Ketika Orientalis Menyerang; Seputar Pertanyaan Mengapa dan Apa di Balik Peristiwa Turunnya Wahyu - IKPM KAIRO

Jumat, 14 Februari 2020

Ketika Orientalis Menyerang; Seputar Pertanyaan Mengapa dan Apa di Balik Peristiwa Turunnya Wahyu

Doc. Google

Peristiwa turunnya wahyu merupakan dasar utama yang memberi implikasi atau keterlibatan terhadap seluruh Hakikat, Akidah dan Syari'ah Islamiyyah. Memahami serta mempercayainya dengan penuh keyakinan merupakan titik permulaan untuk mempercayai segala apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. seperti memberi kabar tentang ghaib dan perkara syari'at. Hakikat wahyu adalah jenis tunggal yang memisahkan antara manusia yang berfikir secara logis dengan otak pemikiran yang bersifat serba kemanusiaan dengan manusia yang menyampaikan segala sesuatu yang telah diturunkan oleh Tuhannya tanpa merubah, mengurangi dan menambah.

Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki keraguan terhadap islam mencoba menimbulkan persoalan-persoalan tentang wahyu yang diturunkan. Karena mereka meyakini bahwa objek hakikat wahyu itu merupakan sumber kepercayaan dan keyakinan orang Islam terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dari Allah Swt. Kalaulah mereka dapat menyuntikkan jarum keraguan terhadap hakikat wahyu dan syariat serta prinsip kepercayaan Islam adalah ciptaan dan rekaan Nabi Muhammad Saw. sendiri, maka tidak diragukan lagi dengan mudahnya menjadikan orang Islam itu mengingkari sebagian dari kepercayaan dan hukum.

Untuk mencapai tujuannya, penyerang ideologi ini akan berusaha menganalisa wahyu itu sesuai kehendak hati mereka sendiri dan mencoba memisahkan dari hakikat kebenaran wahyu itu. Ada juga yang menuduh bahwa Rasulullah menyembah berhala. Ada juga yang menuduh Nabi Muhammad Saw. mempelajari al-Qur'an dan prinsip ajaran Islam dari Pendeta Buhaira dan ada pula yang menuduh bahwa Rasulullah itu seseorang yang terganggu urat sarafnya atau telah diserang penyakit jiwa.

Andaikata kita memperhatikan kepada tuduhan-tuduhan dan tafsiran-tafsiran yang tidak masuk akal ini, maka tampaklah kepada kita bahwa manusia tersebut tidak boleh menerima apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasulullah berupa wahyu, dan ini justru akan menjauhkan diri Umat Islam dari Nabi Muhammad sebagai Nabi. Kita dapat memperhatikan jelas segala kebenaran wahyu itu dengan hadist Imam Bukhari mengenai penurunan wahyu.

Mengapa Rasulullah dapat melihat Jibril dengan mata kepalanya sendiri? Mengapa wahyu tidak disampaikan dibalik tabir saja?

Kenapa Allah meresapkan perasaan takut dan kebimbangan di dalam hati Rasulullah ketika menerima wahyu? Bukankah sebenarnya diresapkan perasaan tenang dan tenteram ketika itu karena ini merupakan tanda sayangnya Allah terhadap RasulNya?

Mengapa Rasulullah merasa takut bahwa yang mendatanginya di Gua Hira' dulu adalah jin, dan belum pasti bahwa yang mendatanginya adalah malaikat utusan Allah Swt?

Kenapa turunnya wahyu terputus beberapa saat? Peristiwa ini telah menyebabkan Rasulullah resah dan cemas hingga beliau pergi mendaki bukit sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari.

Ini adalah beberapa pertanyaan mengenai bentuk wahyu yang pertama kali diturunkan. Bagi orang yang berfikir untuk mendapatkan jawabannya akan mendapatkan beberapa rahasia dan hikmah-hikmah yang terang lagi nyata, yaitu orang-orang liberal dan golongan orientalis yang menganggap bahwa wahyu ini adalah hasil renungan dan fikiran Nabi Muhammad akan bertemu dengan hakikat yang paling nyata.

Nabi Muhammad Swt berada di Gua Hira' dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Bacalah!.” Ini supaya memahami bahwa wahyu itu bukanlah suatu perkara di dalam jiwa atau batin, melainkan yang sebenarnya ialah menerima suatu hakikat yang tidak ada hubungannya dengan dorongan jiwa.

Malaikat Jibril 'alaihiissalam telah memeluk baginda Nabi seerat-eratnya sebanyak tiga kali dan melepaskannya sebanyak tiga kali, kemudian Malaikat Jibril menyeru kepada baginda Nabi, “Bacalah!” sebanyak tiga kali juga.Hal demikian merupakan penegasan dan gambaran hidup tentang wahyu yang datang dari luar bukanlah rekaan khayalan Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw merasa takut dengan apa yang telah didengar dan dilihat, sampai beliau telah berhenti dari ibadahnya dan bergegas pulang ke rumah dengan hati yang berdebar-debar. Peristiwa ini menegaskan kepada orang yang meragukannya bahwa Nabi Muhammad tidak mengharap-harapkan hendak menjadi pembawa Risalah yang akan disebarkan ke seluruh alam. Bukan pula wahyu itu untuk menyempurnakan apa yang telah difikirkan Rasulullah dalam fikirannya. Malah kedatangan wahyu itu kedatangan yang tidak disangka-sangka akan mempengaruhi kehidupannya.

Soal ilham, jeritan batin dan jiwa atau renungan ke alam atas tidak akan diserang perasaan takut, kagum dan pucat badan. Tegasnya tidak ada titik pertemuan atau hubungan di antara renungan mencari ilham dan dibarengi dengan perasaan takut yang berturut-turutan.

Kita sendiri pun lebih mengetahui bahwa perasaan takut dan menggeletar seluruh anggota badan disertai dengan pucat warna tubuh adalah perasaan yang tidak dibuat-buat atau dipura-purakan. Kalau hendak diandaikan bahwa Nabi Muhammad mencoba sedemikian maka ini suatu andaian (hypothesis) yang mustahil di mana perangainya telah begitu berubah corak dan satu keadaan kepada suatu keadaan yang terlalu berbeda dan berlainan.

Nabi Muhammad Saw tidak percaya bahwa yang mendatanginya, memeluk dan menyuruh baginda membaca di gua itu adalah sejenis jin. Ini dapat dilihat dari apa yang diceritakannya kepada Khadijah Radhiyállahu 'anha. Nabi Muhammad berkata, “Aku takut terhadap diriku,” tegasnya dari jin, tetapi Khadijah telah menenangi Nabi Muhammad dan memberi penenang bahwa ini bukanlah rasukan jin atau syaitan karena baginda Nabi Muhammad berakhlak mulia dan berpribadi tinggi. Allah menenangkan jiwa Nabi Muhammad bahwa yang mendatanginya itu tidak lain adalah Malaikat Jibril yaitu malaikat suruhan Allah yang membawa pengkhabaran wahyu dan berita-berita Ilahi tentang pengutusan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul untuk manusia seluruh alam. Hikmah Ilahi yang nyata adalah ingin memberitahu antara dua pribadi Nabi Muhammad yang paling nyata perbedaannya yaitu Nabi Muhammad sebagai manusia biasa sebelum pengutusannya dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul setelah pengutusan serta untuk menerangkan lebih lanjut lagi bahwa prinsip Akidah Islamiyyah atau Syariah Islam belum pernah terfikirkan oleh Rasulullah Saw dan belum pernah tergambar di kepalanya mengenai dakwah itu.

Suatu kehendak Ilahi yang telah mengilhamkan Khadijah agar membawa Nabi Muhammad untuk menemui Waraqah bin Naufal dan membentangkan perkara ini kepada beliau. Ini merupakan suatu sudut yang lain untuk memperkuatkan lagi bahwa apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad berupa wahyu pernah disampaikan kepada para Anbiya terdahulu serta untuk menyingkap perasaan yang menakutkan, yang menyelubungi jiwa Nabi Muhammad Saw dengan apa yang dilihat dan didengarnya.

1 komentar: