Pernikahan Rasulullah Saw. dengan Khadijah Ra. dan Bantahan Terhadap Orientalis - IKPM KAIRO

Jumat, 20 Desember 2019

Pernikahan Rasulullah Saw. dengan Khadijah Ra. dan Bantahan Terhadap Orientalis

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Atsir dan Ibnu Hisyam, Khadijah ra. adalah seorang saudagar wanita yang kaya raya dan terpandang. Sebagian pedagang Arab ketika itu yang meniagakan hartanya, dan Khadijah memberi sebagian keuntungan sebagai imbalan.

Doc. Google

Mendengar kejujuran dan keluhuran akhlak Rasulullah Saw. Khadijah pun langsung mengirim pembantunya untuk meminta Muhammad berdagang ke Syam. Singkat cerita, jumlah harta (dagangan)  yang dititipkan Kahdijah ra. Kepada Rasulullah Saw. melebihi jumlah yang biasa dititipkan kepada pedagang lain. Belum lagi yang dititipkan kepada Maisarah, sealah seorang pembantu Khadijah yang diminta untuk menemani Rasulullah Saw.

Dengan senang hati, Rasulullah menerima tawaran Khadijah. Ditemani Maisarah, beliau pun berangkat ke Syam untuk memperdagangkan harta Khadijah. Seperti yang sudah diduga, Rasulullah berhasil menjual dagangan Khadijah dengan baik dan kembali ke Makkah membawa keuntungan yang berlipta ganda.

Setibanya di Makkah, Maisarah menceritakan semua kelebihan Muhammad Saw. di hadapan majikannya, Khadijah. Khadijah sangat mengagumi keamanahan Rasulullah Saw. dan dia merasa bahwa Rasulullah membawa keberkahan bagi dirinya (hartanya). Maka Khadijah mengutus Nafisah binti Maniyyah untuk menyampaikan pesan kepada keluarga Muhammad Saw, bahwa ia menawarkan diri untuk diperistri olehnya. Singkat cerita, Rasulullah pun menerima. Ketersedian beliau disampaikan melalui paman beliau, maka paman Rasulullah yang bernama Amru bin Asad menkhitbah Khadijah untuk Rasulullah Saw. Lantas menikahlah Rasullulah Saw. dengan Sayyidah Khadijah dalam usia beliau 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Khadijah sudah pernah menikah. Suami pertamanya bernama Atiq bin Aidz At-Tamimi, dan setelahnya Abu Halah At-Tamimi atau Hind bin Zararah.

Renungan:
Perdagangan Rasulullah dengan harta Khadijah adalah rangkaian pencarian nafkah, melanjutkan pengembalaan domba yang pernah dimulai oleh beliau. Adapun hikmah di balik itu semua sudah dijelaskan  kedudukan yang sangat istimewa di artikel sebelumnya (Hikmah di balik pengembalaan domba Rasulullah Saw) http://www.ikpmkairo.com/2019/12/hikmah-di-balik-pengembalaan-domba.html?m=1

Kedudukan Khadijah di kehidupan RasulullahSaw.

Doc. Google

Dalam Shahihaini, Khadijah ditetapkan sebagai wanita terbaik sepanjang sejarah/zaman. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Ali pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Sebaik-baik perempuannya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik permepuannya adalah Khadijah binti Khuawailid.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah ra. Bahwa ia berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada isteri-isteri Nabi Saw. Melebihi cemburuku kepada Khadijah ra. Padahal, aku tidak pernah melihatnya. Dan dia berkata, jika Rasulullah menyembelih seekor kambing, beliau berkata, ‘Bagikan dagingnya kepada saudara-saudara Khadijah.’ Aisyah berkata lagi, suatu hari aku pernah marah (kesal) kepada Rasulullah, ‘Khadijah!?’ Maka Rasulullah menjawab ‘Sesungguhnya aku telah diberi karunia berupa cinta kepadanya.’” (Muttafaqun alaihi)

Imam Ahmad dan Al-Thabrani meriwayatkan dari jalur Masruq dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Saw. Hampir tidak pernah keluar meninggalkan rumah kecuali setelah menyebut nama Khadijah sambil memuji-mujinya. Suatu hari aku pernah menyebut nama Khadijah. Karena cemburu, aku langsung menukas, ‘Bukankah dia hanya seorang wanita tua, dan Allah telah telah menggantinya dengan orang lebih baik darinya? Rasulullah Saw. Marah. Beliau bersabda, ‘Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika semua orang kufur. Dia mempercayaiku ketika semua orang dusta. Dia membantuku dengan hartanya ketika semua orang menolak untuk membantuku. Dan Allah telah menganugerahiku keturunan melalui dia, bukan dari isteriku yang lain.’"

Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah menegaskan beberapa hal penting. Utamanya, Rasulullah Saw. bukanlah pemuja kesenangan jasmani maupun harta. Andaikata Rasulullah seperti itu, sebagaimana para pemuda Quraisy kala itu, tentu beliau akan mencari istri yang lebih muda dari Khadijah atau setidaknya bukan perempuan yang lebih tua dari beliau.

Rasulullah begitu mencintai Khadijah bukan karena penampilan fisik atau hartanya, melainkan karena kemuliaannya sebagai seorang perempuan Quraisy dan kedudukannya yang terpandang di kalangan kaumnya.

Tidaklah keliru jika Khdijah diijuluki Al-Afifah Al-Thahirah. Pernikahan Rasulullah dan Khadijah langgeng sampai Khadijah dijemput ajal dalam usia 65 tahun. Adapun Rasulullah kala itu berusia 50 tahun. Sepanjang hidup berumah tangga dengan Khadijah, tak sedikit pun terbesit niat Rasulullah Saw. untuk menikahi perempuan lain. Padahal dalam rentang waktu usia 20 samapi 50 tahun, seorang laki-laki memilki kecenderungan menyukai wanita dan beristeri lebih dari satu.

Tetapi Rasulullah mempu melampaui kecenderungan teresebut. Tak ada pikiran untuk memadu Khadijah dengan wanita lain, baik dari kelangan mereka maupun dari hamba sahaya. Kalau saja Rasulullah berkeinginan, bisa saja dengan mudah mendapatan istri. Tak perlu merasa aneh karena pada saat itu, laki-laki dewasa banyak yang beristri lebih dari satu. Lebih hebat lagi, Rasulullah justru lebih memilih menikah dengan Khadiah, seorang janda.

Kenyataan ini mematahkan semu tuduhan palsu yang dilontarkan mereka yang membenci Islam, baik dari kalangan orientalis maupun antek-anteknya. Sebagaimana difirmankan Allah Swt, mereka adalah orang-orang yang “berteriak-teriak kepada binatang hanya akan mendengar penggilan dan seruan belaka.”

Telah diketahui bahwa, oreintalis selalu berusaha membengkokkan ajaran Islam. Dari waktu ke waktu, mereka menghina Islam sambil meraup dolar. Begitupula Antek-anteknya yang juga menyerang Islam dangan membabibuta. Apapun yang mereka lakukan akan sia-sia; serangan yang mereka lancarkan hanyalah seperti sebuah lebel yang direkatkan di dada agar semua orang mengetahui di pihak siapa mereka sesungguhnya berada, dengan melihat lebel itu saja, sebenarnya semua orang mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak pantas angkat bicara soal sejarah Islam. Hal tu disebabkan, mereka menghamba pada pemikiran penjajah dari kalangan orientalis.

Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah merupakan salah satu bagian paling mudah untuk dijadikan bukti kebenaran Rasulullah bagi siapapun yang mengaku muslim dan memahami agamanya dengan benar, dan mau mempelajari sirah nabawiyah dengan tulus, bukan seperti yang dilakukan para musuh muslim.

Mereka selalu berusaha mengggambarkan Rasulullah sebagai laki-laki yang haus akan seks dan pemuja kenikmatan jasmani belaka. Padahal, pernikahan Rasulullah Saw. dengan Khadijah ra. berbanding terbalik dengan hal yang dituduhkan para musuh Allah itu. Seorang pelaku seks tidak akan sanggup menjaga kehormatan diri sampai usia 25 tahun di tengah segala bentuk kajahatan dan kebejatan moral kaum Jahiliyah Arab pada saat itu.

Di lingkungan yang tidak kondusif seperti itu, pasti seorang pelaku seks akan langsung tenggelam dalam kubangan dekadesi moral yang mengelilinginya. Laki-laki pemuja seks tidak akan mau menikahi janda, apalagi usia sang istri hampir dua kali lebih tua. Kalaupun ada, mungkin ia masih melirik pintu untuk melakukan perselingkuhan terbuka sangat lebar, tetapi itu tidak dilakukan Rasulullah Saw.

Adapun pernikahan Rasulullah setelah ditinggal Khadijah, baik dengan Aisyah maupun dengan istri-istri yang lain, memiliki latar belakang sendiri-sendiri. Dengan memahami hikmah di balik itu semua, kepercayaan umat Islam akan keagungan pribadi Rasulullah dan keluhuran budi pekerti beliau akan semakin bertambah. Yang jelas, pernikahan beliau itu bukanlah ajang melampiaskan nafsu belaka karena jika hal itu yang menjadi alasan beliau untuk melakukan poligami, seharusnya itu dilakukan ketika masih muda. Apalagi ketika masih muda nan perkasa, Rasulullah belum disibukkan dengan urusan dakwah.

Menurut kami, pembelaan terhadap niat baik pernikahan Rasulullah tak perlu dibuat berkepanjangan, sebab umat Islam sediri tidak pernah menganggap pernikahan beliau sebagai masalah besar yang harus dicari-cari aibnya. Semua perdebatan dalam masalah ini sebenarnya memuat berbagai tuduhan musuh-musuh Islam saja. Berapa banyak usaha musuh-musuh Islam untuk menyangkal kebenaran agama ini. Strateginya menjadikan kita bersilang pendapat dan menghabiskan energi untuk berdebat.

Tim Kajian Arrazi IKPM Cabang Kairo
Sumber: Fiqhu Sirah Karya Syekh Ramadhan al-Buthi

Tidak ada komentar: