pondok Modern Al-Barakah, Nganjuk; Pondok Pesantren Al-Amien, Perenduan; Pondok Pesantren Mathlabul Ulum, Madura; Pondok Modern Tazakka, Batang.

KMI membuat sistem dan kurikulum sendiri yang muatannya terdiri dari 100 persen agama dan 100 persen umum. Belum lagi sistem asrama yang digunakan sangat berpengaruh terhadap kepribadian para santri. Karena selama 24 jam mereka berinteraksi langsung dengan para guru, yang secara tidak langsung memantau aktivitas dan akhlak mereka, hal ini tentu akan menciptakan miliu yang kondusif dalam belajar dan pembentukan moral.

Ujian di Gontor Putri
Pondok adalah ladang perjuangan, kehidupan didalamnya pun harus berjuang, salah satunya dalam belajar dan ujian. Ujian masuk, kenaikan kelas, hingga ujian kelulusannya tak pernah main-main.


Sejak dulu, telah ditanamkan pada setiap individunya bahwa tidak ada kemajuan tanpa keteladanan, tidak ada keteladanan tanpa qudwatun hasanah. Mata yang melihat, telinga yang mendengar dan hati yang merasakan seluruh dinamika kegiatan pondok yang bernilai pendidikan, membuat setiap pribadi di dalamnya menjadi munzirul qoum. Hal ini mencerminkan pentingnya peran guru dalam pendidikan karakter, karena setiap santri akan melihat kepada orang-orang di sekitarnya.

Selain sifatnya yang independen serta mengutamakan pembentukan mental dan kepribadian. Sistem pendidikan Gontor sangat menjunjung tinggi kedisiplinan. Disiplin dalam mengatur waktu dan ketepatan dalam menjalankan seluruh kegiatan, hal inilah yang menjadi salah satu keunggulannya.

Lain daripada itu, yang jarang ditemukan di lembaga pendidikan pada umumnya, seperti penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab dan Inggris, bukan hanya untuk  bahasa pengantar pelajaran dalam kelas, namun juga dinisbatkan sebagai bahasa pergaulan. Bahasa Arab dimaksudkan agar santri memiliki dasar yang kuat dalam belajar agama, mengingat dasar-dasar agama Islam banyak ditulis menggunakan bahasa Arab. Sedangkan bahasa Inggris merupakan alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum.

Sebagai lembaga pendidikan pencetak kader-kader pemimpin umat, Gontor menerapkan pendidikan integratif, yang memadukan tri pusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat); komprehensif, mengasah seluruh potensi kemanusiaan yang terdiri dari intelektualitas, spiritualitas, mentalitas serta fisik; dan mandiri, terlepas dari ikatan lembaga politik dan masyarakat manapun. Seluruh guru dan santrinya dilatih untuk mengatur pola kehidupan pesantren secara menyeluruh tanpa melibatkan orang lain.

Belum lagi proses yang ditempuh dalam mempersiapkan ujian juga sangatlah panjang. Dari mulai memilih guru terbaik dibidangnya untuk membuat soal, hingga pemeriksaan soal oleh majelis tashih. Sejak awal berdirinya, KMI memiliki majelis tashih yang bertugas mengoreksi soal-soal yang akan diujikan dalam ujian pertengahan tahun, akhir tahun, dan Ujian Nihai (UN). Mejelis ini beranggotakan orang-orang pilihan yang matang dalam ilmu pengetahuan dan memiliki kebijaksanaan, Master Teacher dari berbagai mata pelajaran yang diajarkan. Merekalah yang bertugas memeriksa tahap akhir sebelum soal-soal naik cetak dan diujikan.

Pada peringantan umurnya yang ke-90 tahun, Gontor mengadakan seminar berskala nasional yang dihadiri seluruh Pimpinan Pesantren dan Kepala Lembaga Pendidikan dari berbagai pelosok Nusantara. K.H Hasyim Muzadi sebagai pengisi acara menjelaskan bagaimana pesantren mendidik para santrinya, tidak hanya secara akademis, tapi juga secara mental dan spiritual, hingga tumbuh menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.

“Sekolah umum hanya menyajikan keilmuan saja, sedangkan pesantren menyajikan kehidupan. Maka pesantren harus menaungi sekolah dengan ruh kepesantrenannya, bukan sekolah yang menaungi pesantren.” Harapannya, sistem pendidikan yang terbukti kesuksesannya ini bisa diaplikasikan secara nasional. Dengan demikian, problematika pendidikan nasional di Indonesia bisa diatasi dengan tuntas dan melahirkan generasi tumpuan bangsa yang berkualitas.

*Disadur dari Majalah Cakrawala edisi 15

Tidak ada komentar: