Mengapa Kita Harus Belajar dan Mengetahui Hakikat Suatu Ilmu? - IKPM KAIRO

Kamis, 27 Februari 2020

Mengapa Kita Harus Belajar dan Mengetahui Hakikat Suatu Ilmu?


Disarikan dari Thuruq Manhajiyah karya Syekh Musthofa Ridha Azhary

Man araada al-wushul fa alaihi al-ushul
“Barang siapa yang ingin sampai pada tujuannya, maka harus ada padanya suatu asas”

Sebuah jalan ilmu yang ditempuh oleh seorang pelajar tak lepas dari halangan, keresahan dan kesulitan. Untuk itu diperlukan baginya suatu pondasi dan kekuatan untuk mengatasi hal yang mengganggu perjalanan keilmuan. Para pelajar asing dari berbagai negara yang datang ke al-Azhar guna menimba ilmu terkadang pada awal perjalanan mengalami jahalah mahdhoh dan jahalah urf. Jahalah mahdhoh yaitu ketidaktauan terhadap apa yang dipelajari secara umum, seperti ketidaktauannya terhadap adanya ilmu Nahwu Shorf, dan cabang ilmu lainnya. Sedangkan jahalah 'urf yaitu ketidaktauan terhadap suatu ilmu secara terperinci apa yang ada di dalam ilmu tersebut sebagai contoh seorang murid yang mengetahui adanya ilmu nahwu tapi ia tidak mengetahui pembahasan dalam ilmu tersebut.

Kedua ketidaktauan tersebut membuat seorang murid lelah dengan apa yang dibangun. Ibarat membangun sebuah bangunan, jika pondasi awal tidak kuat dan kokoh atau bahkan salah maka dipastikan bangunan itu akan cepat runtuh dan harus memulai membangun ulang sejak awal. Itulah salah satu urgensi dari mengetahui dasar-dasar yang harus diketahui seorang murid mubtadi di awal perjalanannya.

Selain adanya jahalatain (2 ketidaktauan) di atas yang harus diperangi, ada pula 2 'abas (2 kesia-siaan) yang harus diwaspadai juga, yaitu 'abas mahd dan abas 'urfi. 'Abas mahd merupakan adanya ketidaktauan terhadap adanya manfaat atau faidah dari suatu ilmu, sedangkan 'abas 'urfi ketidaktauan penggunaan manfaat dan faidah setelah lelah perjuangannya dalam belajar. 2 ketidaktauan dan 2 kesia-siaan tersebut mampu diatasi dengan mengetahui mukaddimah al-ilm (pengantar suatu ilmu) yang lazim diketahui seorang murid sebelum mulai belajar agar tidak terjadi hal yang telah dijelaskan di atas.

Al-mabâdi` Al-asyrah, Pengantar Dasar Suatu Ilmu
Sebelum mendalami suatu ilmu, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimanakah ilmu tersebut. Yaitu dengan memahami mukkaddimah al-ilm, pengantar suatu ilmu. Pengantar ilmu tersebut, akrab disebut dengan Mabadi al-Asyroh. Sepuluh pondasi ini  memancing kecenderungan seorang penuntut ilmu untuk lebih mendalami suatu cabang ilmu tersebut.

Layaknya sebuah rumah, ketika akan masuk ke dalam rumah tersebut, bagian dari adab adalah memasuki dari pintu depannya. Pun ilmu yang akan kita pelajari, mempelajarinya juga berangkat dari pengantar ilmu tersebut yang harus kita ketahui.

Watu al-buyuta min abwabiha (Al-Baqarah:189)
Masukilah rumah-rumah dari pintunya
(Al-Baqarah: 189)

Berkaitan dengan Mabadi al-asyroh, Dr. Usamah Sayyid Azhary menjelaskan bahwa para ulama meletakan pondasi tersebut untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh seseorang dalam menuntut ilmu. Lalu beliau melanjutkan bahwa ketika seorang pelajar masuk dalam suatu cabang ilmu tanpa mengetahui faidahnya, maka ketika ia menyadari bahwa ilmu tersebut tidak sesuai dengan kemampuannya, maka dengan mudah pula ia akan meningggalkan ilmu tersebut setelah selang beberapa waktu.

Pengantar suatu ilmu merupakan suatu permulaan bagi seorang penuntut ilmu sebelum memulai untuk mendalami suatu buku. Karena darinya, ia akan mengetahui manfaat yang kembali padanya.

Adapun manfaat dari mengetahui suatu pengantar ilmu, menjadikan seorang penuntut ilmu mampu menggambarkan ilmu tersebut. Setelah itu ia pun akan mengetahui permasalahan-permasalahan di dalamnya. Selain itu, pengantar suatu ilmu juga memberikan rambu-rambu seputar ilmu yang ia geluti.

Imam Abu Irfan al-Shabban meragkumnya dalam 3 bait utama:

إن مبادئ كل فن عشرة # الحد والموضوع ثم الثمرة
ونسبة وفضله والواضع # والاسم الاستمداد حكم الشارع
مسائل والبعض بالبعض اكتفى # ومن درى الجميع حاز الشرف

“Sesungguhnya Mabadi Asyrah dalam setiap ilmu itu ada sepuluh. (i) Definisi, (ii) tema Pembahasan, (iii) serta faidahnya. (iv) kaitannya dengan ilmu lain (v) keutamaan (vi) nama ilmu itu (vii) peletak ilmu itu (viii) hukum mempelajarinya (ix) sumber ilmu itu (x) aneka permasalahan (dalam ilmu tersebut). Maka cukup bagi mereka yang mengambil sebagiannya saja (yakni tiga pertama). Namun bagi siapa yang ingin kemuliaan lebih, hendaknya ia mengambil semuanya."

Mari kita bahas satu per satu apa yang telah dipaparkan sebelumnya mengenai pengantar suatu ilmu.

Al-haddu yaitu definisi suatu ilmu, darinya kita mampu membedakan antara suatu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya.

Al-maudu, yaitu tema Pembahasan, darinya kita akan mengetahui apa yang dibahas dalam ilmu tersebut

Al-tsamroh (faidah), yaitu manfaat dari mempelajari  suatu ilmu

Al-nisbah, yaitu keterkaitan suatu ilmu dengan ilmu lainnya serta urutan ilmu tersebut untuk dipelajari dari ilmu-ilmu lainnya

Al-fadhl, yaitu keutamaan mempelajari suatu ilmu

Al-Wadhu’, yaitu peletak suatu ilmu

Al-ism, yaitu nama suatu ilmu

Al-istimdad, yaitu sumber suatu ilmu

Hukmu al-Syari, yaitu hukum mempelajari ilmu tersebut

Al-masail, yaitu aneka permasalahan dalam ilmu tersebut dalam berbagai bab.

Dalam ilmu Nahwu misalnya. Ketika belum mengetahui apa itu ilmu Nahwu, tema pembahasan dan manfaat mempelajarinya. Maka akan susah bagi seseorang untuk melanjutkan ilmu tersebut ke tahap yang lebih tinggi bahkan untuk memahaminya dari dasar.

Berbeda ketika memulai dari mengetahui pengantar ilmu, yaitu mabadi al-asyroh. Ketika telah memahami apa definisi ilmu tersebut, tema pembahasan dan manfaatnya, akan memberikan sebuah gambaran mengenai permasalahan-permasalahan di dalamnya hingga kaitannya dengan ilmu lain serta penerapannya.

Setelah mengenal suatu ilmu melalui mabadi al-asyroh tersebut, peta keilmuan perlu kita susun. Yaitu ilmu manakah yang kita dahulukan untuk dipelajari. Membedakan antara perantara dan tujuan, antara ilmu alat dan ilmu maqasid.

Pentingnya suatu permulaan dengan memahami hakikat suatu ilmu dan mengenal pengantar tiap ilmu selaras dengan apa yang dinyatakan oleh Syekh Musthofa Ridha Azhary dalam bukunya:

لما كانت النهايات المشرقة لا بد لها من بدايات محرقة

Akhir yang terang harus memiliki permulaan yang terbakar. 

Karena itulah seorang guru perlu menunjukkan jalan yang tepat kepada muridnya, terlebih murid mubtadi agar mencapai akhir yang terang. Yang dipaparkan dalam karya Syekh Musthofa Ridha, Thuruq Manhajiyah, berperan sebagai rambu-rambu yang mengenalkan kepada para penuntut ilmu mengenai perjalanan keilmuan serta dasar-dasarnya.

Antara Ilmu dan Malumat

Perbedaan ilmu dan malumat atau marifat adalah jika Ilmu harus memakai ṭarîqah, manhaj dan mu’allim. Sedangkan maklumat kebalikan dari ilmu karena maklumat hanya berasal dari kitab/buku, tanpa manhaj keilmuan yang jelas melainkan hanya sekedar hasil pembacan dari satu buku ke buku lain.

Kata ilmu dalam bahasa Arab merupakan sususan dari 3 huruf, ‘ain, lam, dan mim. Melihat dari susunan tersebut, Ilmu terdiri dari tiga makna, ‘’ain’ bermakna ilmu sendiri, ‘lam’ bermakna laṭif  (lembut), dan ‘mim’ bermakna malikan. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa seorang ‘alim akan memiliki ilmu, laṭif, dan malik.

Adapun rukun ilmu ada lima. Yang pertama al-mu’allim yaitu ustadz atau syekh. Yang kedua muta’allim yaitu penuntut ilmu, selanjutnya kitab atau materi yang akan dipelajari, keempat lingkungan keilmuan atau learning community, dan yang terakhir manhaj ilmu.

Al-Muallim yaitu syekh atau ustadz yang mengajarkan ilmu. Yang kedua yaitu al-Mutaallim atau penuntut ilmu. Seseorang baru dikatakan alim jika ia memiliki malakah. Imam Syafii mengatakan, Saudaraku, kamu tidak akan mendapat ilmu, kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahu perinciannya dengan jelas: Kecerdasaan, ketamakan (terhadap ilmu), kesungguhan, harta benda (bekal), dekat dengan guru, dan waktu yang panjang.

Rukun ilmu yang  ketiga adalah  kitab. Seorang penulis telah mengarang kitab sesuai dengan tingkatan kemampuan individu. Tingkatan level keilmuan manusia ada tiga yaitu: mubtadi`, mutawassiṭ, dan muntahi. Sebagai penuntut ilmu harus selalu mengulang-ulang pelajaran, karena mengulang pelajaran memiliki banyak manfaat. Seperti yang dikatakan Syekh Musthafa Ridha, mengulang pelajaran satu jam lebih baik dari menelaah seharian. Juga penuntut ilmu harus membaca buku sesuai dengan mustawa-nya agar tercipta malakah dalam dirinya. Sebelum membaca atau talaqqi hendaknya mengetahui  muqaddimah, muallif kitab (karena jika tidak mengetahui siapa pengarang dan judul buku, maka ilmu yang didapat tidak sempurna),  juga al-Mabâdi` al-Asyrah suatu ilmu (agar mempunyai gambaran ilmu yang akan dipelajari).

Selanjutnya lingkungan keilmuan atau learning community. Manusia akan berkembang dan manjadi baik jika lingkungan disekitarnya baik pula. Orang yang ingin berkembang harus istiqomah dalam menuntut ilmu, memperdalam ilmu dan mengajarkan di kemudian hari. Agar ilmu yang didapatnya bermanfaat.

Yang terakhir, manhaj keilmuan. Yaitu mempelajari suatu ilmu sesuai dengan level masing-masing, baik level pemula (mubtadi), menengah (mutawasith), dan akhir (muntahi) dalam beberapa pembahasan yang telah ditentukan. Para ulama berpendapat dan sepakat bahwa mendalami suatu permasalahan dalam suatu ilmu tanpa adanya manhaj akan mengakibatkan kerusakan yang lebih banyak dibanding manfaatnya. Adapun Manhaj al-Azhar, merupakan salah satu contoh manhaj keilmuan yang tepat dan para ulama telah mengakuinya.

Diambil dari tulisan Modul Orkaba IKPM Kairo 2020

Tidak ada komentar: