Utusan Rasulullah Saw. untuk Menyebarkan Agama Islam - IKPM KAIRO

Jumat, 22 November 2019

Utusan Rasulullah Saw. untuk Menyebarkan Agama Islam

Bertepatan dengan jatuhnya Khaibar ke tangan kaum Muslimin, Ja‘far bersama rombongannya dari Habasyah 16 orang lelaki dan seorang perempuan, juga sejumlah orang yang selama itu tinggal di Yaman, datang menemui Rasulullah Saw, di Khaibar.  Rasulullah saw memberikan bagian dari rampasan perang, setelah meminta ijin dari kaum Muslimin yang ikut berperang.

Doc. Google

Ibnu Hisyam berkata: Ketika Ja‘far bin Abu Thalib datang kepada Rasulullah Saw, ia disambut oleh beliau dengan mencium di antara kedua matanya dan merangkulnya kemudian berkata :“Tak tahulah aku mana yang lebih menggembirakan jatuhnya Khaibar ataukah datangnya Ja‘far?“ Ketika hendak berangkat ke Madinah, Rasulullah Saw mengangkat seorang dari Anshar, Sawwab bin Ghazayyah dari suku Adi, sebagai wakilnya di Khaibar. Kemudian Sawwad membawa buah korma yang paling baik dan diberikannya kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw bertanya: “Apakah semua korma Khaibar seperti ini? Ia menjawab : Tidak wahai Rasulullah Saw. Kami tukarkan dua atau tiga gantang korma yang agak jelek dengan satu gantang korma yang bagus ini. Nabi saw bersabda : “Jangan kamu lakukan (cara itu). Jualah korma yang agak jelek itu terlebih dahulu kemudian dengan uang itu belilah korma yang bagus.”

Ekspedisi militer (sariyyah) dilakukan setelah perang Khaibar oleh Rasulullah Saw. kepada suku-suku badui di semenanjung Arab, juga kepada raja-raja dan penguasa demi mengemban tugas untuk menyeru mereka agar bersedia memeluk Islam. Rangkaian ekspedisi ini dilakukan pada tahun ketujuh hijriah dengan jumlah sepuluh misi yang dipimpin oleh beberapa sahabat Rasulullah Saw.

Berangkatlah enam utusan di hari yang sama, pada Bulan Muharam tahun ketujuh hijriah. Utusan pertama adalah Amr bin Umayyah Adh-Dhamiri r.a. yang diutus untuk menemui Raja Negus (Najasyi). Utusan kedua adalah Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi r.a. untuk menemui Raja Heraklius (Harqal), penguasa Romawi. Utusan selanjutnya adalah Abdullah bin Hudzafah r.a. As-Sahmi. Sahabat Rasulullah Saw. ini mendapatkan perintah untuk menghadap Kisra, penguasa Persia, guna menyerunya memeluk Islam. Kemudian, Harits bin Umair Al-Azdi r.a. menjadi utusan keempat yang diperintahkan untuk menghadap Gubernur Bashra yang berada di bawah kekuasaan Romawi bernama Syurahbil bin Amr Al-Ghassani.

Selain keempat utusan tersebut, Rasulullah Saw. juga mengirim  beberapa utusan lainnya untuk menemui penguasa yang tersebar di Kawasan Arab. Di samping itu, Rasulullah Saw juga banyak kedatangan delegasi dari berbagai penjuru yang menyatakan keislaman mereka. Di antara pembesar Arab yang memeluk Islam pada masa ini adalah Khalid bin Walid r.a. dan Amr bin Ash r.a. 

Pada bulan Zulkaidah tahun ke-7 Hijrah, Nabi Saw berangkat menuju Makkah guna menunaikan umrah qadha. Bulan Zulkaidah adalah bulan dilarangnya Rasulullah Saw masuk Makkah oleh kaum Musyrikin pada tahun sebelumnya. Ibnu Sa‘ad menyebutkan di dalam thabaqatnya bahwa orang-orang yang melaksanakan umrah pada bulan dan tahun ini bersama Rasulullah Saw sebanyak 2000 orang. Mereka terdiri dari ahlul Hudaibiyah dan orang-orang yang bergabung kepada mereka. Seluruh ahlul Hudaibiyah tidak ada yang ketinggalan kecuali yang mati atau syahid di Khaibar.

Ibnu Ishaq berkata, “Kaum Quraisy menyebarkan berita bohong, bahwa Nabi Saw dan para sahabatnya sedang menghadapi kesukaran, kesulitan dan kepayahan. Ia berkata: “Saat itu kaum Musyrikin Quraisy berbaris di pintu Darun-Nadwah, ingin melihat Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Setibanya di Makkah, Rasulullah Saw langsung masuk ke dalam masjid al-Haram, kemudian duduk menghamparkan burdahnya dan sambil mengangkat tangan kanannya lalu beliau berucap: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini dapat menyaksikan kekuatan yang datang dari hadhirat-Nya.“ Kemudian beliau mencium Hajar Aswad, lalu berjalan cepat bersama para sahabatnya mengelilingi Ka‘bah.

Dalam tawaf ini, beliau berlari kecil tiga keliling dan selebihnya berjalan biasa. Ibnu Abbas berkata, “orang-orang mengira bahwa hal itu bukan sunnah umum, Rasulullah Saw melakukan hal itu sekadar untuk membantah desas-desus yang disebarkan oleh orang-orang Quraisy tersebut. Tetapi pada haji wada’, Rasulullah Saw juga melakukannya sehingga hal ini menjadi sunnah. Dalam kesempatan ini, Nabi Saw juga melangsungkan pernikahan dengan Maimunah binti al-Harits. Dia katakan bahwa Nabi Saw melangsungkan pernikahannya dalam keadaan ihram (akad nikahnya saja). Tetapi riwayat lain mengatkaan setelah tahalul. Orang yang menikahkan adalah Abbas bin Abdul Muthallib, suami Ummul Fadhal saudaranya Maimunah.

Setelah tiga hari Rasulullah Saw tinggal di Makkah (waktu yang disepakati dalam perjanjian Hudaibiyah),orang-orang Musyrik datang kepada Ali seraya berkata, “Katakan kepada temanmu (Nabi Muhammad Saw) agar segera meninggalkan Makkah karena waktunya telah habis. Akhirnya Nabi Muhammad Saw keluar meninggalkan Makkah. Rasulullah Saw menyelenggarakan walimah (pesta) pernikahannya dengan Maimunah di tengah perjalanan menuju Madinah, di sebuah tempat bernama “Sarif“ dekat Tan‘im. Kemudian pada bulan Zulhijah berangkat ke Madinah.

Kajian al-Razi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: