Khulwah Rasulullah Saw. di Gua Hira' dan Proses Turunnya Wahyu - IKPM KAIRO

Jumat, 31 Januari 2020

Khulwah Rasulullah Saw. di Gua Hira' dan Proses Turunnya Wahyu

Makna Khulwah Rasulullah di Gua Hira'

Ketika Nabi Muhammad Saw. berumur 40 tahun, beliau memiliki kecenderungan untuk mengasingkan diri guna beribadah dan berkhulwah di Gua Hira sepanjang malam. Hingga sekitar sebulan, beliau kembali ke rumah sebentar untuk mengambil bekal pengasingan yang selanjutnya. Lalu kembali lagi ke Gua Hira. Seperti inilah yang beliau lakukan hngga datang wahyu kepadanya di pertengahan pengasingannya.

Doc. Google

Sesungguhnya kecenderungan Nabi Muhammad Saw. untuk berkhulwah dan menyendiri di Gua Hira' sebelum pengutusannya sebagai seorang Rasul; mengandung makna yang sangat mendalam dan memberi implikasi yang begitu penting kepada seluruh penghidupan umat Islam dan agama Islam khususnya.

Amalan ini membuktikan bahwa setiap muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali jika ia melakukan pengasingan diri dari keramain dunia, menilai dan memperhatikan keaguangan Allah. Meskipun ia telah melakukan ibadah-ibadah dengan berbagai macamnya. Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat berbagai penyakit yang tidak akan dapat diobati kecuali dengan jalan mengasingkan diri, memperhitungkan dan menghisab diri sendiri dalam suatu waktu dan tempat yang sunyi. Penyakit-penyakit itu adalah; sombong, ujub dan dengki, riya' dan cinta terhadap dunia.

Disamping pentingnya berkhulwah, juga harus diperhatikan bahwa berkhulwah bukan suatu hal yang wajib, seperti yang dilakukan para penyimpang yang memahaminya dengan cara berpaling sepenuhnya dari orang lain hingga mengabaikan dunianya.

Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad Saw.

Al-Qur'an adalah kitab yang sangat agung, diartikan sebagai kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Al-Qur'an juga merupakan wahyu yang turun sebagai mukjizat terbesar kepada Nabi Muhammad Saw. sekaligus sebagai tanda kenabian-Nya. Diturunkan pada malam yang agung yaitu malam lailatul Qadar. Ini merupakan fase pertama turunnya Al-Qur'an, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al Qadr ayat 1-5:

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Kemudian Allah Swt persiapkan kekasih-Nya untuk menerima risalah yang sangat agung ini. Melalui proses yang cukup panjang Allah Swt. turunkan Al-Qur'an dengan beberapa tahapan, salah satunya melalui malaikat Jibril sebagai perantara. Ketika usia Nabi Saw. hampir mendekati empat puluh tahun, beliau banyak menghabiskan hari-harinya untuk mengasingkan diri. Rutinitas tersebut mulai beliau kerjakan setelah melalui proses perenungan yang cukup lama. Dengan membawa persediaan makanan yang secukupnya, seperti roti dari gandum dan juga air, beliau pergi ke gua Hira.

Selama menyendiri di gua tersebut, beliau menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya, dan kekuatan menakjubkan tak terhingga di balik alam. Beliau masih merasa gelisah menyaksikan keyakinan umatnya yang penuh dengan kemusyrikan. Sementara itu, beliau sendiri belum menemukan jalan yang jelas atau petunjuk yang bisa menhantarkan mereka kepada jalan yang benar.

Kemudian, ketika usia nabi genap 40 tahun, tanda-tanda kenabian itu mulai tampak. Diantaranya terjadinya ru'yah shadiqah atau mimpi yang benar berupa fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan. Tepatnya di bulan Ramadhan, Allah memberikan rahmat-Nya kepada penduduk bumi dengan memberikan kemuliaan kepada Nabi Saw. berupa pengangkatannya sebagai nabi.

Adapun mengenai turunnya wahyu, sayyidah Aisyah ra. menuturkan kisahnya sebagai berikut: “wahyu pertama yang dialami oleh Rasullullah Saw. adalah berupa ru'yah shalihah (mimpi), dan mimpi itu hanya berbentuk fajar subuh yang menyingsing, kemudian semenjak kejadian itu beliau lebih senang menyendiri, yang mana proses penyendirian itu beliau lakukan di gua Hira. Beliau beribadah beberapa malam sebelum kembali kepada keluarganya."

Proses itu terus dilakukan oleh beliau, hingga datang kebenaran kepadanya, yaitu saat berada di gua tersebut, Saat itu Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad,
إقرأ

Selanjutnya Rasulullah menjawab,
 ."ما أنا بقارئ"

Ada dua tafsiran mengenai hal ini.

Yang pertama, seperti yang kita tahu bahwa Rasulullah adalah seseorang yang buta huruf dan tidak bisa menulis. Turunnya ayat ini karena merupakan sesuatu mukjizat. Juga tafsiran yang lain bahwa Rasulullah berkata,
 ."ماالذي أقرأ "

Apa yang harus aku baca? (Karena logikanya jika ada yang menyuruh untuk membaca pasti ada sesuatu yang dibaca, sedangkan saat itu tidak ada sesuatupun yang akan dibaca, karena Al-Quran sudah berada di dalam hati Rasulullah Saw)

Hal ini bisa dibuktikan dengan ayat Al-Quran Surat Al-Qiyamah ayat Allah Swt. berfirman:

laa tuharrik bihii lisaanaka lita'jala bih

"Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 16)

Inna 'alainaa jam'ahuu wa qur`aanah

"Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya." (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 17)

Ada dua pendapat saat datangnya wahyu dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.

Pendapat pertama bahwa beliau takut dengan Malaikat Jibril. Sedangkan pendapat kedua Nabi Muhammad Saw. tidak takut dengan datangnya Malaikat Jibril, tetapi beliau takut dengan beratnya risalah, haibatu da'wah dan haibatu wahyi, haibatullah, wa haibatu al-Quran. Karena ini merupakan wahyu yang agung.

Dalam kitab Fiqih Siroh karya Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthy dijelaskan bahwa, sewaktu Rasulullah di dalam Gua Hira, datang kepadanya malaikat lalu berkata, iqra' (bacalah). Lalu Rasulullah berkata, Ma Ana Biqari'i (aku tidak bisa membaca). Kemudian Jibril menarikku dan memelukku kuat-kuat hingga terasa kepadaku kesungguhannya, kemudian melepaskanku, lalu ia berkata: iqra'! (Bacalah). Maka aku berkata, Ma Ana Biqari'(Aku tidak bisa membaca), kemudian Jibril menarikku lagi lalu dipeluk erat hingga terasa kepadaku kepayahan kemudian melepaskan dan dia berkata,: iqra' ! (Bacalah). Maka aku berkata, Ma Ana Biqari' (Aku tidak bisa membaca), kemudian Jibril menarikku lagi lalu dipeluk erat yang ketiga kalinya hingga terasa eratnya lalu melepaskanku, kemudian ia berkata:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq: 1-5).

Lalu pulanglah Baginda Rasulullah Saw. dengan ayat-ayat itu dan hatinya gemetar. Lalu bertemulah Rasulullah kepada Khadijah binti Khuwailid seraya berkata: (Selimutilah aku! selimutilah aku!) maka diselimutilah hingga hilang dari padanya rasa ketakutan, kemudian Rasulullah berkata kepada Khadijah setelah rnenceritakan peristiwa itu:

"Sesungguhnya aku takut terhadap diriku, lalu Khadijah pun berkata kepada Rasulullah, “jangan begitu! Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu sedih selamanya karena engkau sebenarnya mempunyai rahim (kasih sayang), dan engkau memikul beban, berusaha memberi terhadap orang susah, menjamu tamu dan menolong dalam musibah yang menimpa.”

Kemudian pergilah Khadijah bersama Rasulullah menemui Waraqah bin Naufal Ibnu Asad bin 'Abdul 'Uzza yaitu anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani pada zaman jahiliyyah dan pandai menulis kitab 'Ibrani. Maka disalinnya kitab Injil dengan bahasa ‘Ibrani atas kehendak Allah. Beliau seorang yang telah berusia tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya “wahai anak pamanku! dengarkan anak saudaramu ini,” kemudian Waraqah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat itu?”

Lalu Rasulullah Saw menceritakan apa yang dialami dan dilihatnya. Setelah itu Waraqah pun berkata kepada Rasulullah “Inilah Jibril yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi Musa. Sekiranya aku masih muda dan masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu.”

(Mengapa tidak Nabi Isa yang lebih dekat dengan Rasulullah? Hal demikian dikarenakan Nabi Musa telah membawa syariat yang lengkap berupa akidah maupun akhlaq, beliau juga memerangi musuhnya, juga berhijrah dan telah menikah. Sedangkan Nabi Isa membawa syariat hanya berupa akhlaq, juga beliau tidak memerangi musuhnya, juga tidak berhijrah dan tidak menikah. Maka kalau disimpulkan Risalah Nabi Musa lebih lengkap dari Nabi Isa).

Kemudian Rasululah bertanya, “Apakah mereka hendak mengusirku?” Lalu Waraqah menjawab, “Ya! karena tidak pernah datang seorang pun yang membawa risalah seperti yang engkau bawa melainkan ia akan dimusuhi, dan sekiranya jika aku melihat peristiwa itu aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sungguh sungguh."

Begitulah Allah Swt. mengatur dan mempersiapkan kehidupan Rasulullah Saw. untuk mengemban amanah yang sangat besar ini, mengubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Pilihan nabi untuk mengasingkan diripun rupanya termasuk dari ketentuan Allah Swt. kepadanya, sebagai langkah untuk menerima tugas besar yang menantinya.



Tim Kajian Ar-Razi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: