Keberagaman Isi dan Kandungan al-Quran - IKPM KAIRO

Kamis, 07 November 2019

Keberagaman Isi dan Kandungan al-Quran


Secara etimologi kata al-Quran adalah bentuk masdar dari kata kerja (fiil); qoroa yang artinya membaca. Dengan perubahan bentuk kata atau tasrif qoroa-yaqrou-qurânan. Kata al-Quran dalam bentuk masdar berarti bacaan yang bermakna ism maful; dibaca. Kata tersebut selanjutnya digunakan untuk kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Doc. Google

Secara terminologi al-Quran merupakan kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ditulis di mushaf-mushaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.

Al-Quran turun dalam tiga tahap: tahap pertama, al-Quran diturunkan dan ditetapkan di  lauhul mahfudz. Kedua, dari lauhul mahfudz itu, al-Quran diturunkan ke baitul izzah di langit dunia secara sekaligus. Ketiga, al-Quran diturunkan dari baitul izzah kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur.

Al-Quran turun kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur sesuai kejadian dan kebutuhan yang ada. Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya yang mererima kitab samawi secara keseluruhan dalam satu waktu. Ulama berselisih pendapat tentang jangka waktu turunnya al-Quran. Namun, pendapat yang paling rajih adalah al-Quran diturunkan selama 23 tahun; 13 tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Diturunkan pertama kali pada awal kenabian, yakni tatkala Rasulullah SAW berusia 40 tahun, dan berakhir saat mendekati akhir hidup beliau.

Turunnya al-Quran secara berangsur-angsur memiliki banyak hikmah, diantaranya untuk meneguhkan hati Rasulullah SAW, memudahkan Rasulullah SAW dan umatnya dalam menghafal, memahami, menyampaikan, dan menyebarkan al-Quran. Turunnya al-Quran secara berangsur-angsur juga memudahkan umat islam dalam menjalankan syariat. Apabila perintah untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi kemungkaran dilakukan dalam satu waktu dengan jumlah yang banyak, tanpa adanya tahapan, tentu akan sulit bagi umat islam untuk menerima dan mengerjakannya.

Walaupun al-Quran turun secara berangsur-angsur, ia memiliki kesinambungan dan keterkaitan kuat satu sama lain baik dalam uslub ataupun makna. Ini menjadi bukti bahwa al-Quran merupakan kalam Allah. Sifat turunnya yang berangsur-angsur juga berperan dalam perwujudan nasakh dalam al-Quran. Seperti hukum yang maju secara bertahap dari mudah menjadi sulit; agar bisa sampai ke derajat sempurna. Atau dari sulit menjadi mudah; sebagai keringanan bagi umat islam. Semua tidak bisa terwujud jika al-Quran turun sekaligus dalam satu waktu.

Al-Quran memiliki banyak sekali nama, baik yang tertulis di dalam al-Quran itu sendiri atau sunah. Bahkan, para ulama tertarik untuk menulis kitab yang membahas nama-nama tersebut secara khusus. Seperti kitab Syarh Asmâ al-Kitâbil al-Azîz karya Ibnu al-Qayyim dan Asmâ al-Qurân fi al-Qurân karya Muhammad Jamil. Empat yang termasyhur dari banyaknya nama al-Quran adalah al-Kitab, al-Tanzil, al-Dzikr, dan al-Furqon.

Adapun sifat-sifat al-Quran adalah sebagai nasihat, obat dari segala penyakit hati, petunjuk, dan rahmat bagi alam semesta.

Selain al-Quran, umat Islam juga merujuk pada hadis nabawi dan hadis qudsi dalam berbagai permasalahan. Disini kami akan memaparkan perbedaan di antara ketiganya. 

Perbedaan al-Quran dengan hadis nabawi:
Al-Quran lafal dan maknanya bersumber dari Allah SWT, sedangkan hadis nabawi maknanya bersumber dari Allah dan lafalnya bersumber dari Rasulullah SAW.
Al-Quran merupakan mukjizat, sedangkan hadis nabawi bukan merupakan mukjizat.
Al-Quran terpelihara dari berbagai kesalahan dan tidak ada campur tangan manusia di dalamnya, sedangkan hadis nabawi tidak terpelihara penuh sebagaimana al-Quran.

Perbedaan al-Quran dengan hadis qudsi:
Al-Quran dan hadis qudsi maknanya sama-sama bersumber dari Allah SWT, akan tetapi lafal hadis qudsi bersumber dari Rasulullah SAW dan bukan merupakan mukjizat. (Ada banyak khilaf mengenai definisi hadis qudsi).
Seluruh isi al-Quran dinukil secara mutawatir sehingga kepastiannya mutlak. Sedangkan hadis qudsi kebanyakan adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan.

Adapun perbedaan antara hadis nabawi dan hadis qudsi, syekh Manna al-Qaththan mengatakan dalam kitab Mabahits fî ulûm al-Qurân bahwa hadis berdasarkan sifatnya ada dua macam:

Pertama, hadis yang bersifat tauqifi. Kandungan hadis tauqifi ini diterima oleh Rasulullah SAW melalui wahyu. Lalu beliau menjelaskannya kepada umatnya dengan kata-kata atau redaksi kalimat dari beliau sendiri. Hadis seperti ini disebut dengan hadis qudsi. Meski kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi dari sisi perkataan lebih layak dinisbahkan kepada Rasulullah SAW. Karena itu ia dinamakan dengan hadis, bukan kalamullah. Adapun disebut hadis qudsi atau hadis suci karena maknanya bersumber dari Allah.

Kedua, hadis yang bersifat taufiqi; hadis yang disimpulkan oleh Rasulullah berdasarkan pemahamannya terhadap al-Quran. Karena fungsi hadis ini untuk menjelaskan, menerangkan, dan mengambil kesimpulan dari al-Quran tentang berbagai permasalahan dengan perenungan dan ijtihad. Hadis ini disebut dengan hadis nabawi; maknanya dari Allah, lafalnya dari Rasulullah SAW.

Selanjutnya, kita juga mengenal kata sunah. Sunah secara bahasa bermakna tradisi, sedangkan hadis bermakna kalam. Biasanya ulama menggunakan term sunah untuk membahasakan suatu kebiasaan atau tradisi yang dilakukan banyak orang, baik Rasulullah SAW maupun para sahabat. Sedangkan hadis memiliki ruang definisi yang lebih spesifik. Ia adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perilaku, taqrir, dan lain sebagainya.

Al-Quran dan sunah berada dalam kedudukan yang sama jika ditinjau dari segi keberadaannya sebagai hujjah dalam syariat. Ketika kita mendapati teks dan makna yang kelihatannya bertentangan di antara keduanya, kita tidak boleh langsung meninggalkan sunah dengan alasan ia tidak lebih kuat kedudukannya. Namun, keduanya harus digabungkan kemudian dicari jalan keluarnya.

Berbicara tentang sunah, ia memiliki beberapa fungsi terhadap al-Quran. Fungsi yang pertama adalah sebagai bayan al-taqrir; menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam al-Quran. Fungsi selanjutnya adalah sebagai bayan al-tafsir; memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat al-Quran yang masih bersifat global, memberi batasan terhadap ayat yang bersifat mutlak, dan mengkhususkan ayat yang bersifat umum. Fungsi lainnya adalah sebagai bayan al-tasyri; mewujudkan suatu hukum atau ajaran yang tidak didapati dalam al-Quran. Bayan ini disebut juga dengan zaid ala al-kitab al-karim yang artinya tambahan atas al-Quran al-Karim.

Apabila kita ingin menguak petunjuk dan kemukjizatan al-Quran, maka kita tidak akan menemukan ujung dari pembahasan tersebut. Pasalnya, ilmu dan cakupan di dalamnya sangat dalam dan tidak dapat diraih seutuhnya oleh akal manusia. Berangkat dari sini, kami akan mencoba mengupas beberapa sisi kemukjizatan al-Quran:

Pertama, gaya bahasa, retorika, dan susunan kata dalam al-Quran yang tidak dapat kita temukan dalam kitab-kitab lainnya. Bahasa yang digunakan sangat indah dan tak ada tandingannya. Segala keunggulan dan kemuliaan menjadi bukti bahwasanya al-Quran merupakan kalam ilahi yang tidak ada campur tangan siapapun di dalamnya.

Kedua, pengumpulan rangkaiannya tidak cukup dalam satu waktu. Butuh waktu hingga puluhan tahun sampai ia menjadi sebuah kitab suci yang dinamakan al-Quran. Di dalamnya tertulis berbagai unsur yang dirangkai secara apik, rapi, dan nyaman dibaca seperti yang kita jumpai sekarang ini. Segala konflik, perdebatan, kekhawatiran, dapat merujuk kepada pedoman yang tidak diragukan kebenarannya ini.

Ketiga, membaca dan mendengarnya dapat membuat hati tenang. Butuh keahlian dan seni dalam membaca dan mendengar al-Quran untuk dapat meresapi dengan baik ayat-ayat yang mampu menembus relung hati. Makna-makna di dalamnya sangat dalam, pembaca dan pendengarnya akan selalu merasa cemas dengan azab-Nya, dan merasa tamak akan rahmat-Nya.

Al-Quran ibarat berlian yang mempunyai banyak sisi. Jika dipandang dari satu sisi, ia akan menampakkan keindahan tersendiri. Dilihat dari sisi yang lain, akan tampak keindahan yang lain. Berlian itu sendiri selalu berkelipan sepanjang zaman. Al-Quran akan selalu terjaga keindahannya dan relevan di segala tempat dan zaman. Ia akan selalu menjadi pedoman utama umat Islam di seluruh dunia. Semoga kita dapat bersanding dengan al-Quran di setiap langkah, dan mendapatkan syafaatnya kelak di hari akhir. Âmîn.

Wallahu alam bi al-shawâb.

Fathullah az Zuhdi

Tidak ada komentar: