Ketika Orientalis Menyerang: Berikut Bukti Kebenaran Wahyu - IKPM KAIRO

Jumat, 21 Februari 2020

Ketika Orientalis Menyerang: Berikut Bukti Kebenaran Wahyu

Doc. Google

Mengenai pemberhentian sementara penurunan wahyu, kemudian disambung setelah enam bulan atau lebih, mengandungi mu'jizat Ilahi yang mendalam. Para penyerang-penyerang akidah (Islam) telah mencoba menganalisa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw itu dengan mengatakan bahwa itu bersumber dari renungan yang panjang yang bersumber dalam jiwa.

Sebagai rahasia dan hikmah ilahi, Malaikat Jibril yang ditemui oleh baginda di Gua Hira' dahulu telah menyembunyikan diri. Lantaran itu Rasulullah Saw. diselubungi oleh perasaan was-was kemudian bertukar pula menjadi takut dan bimbang ketika Allah telah melucutkan pemberian dan wahyu serta pengutusan; Karena mengira adanya suatu kesalahan yang telah dilakukannya sehingga terasa bagi Rasulullah bahwa dunia ini sempit baginya.

Hingga di suatu ketika, Rasulullah melihat sekali lagi malaikat Jibril yang bentuk-rupanya telah memenuhi ruangan di antara langit dan bumi, “Hai Muhammad engkaulah utusan kepada manusia”. Perasaan takut sekali lagi menguasai seluruh diri Nabi Muhammad Saw. Dengan keadaan demikian baginda Nabi kembali ke rumahnya di mana Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an Surat Al-Mudatsir ayat 1-2 yang artinya:

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah, lalu berilah peingatan!

Bukti mengenai penurunan wahyu ini merupakan senjata untuk merobohkan segala cemoohan dan serangan yang dibuat oleh seteru-seteru Islam terhadap penurunan wahyu dan terhadap kenabian yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad Saw.

Dari sini maka dapatlah kita fahami sejauh mana dan betapa agungnya hikmat ilahi yang terkandung di dalam penurunan wahyu itu tadi. Boleh jadi seteru Islam akan kembali bertanya kalaulah wahyu itu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantaraan Jibril alaihissalam kenapa para sahabat yang lain tidak melihat?

Sebagai jawabannya kita boleh mengatakan bahwa tanda wujud dan adanya sesuatu itu tidak semestinya dapat dilihat oleh kasat mata manusia karena tenaga dan penglihatan manusia itu terbatas. Sebagai kenyataan menunjukkan kebenaran wahyu dan penurunannya yang berturut-turut bukanlah suatu petanda penyakit jiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw seperti mana yang pernah dianalisa oleh seteru-seteru Islam. Di sini kita coba membuat kesimpulan tentang bukti-buktinya ini:

i. Terdapat perbedaan di antara Al-Qur'an dan Al Hadist al-Sharif. Nabi Saw telah menyuruh dan meminta para sàhabat-Nya agar menulis Al-Qur'an setelah diturunkan.
Sebaliknya Hadist memadai dengan hafalan mereka, karena al-Qur'an merupakan kalam Allah yang diwahyukan dengan makna dan perkataan melalui perantara Malaikat Jibril, sedangkan Hadist maknanya dari Allah Swt sedangkan lafadz dan susunan dari Rasulullah Saw. Ini dilakukan supaya nas Al-Qur'an tidak bercampur aduk dengan nas Hadist.

ii. Nabi Muhammad ditanya beberapa perkara dan tidak menjawab semua pertanyaan yang dikemukakan oleh para sahabatnya dalam waktu yang lama. Sehingga saat diturunkannya ayat Al-Qur'an sesuai dengan pertanyaan tadi, maka baginda akan menjawab pertanyaan tadi, kemudian dibacakan ayat-ayat Al Qur'an yang baru diturunkan.

iii. Seperti diketahui Rasulullah adalah seorang yang buta huruf dan tidak mungkin manusia itu dapat mengetahui peristiwa dan faktor sejarah dengan jalan 'meditasi perantaraan' seperti cerita Nabi Yusuf As., peristiwa menghanyutkan Nabi Musa As. ke sungai, dan cerita mengenai Fir'aun yang kesemuanya itu membuktikan bahwa Rasulullah buta huruf. Lantaran itu Allah Subhanahu Wata ala berfirman:

 (وَمَا كُنتَ تَتۡلُوا۟ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَـٰبࣲ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِیَمِینِكَۖ إِذࣰا لَّٱرۡتَابَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ)
[Surat Al-Ankabut 48]

Yang Artinya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab sebelum (Al-Qur'an) dan engkau tidak pernah menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.

ix. Sesungguhnya Rasulullah terkenal di kalangan kaumnya sebagai seorang yang amanáh selama empat puluh tahun. Lebih-lebih dengan diri sendiri baginda lebih teliti sewaktu menerima wahyu dan mengkaji secara mendalam agar tidak langsung berbau keraguan

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dan Tuhanmu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Surah Yunus 10:94)

Seolah-olah ayat ini merupakan jawaban kepada kajian Rasulullah terhadap wahyu dan diriwayatkan bahwa Rasululah telah menegaskan setelah penurunan ayat ini dengan katanya, “Aku tidak ragu, tidak akan bertanya-tanya lagi.”

Tidak ada komentar: