Sistem Pendidikan Sekolah Kedokteran Bimaristan di Abad 8-13 (Pembelajaran Anatomi sebagai contoh) - IKPM KAIRO

Rabu, 04 Desember 2019

Sistem Pendidikan Sekolah Kedokteran Bimaristan di Abad 8-13 (Pembelajaran Anatomi sebagai contoh)


Pendahuluan
Sistem pendidikan yang baik merupakan sebuah keniscayaan bagi sebuah bangsa yang berperadaban unggul. Dengannya pula, kebahagiaan, kejayaan dan kemakmuran suatu komunitas masyarakat dapat diukur dengan penelitian lapangan yang kredibel. Faktanya menunjukkan bahwa suatu bangsa yang memiliki sistem pendidikan yang baik berbanding lurus dengan tingkat kebahagian yang tinggi dan baik pula seperti yang ada di negara Finlandia.

Sebelum dikenal sebagai sekolah kedokteran, Bimaristan berfungsi sebagai rumah sakit pada masa dinasti Abbasiyah dan sekitarnya (800-1258). Sebagai salah satu pusat pendidikan yang melahirkan mayoritas pakar kedokteran di wilayah dinasti Abbasiyah, maka bukanlah suatu yang mengherankan jika seorang sejarawan yang ingin mengulas tentang perkembangan ilmu kedokteran di timur menganbil istilah Bimaristan-lah yang paling banyak disebutkan.

Berdasarkan fakta tersebut, muncul beberapa pertanyaan yang penulis coba untuk menjawabnya seperti: bagaiamana latar belakang pendirian bimaristan sehingga menjadi sekolah kedokteran? mengapa bisa menjadi pusat pendidikan? Apa peranan dan fungsinya? Apakah ilmu kedokteran tetap dapat berkembang tanpa kehadiran bimaristan? Apakah ada konvergensi antara sistem pendidikan yang diterapkan di bimaristan dengan sistem yang telah umum diterapkan di institusi pendidikan kedokteran abad 20 M?

Dr. Sharif Kaf Al-Ghazzal dalam bukunya “the origin of Bimaristans in Islamic medical history”, adalah salah satu contoh buku yang mengulas Bimaristan  secara umum. Namun, dari sekian banyak akademisi yang membahas tentang Bimaristan, mereka hanya menambah sedikit keterangan terkait sistem pendidikan yang di praktikkan di sekolah kedokteran tersebut, penulis akan menuliskan dan memaparkan kajian yang lebih dalam terhadap sistem pendidikan Bimaristan  sebagai sekolah kedokteran.



Definisi pendidikan
Pengertian pendidikan menurut UUD 1945 No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional. Dalam pasal pertama dan keempat, disebutkan bahwa pendidikan adalah unsur sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.

Img. Bimaristan Doc. Google

Bimaristan sebagai sekolah kedokteran
Perlu diketahui sebelumnya bahwa hakikat dan fungsi utama dari Bimaristan adalah sebagai rumah sakit umum yang difasilitasi secara cuma-cuma oleh khalifah bagi para warganya yang membutuhkan pelayanan kesehatan.  Bimaristan juga diambil dari Bahasa Persia, yaitu “Bimar” yang berarti “orang sakit” dan “satan” yang berarti “tempat atau rumah”.

Sehingga bisa dimaknai dengan “Rumah sakit”. Bimaristan berubah nama menjadi “Mustasyfa” semenjak didirikan Mustasyfa Abi Za’bal di Kairo 1825 M hingga menjadi sebagai pusat pendidikan kedokteran yang paling diminati di Dinasti Abasiyah.

Menurut keterangan Taqiyuddin al-Maqrizi menjelaskan bahwasnya Khalifah Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Abasiyah (705-715) adalah khalifah pertama yang memprakarsai adanya Bimaristan pada tahun 706M.

Namun Kamal as-Samura’i dalam kitabnya menjelaskan bahwa Bimaristaan tersebut merupakan tiruan dari Bimaristan yang terdapat di judishapur dan Iskandariah. Tetapi penulis lebih mempercayai Walid bin Abdul Malik sebagai pendiri pertama Bimaristan.

Bimaristan memiliki sistem yang sangat rapi dan sistematis sebagaimana yang telah umum diterapkan pada rumah sakit yang umum kita jumpai saat ini. Seperti halnya penyediaan ruang ruang kusus untuk setiap penanganan penyakit dan spesialisasi tertentu. Salah satu hal yang menjadi ciri khas bimaristan adalah tersedianya bangunan khusus bagi setiap pasien laki-laki dan perempuan. Para perawat perempuan pun hanya ditugaskan untuk para pasien perempuan saja atau sebaliknya.

Para dokter bukan hanya bekerja untuk pelayaanan kesehatan saja, tapi juga menjadi guru bagi murid murid yang datang ke bimaristan untuk belajar ilmu kedokteran. Setelah murid bimaristan menyelesaikan studinya, mereka diwajibkan untuk mendatangai pimpinan asosiasi bimaristan pusat dia belajar di wilayahnya masing-masing untuk mendapatkan ijazah legalitas dalam melakukan praktik kedokteran.

Secara umum, beberapa poin penting yang menjadi keunggulan dari sistem pendidikan Bimaristan antara lain:

-Penggunaan diskusi sebagai metode belajar
Menulis ulang kitab karangan para gurunya.
-Kewajiban para murid unruk menguasai Bahasa arab sebagai Bahasa utama suatu ilmu
-Kewajiban para murid untuk mengarang suatu kitab yang berisikan tentang pengetahuan dan pengalaman di bidang kedokteran.
-Pendalaman materi yang disertai dengan penelitian dan observasi.
-Penggunaan metode observasi kualitatif dan komparatif.
-Kewajiban para murid untuk melakukan eksperimen.

Pembelajaran anatomi di bimaristan
Ilmu anatomi diangga sebagai sebuah pintu masuk dalam mempelajari ilmu kedokteran, Anatomi: attasyrih, dalam Bahasa yunani artinya memotong,  Abu Qosim Az-Zahrowi pembedahan adalah metode terakhir dalam pengobatan

Pembelajaran anatomi di bimaristan ada 2 metode:
-literatur klasik
-praktik pembedahan

Bimaristan memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu kedokteran, karena Bimaristan adalah pondasi ilmu pengetahuan saat ini, dan juga merupakan replika rumah sakit modern.  Urgensi ilmu anatomi dalam kedokteran menjadikan ilmu ini sangat penting dipelajari. Begitupun di Bimaristan, ilmu ini dipelajari oleh para muridnya. Anatomi penting kaitannya dengan prosedur yang dilakukan oleh para dokter dalam melakukan prakteknya.

Metode pengajaran anatomi di Bimaristan:

1. Merujuk pada literature klasik:
-Taqdimah al-Ma’rifah (Hippocrates)
-Hippocratic Corpus (Galenus)
-Al Hawi fi al-Tib (ar Razi)
-Kitab al Manshuri (Ibnu Abbas)
-Al Qanun fi al Tib (Ibnu Sina)

2. Praktik pembedahan langsung
Beberapa rujukan yang dipakai menjadi bukti bahwa pembedahan bukan hanya dilakukan di tunuh hewan, tapi juga manusia. Pembedahan tubuh manusia dalam Islam dianggap oleh pakar kedokteran Timur untuk membuktikan keagungan ciptaan Allah, berhubungan dengan tidak adanya larangan atas legalitas tentang pembedahan jasad manusia.

Ibnu Nafis berpendapat bahwa struktur anatomi manusia dan hewan tidaklah sama, hal ini juga yang menjadi kesalahan Hippocrates dan Galenus pada masanya. Ibnu Nafis mendapatkan gelar sebagai penemu sistem sirkulasi darah kecil yang menggunakan teknik mutakhir pada zamannya.  Pengajaran anatomi semakin gencar setelah kitab al Tashrif liman ‘ajaza ‘an al Ta’lif karya az Zahrowi pada awawl abad 11 M.

Pengajaran ilmu Anatomi di Bimaristan mencapai puncak pada akhir Dinasti Abbasiyah dengan disebarluaskannya kitab anatomi berwarna karya Mansyur Ibn Ilyas berjudul Tasyrih al Manshuri  yang dipublikasikan full color pada 2010.

Penutup
Bimaristan sebagai institusi Kedokteran pada abad pertengahan  merupakan replika awal dari institusi pendidikan abad 21. Bimaristan menjadi pondasi awal peradaban unggul dan perkembangan ilmu yang signifikan. Hal ini perlu mendapat timbal balik dari generasi sekarang dengan menimba ilmu dan khazanah seluas-luasnya.




Tidak ada komentar: