Al-Ru'ya Al-Sholihah dan Tata Tertib Turunnya Wahyu - IKPM KAIRO

Jumat, 07 Februari 2020

Al-Ru'ya Al-Sholihah dan Tata Tertib Turunnya Wahyu


Doc. Google

Pengertian Ru'yah al-Sholihah

Sebelum turunnya wahyu kepada Rasululllah Saw. yang pertama kali (surat al-Alaq ayat 1-5), melalui perantara malaikat Jibril. Rasulullah sesungguhnya telah mendapatkan wahyu secara ar-Ru'yah as-Sholihah. Apakah yang dimaksud dengan ar-Ru'yah as-Sholihah itu?

Al-Ru'yah as-Sholihah yakni di mana Rasulullah bermimpi dalam tidurnya tepat sebelum terbitnya fajar. Sudah tidak diherankan lagi, sesungguhnya Rasulullah telah mengetahui bahwasannya dirinya adalah seorang nabi dan Rasul nantinya meski masih dalam usia anak-anak sekalipun. Mengapa demikian?

Karena sesungguhnya pepohonan, batu, gunung dan semua makhluk didunia ini selalu mengucapkan sholawat dan salam kepadanya. Ditambah lagi dengan beberapa petunjuk yang beliau dapatkan sebelumnya, salah satunya dari perkataan sang Rohib yang bertemu saat pergi berdagang bersama pamannya ke negeri Syam. Dengan inilah Rasulullah Saw. mengetahui bahwa suatu saat nanti akan tiba dimana datangnya suatu wahyu kenabian kepadanya.

Dijelaskan bahwasannya malam sebelum Rasulullah Saw. pergi untuk berkhalwat di gua Hira, Rasulullah Saw. mengalami al-Ru'yah al-Sholihah di malam harinya. setelah itu pergilah Rasululah Saw. ke gua Hira di saat pagi tiba. Dan disinilah awal pengangkatan Rasulullah Saw. sebagai panutan umat akhir zaman.

"Al-Ru'yah al-Sholihah adalah sebagian dari 46 bagian kenabian"

Maksud dari kalimat ini adalah, Rasulullah Saw. hidup selama 63 tahun. Sedangkan pada saat usia 40 tahun diangkatlah sebagai Rasulullah Saw. Selisih antara umur 40 tahun ke 63 tahun yakni 23 tahun. Dengan demikian dijadikan sebuah patokan bahwasannya al-ru'yah al-sholihah merupakan sebagian dari 46 bagian kenabian. karena kelipatan dari 23 adalah 46.

Suatu hari datanglah orang-orang kafir Yahudi ingin menguji kerasulan Nabi Muhammad Saw. Mereka menanyakan tiga hal kepada Rasulullah Saw, yaitu tentang ruh, ashabul kahfi dan Dzulkarnain. Akan tetapi Rasulullah Saw. berkata besok, sebagai bentuk bahwa beliau menunggu wahyu. Tetapi ternyata wahyu tidak turun selama satu bulan. Kita mengira bahwasannya wahyu tidak turun karena Nabi tidak berkata InsyaAllah. Banyak mufasir yang menafsirkan ayat ini:

Allah SWT berfirman:
wa laa taquulanna lisyai`in innii faa'ilun zaalika ghodaa

"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, Aku pasti melakukan itu besok pagi," (QS. Al-Kahf 18: Ayat 23)

illaaa ay yasyaaa`allohu wazkur robbaka izaa nasiita wa qul 'asaaa ay yahdiyani robbii li`aqroba min haazaa rosyadaa

"kecuali (dengan mengatakan), Insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 24)

Banyak mufasir yang menafsirkan bahwa Rasulullah Saw. harus berkata InsyaAllah agar wahyu turun kepadanya. Tetapi pernyataan ini tidak benar, karena turunnya wahyu tidak ada kaitannya dengan qaulu InsyaAllah.

Hal ini dikuatkan dengan beberapa dalil diantaranya:

1. Dalam Surat Al Kahfi:

Allah SWT berfirman:
qoola satajiduniii in syaaa`allohu shoobirow wa laaa a'shii laka amroo

"Dia (Musa) berkata, Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 69)

Dalam surat ini disebutkan bahwasannya jika Nabi Musa berkata InsyaAllah maka beliau akan bersabar, tetapi kenyataannya beliau tidak bersabar. Karena kita tidak bisa terpaut dengan InsyaAllah.

2. Jika Nabi Muhammad berkata InsyaAllah maka wahyu akan turun lagi.

3. Bertentangan dengan kalimat innama aqulu ma uqawwal (Sesungguhnya aku berkata dari wahyu Rasulullah Saw kepadaku)

4. Menyalahi kaidah lughoh arabiyah. Karena setelah fi'il mudhori dan أن adalah masdhar muawwal menjadi Bi masyiatillahi.

5. Rasulullah selalu melakukan sesuatu tanpa menggunakan kata InsyaAllah.

6. Jika ada yang bertanya mengapa wahyu berhenti? Karena itu merupakan bab luthfi wa rahmah ila Rasulillah.

Saat itu Nabi Muhammad Saw tidak berbicara InsyaAllah. Sesungguhnya wahyu itu telah berhenti dan Allah Swt telah mengabarkan itu semua di awal turunnya wahyu. Wahyu berhenti agar Nabi lebih siap menerima wahyu yang akan turun lagi. Juga karena wahyu merupakan sesuatu yang berat seperti dalam Surat Al Muzammil, Allah Swt. berfirman:

innaa sanulqii 'alaika qoulan saqiilaa

"Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu." (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 5)

Dan ini merupakan sesuatu yang baik untuk Nabi Muhammad. Seperti dalam Surat Ad Dhuha, Allah Swt. berfirman:

wa lal-aakhirotu khoirul laka minal-uula

"Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan." (QS. Ad-Duha 93: Ayat 4)

Maratibul Wahyu

Tata tertib turunnya wahyu (maratibul wahyu):

1. ar-Ru'yah al-Shodiqoh (ar-Ru'yah al-Sholihah):
Yakni pertama kali Rasulullah mendapatkan wahyu. Dan biasanya terjadi di malam menjelang shubuh.

2. Didatangi oleh malaikat di dalam jiwanya dan hatinya tanpa sepenglihatannya.
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya malaikat Jibril memasuki dirinya, tidak akan mati jiwa tersebut melainkan malah menjadi sempurnanya rezkinya, maka bertaqwalah dan perpantaslah dirimu saat kamu meminta. (HR. Ibnu Abi ad-Dunuya wa al-Hakim)

3. Datangnya malaikat seperti bunyi loncengan bel dan bunyi itu sangat keras (bahwasannya, ini merupakan wahyu yang paling berat). Diibaratkan sampai sayap (malaikat) beterbangan seperti dedaunan dan terjadi disuatu hari yang sangat dingin. (HR. Bukhori dan Ahmad Bayhaqi)

4. Dilihatkan malaikat kepadanya atas kehendak Allah Swt, dan memiliki 600 sayap. Ini terjadi dua kali kepada Rasulullah Saw. sebagaimana dijelaskan dalam surat an-Najm.

5. Langsung didatangkan oleh Allah swt. dari atas langit, seperti perintah diwajibkannya shalat.

6. Kalam Allah Swt. langsung kepada Rasulullah Saw. tanpa adanya perantara malaikat, seperti kalam Sayyidina Musa as.

7. Percakapan bersama Allah Swt. tanpa adanya penutup ataupun perantara.

Sesungguhnya dari maratibul inilah memperjelas kebesaran Nabi Saw.

Tim Kajian Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: