Perniagaan Pertama Rasulullah Saw. ke Syam dan Pertemuannya dengan Bahira - IKPM KAIRO

Jumat, 06 Desember 2019

Perniagaan Pertama Rasulullah Saw. ke Syam dan Pertemuannya dengan Bahira

Ketika berusia 12 tahun, Nabi Muhammad Saw. (Saat itu belum menjadi Nabi) diajak oleh pamannya, Abu Thalib untuk berdagang ke Syam. Dalam sebagian riwayat, Nabi Muhammad Saw. lah yang berkeinginan untuk ikut pergi bersama pamannya. Abu Thalib tak kuasa meninggalkannya dan berkata, “Demi Allah aku harus membawanya pergi bersamaku. Jangan sampai ia berpisah denganku.” Ia lalu mengangkat tubuh Nabi Muhammad Saw. dan mendudukkannya di atas hewan tunggangan.

Doc. Google

Kafilah dagang dari Quraisy pun menempuh perjalanan darat menuju Syam. Ketika kafilah mereka sampai di Bushra, sebuah kawasan antara Syam dan Hijaz, mereka bertemu dengan seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah orang yang paling tahu tentang Nasrani. 
Pada tahun itu kafilah dagang Abu Thalib melewati Bahira seperti biasanya. Tapi tak seperti tahun-tahun sebelumnya—dimana Bahira enggan berbicara pada mereka-. Tahun ini amat jauh berbeda, ia menjamu kafilah dagang Quraisy dengan makanan yang banyak. Menurut sebagian ulama, Bahira melakukan itu lantaran ia melihat Nabi Muhammad bersama kafilah dagang Abu Thalib, dan awan menaungi beliau diantara mereka. Mereka berhenti di bawah pohon rindang dekat Bahira. Ia melihat ranting-ranting pohon merunduk luluh menaungi Rasulullah Saw.

Bahira berkata,”Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua ikut hadir.” Lalu mereka hadir ke rumah ibadah Bahira, kecuali mereka tinggalkan Rasulullah Saw. Tetapi Bahira kembali berkata-mengingatkan, ”Aku ingatkan untuk semua orang hadir dalam jamuan ini.” Setelah itu Bahira datang menemui Rasulullah Saw, mendekapnya dan menundukannya bersama rombongan. Bahira memperhatikan Rasulullah Saw. dengan teliti untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kita-kitab suci terdahulu.

Dari hasil penglihatannya, ia dapatkan sifat kenabian pada Rasulullah Saw. ketika itu. Tatkala mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar. Sementara Bahira mendekati Rasulullah Saw (pada saat itu belum menjadi Nabi) dan bertanya, “Wahai anak muda, dengan menyebut al-Lata dan Uzza aku menanyakan pada engkau dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku." Bahira mengatakan demikian karena Bahira mendengar bahwa kaum Quraisy bersumpah dengan Latta dan Uzza.

Ada yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. menjawab “Janganlah sekali-kali engkau bertanya dengan menyebut nama mereka. Demi Allah tak ada yang aku benci selain mereka.” Lalu Bahira bersumpah dengan nama Allah, “Demi Allah…” dan beliau Saw. mempersilahkan Bahira bertanya. Satu persatu pertanyaan Bahira beliau jawab, dan setiap jawabannya sesuai dengan pengetahuan Bahira perihal kenabian. Kemudian Bahira melihat punggung Rasulullah Saw. dan ia melihat tanda kenabian diantara kedua pundaknya (tanda kenabian Rasulullah Saw. seperti bekas bekam), lalu ia mencium tanda itu.

Setelah itu, Bahira bertanya kepada Abu Thalib, “Apakah anak muda ini anakmu?”
“Ya, Benar” jawab Abu Thalib (Abu Thalib menganggap Nabi Muhammad Saw. anaknya karena besarnya cintanya dengan Nabi Muhammad).
“Tidak!” Bahira melanjutkan, “dia bukanlah anakmu. Anak muda ini sepatutnya tidak memiliki ayah yang masih hidup.”
“Ia dia adalah anak saudaraku.” kata Abu Thalib
“Katakan padaku apa yang dilakukan ayahnya?” tanya Bahira.
“Dia telah meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya.” Bahira berkata, “Anda benar, pulang ke negerimu dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya disini, pasti akan dijahatinya Sesungguhnya anak saudaramu akan menjadi orang besar. Kemudian Abu Thalib dengan cepat membawa Nabi Muhammad remaja kembali ke Makkah, dan menjaganya.

Keterangan:
QS. Al-Baqarah [2] : 146

“Orang-orang yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”

Perkataan Bahira tentang Rasulullah Saw. adalah hadits yang diriwayatkan oleh ulama sirah pada umumnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadits Abu Musa al-Asy’ari bahwasannya para ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani mempunyai pengetahuan atas diutusnya Nabi Saw dan pengetahuan tentang tanda-tanda kenabian. Itu telah tertulis di dalam kitab Taurat dan Injil dengan kabar diutusnya Rasulullah Saw. penjelasan bukti-buktinya, dan sifat-sifatnya.


Tim Kajian Sirah, Arrazi IKPM Cabang Kairo
Sumber: Kitab Fiqhu Sirah karya Syekh Ramadhan al-Buthi

Tidak ada komentar: