Raih Penghargaan di IBF Award 2020, Ini Pesan Kamal Ihsan Untuk Rekan IKPM Kairo - IKPM KAIRO

Jumat, 28 Februari 2020

Raih Penghargaan di IBF Award 2020, Ini Pesan Kamal Ihsan Untuk Rekan IKPM Kairo


Hangka, atau yang akrab disapa Kamal Ihsan raih penghargaan Islamic Bookfair (IBF) award 2020 sebagai buku Islam terbaik kategori Fiksi Dewasa. Penghargaan ini diberikan dalam acara IBF 2020 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (26/2)

Buku yang dinobatkan sebagai penghargaan tersebut berjudul “1/4, Nanti dan dan Kembali”. Karya ini bisa dikatakan sebagai anak kedua dari Kamal Ihsan setelah melahirkan anak pertamanya yang berjudul “5 titik 1 koma”. Usai mendapatkannya ia pun memberi beberapa pesan kepada Alumni Gontor, khususnya warga Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Kairo.

"Pertama, saya sangat tidak menyangka tentunya. Masih seperti mimpi, susah percaya. Karena penghargaan ini begitu berengsi bagi para penulis, penerbit,  bahkan ratusan yang ikut serta dalam ajang penghargaan ini," tutur Hangka mengenai kesannya mengenai penghargaan kali ini.

"Sekali lagi masih belum percaya, tahun lalu Ahmad Fuadi yang mendapatkan penghargaan ini," lanjutnya.

Alumni 2013 tersebut turut menuturkan bahwa penghargaan ini adalah prestasi bagi semuanya, sekaligus juga ujian untuknya secara khusus. Menurutnya, penghargaan bisa menjadi suatu penghalang atau pelecut; yaitu penghalang jika terlalu banyak euforia hingga lupa untuk berjuang, atau sebagai pelecut untuk lebih tinggi berprestasi.

"Untuk teman-teman semuanya, jangan pernah beranggapan bahwa menulis itu ‘doang’, menulis itu ‘cuman’, menulis itu ‘sekedar’. Menulis itu —kalo bisa— kita letakkan dalam prioritas kegiatan kita, prioritas produktivitas kita, kegiatan yang bermanfaat; membaca, menulis,... yang bisa nulis fiksi, ayo! Yang bisa nulis non-fiksi, ayo. Kita jadikan ini semua sarana dakwah kita semua!" ujar Mantan Pimred Suara PPMI tersebut.

Sebab menurutnya, menulis merupakan media bagi penyampain ilmu dan sarana dakwah di tengah masyarakat dalam bentuk tulisan fiksi serta berimajinasi. "Menulis jangan dipandang sebelah mata, jangan dipandang sekedar kewajiban atau tuntutan. Namun menulis itu kebutuhan dalam hidup dan sarana untuk bermanfaat bagi masyarakat," tutupnya mengakhiri pesan yang disampaikan.

Dari Kamal Ihsan kita dapat belajar sesuatu: bahwa dengan menulis kita akan abadi, meski jasad kita sudah terkubur di dalam tanah nantinya. Sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: “Al-Khottu Yabqo Zamanan Ba'da Kaatibihii  #  Wa Kaatibu al-Khotti Tahta al-Ardhi Madfunu” (Tulisan akan tetap ada setelah penulisnya tiada # Walaupun penulisnya terkubur di bawah tanah)

Karenanya jangan pernah berhenti menulis. Menulis itu adalah nafasnya para penuntut ilmu, jalannya para tokoh dan tradisi para ulama. Membacalah jika ingin mengenal dunia. Tapi jika hendak mengenalkan gagasan dan idemu, maka MENULISLAH!

Rep: Bana
Red: Ummu

Tidak ada komentar: