Hikmah di Balik Pengembalaan Domba Rasulullah Saw. - IKPM KAIRO

Jumat, 13 Desember 2019

Hikmah di Balik Pengembalaan Domba Rasulullah Saw.

Selain perniagaan Rasulullah Saw. ke Syam yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup,  Rasulullah Saw. juga mengembala domba sebelum itu. Adapun penggembalaan domba Rasulullah Saw. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terdapat tiga hikmah yang terkait:

Doc. Google

1. Allah Swt. menghiasi Rasulullah Saw. dengan nurani dan naluri yang kuat. Abu Thalib menjaganya dengan penjagaan yang sempurna, ia menyayangi Nabi Muhammad saw. seperti ayah kandungnya. Namun Nabi Muhammad Saw. berusaha untuk meringankan semampunya beban ekonomi pamannya dengan membantunya berniaga dan menggembala domba.

Mungkin saja dengan membantu pamannya berniaga dan menggembala domba yang Allah pilihkan untuk Nabi Muhammad Saw. hanya berbuah sedikit saja daripada apa yang Abu Thalib lakukan. Namun dalam segi akhlak, merupakan usaha meningkatkan kesyukuran, berusaha keras, dan berbakti dalam muamalah.

2. Menggembala domba dikategorikan dengan penjelasan suatu bidang kehidupan yang Allah ta’ala ridhoi bagi hamba-Nya yang shaleh di dunia. Merupakan hal yang mudah atas kuasa Allah menyediakannya untuk Nabi Saw, Namun hikmah Ilahiyyah bagi kita agar mengetahui bahwa sebaik-baiknya harta seseorang yang dia raup dengan tangan kanannya dan mendapatkan hasilnya dari pekerjaannya untuk masyarakat dan kaumnya, dan seburuk-buruknya harta seseorang adalah yang ia dapatkan dari orang lain tanpa melakukan usaha dan jerih payah, juga tanpa pengorbanan dan manfaat bagi masyarakatnya.

3. Sesungguhnya seorang pendakwah tidak ada nilainya dalam masyarakat jika pekerjaan dan hartanya dari hasil dakwah atau hasil dari pemberian orang lain dan sedekah mereka. Begitupun seorang pendakwah Islam menyuruh manusia agar mendapatkan kehidupannya dari hasil usaha pribadi, sehingga tidak terjadi saling keterbalasan karena dunia. Karena pendakwah menyampaikan kebenaran bukan untuk mendapatkan bagian dari dunia.

Maknanya, selain apa yang Rasulullah Saw. khawatirkan akan hal ini, Allah telah menyiapkan hikmah dan sudah dijelaskan bahwa Allah tidak menginginkan sesuatu dari kehidupan Rasululah Saw. sebelum diutus menjadi Rasul yang berpengaruh negatif terhadap dakwahnya setelah diutus. Dalam kisah yang diceritakan Nabi Saw. tentang dirinya bahwa Allah menjaganya dari segala keburukan sejak ia kecil dan remaja, yang menerangkan kepada kita dua hakikat yang sangat penting:

Pertama, Sesungguhnya Rasulullah Saw. menjalani kehidupan seperti manusia biasa lainnya. Kedua, Allah menjaga Rasulullah Saw. dari segala bentuk penyimpangan.

Tim Kajian Sirah, Arrazi IKPM Cabang Kairo
Sumber: Kitab Fiqhu Sirah karya Syekh Ramadhan al-Buthi

Tidak ada komentar: