Tahapan Dakwah Rasulullah Saw. serta Hikmah di Baliknya - IKPM KAIRO

Jumat, 28 Februari 2020

Tahapan Dakwah Rasulullah Saw. serta Hikmah di Baliknya


Ada empat tahapan dakwah yang dilakukan Nabi Saw. selama hidupnya sejak beliau diangkat sebagai nabi dan Rasul hingga wafat. Keempat tahapan itu sebagai berikut:

1. Dakwah secara diam-diam yang berlangsung selama tiga tahun

2. Dakwah secara terang-terangan, tetapi hanya melalui lisan. Tahapan ini berlangsung hingga masa hijrah.

3. Dakwah secara terang-terangan seraya memerangi pihak-pihak yang menyerang dan pihak-pihak yang memulai peperangan atau kejahatan. Tahapan ini berlangsung hingga disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah

4. Dakwah secara terang-terangan seraya memerangi semua kaum musyrik, antiagama, dan para penyembah berhala yang merintangi dakwah atau meghalangi orang dari masuk islam -setelah fase dakwah dan pemberitahuan-Pada tahapan terakhir itulah, syariat islam mencapai kemapanannya dan saat itu pulalah hukum jihad diatur dalam islam

Dakwah secara diam-diam

Nabi Saw. menjalankan perintah Allah dengan mulai mengajak orang untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan sembahan yang lain. Namun, beliau melakukannya diam-diam agar tidak mengejutkan kaum Quraisy yang fanatik pada kemusyrikan dan paganisme. Nabi Saw. tidak berdakwah secara terang-terangan seperti berbicara di tempat-tempat umum atau di tempat ibadah mereka. Beliau hanya berdakwah kepada sanak kerabatnya yang sangat dekat atau orang yang sudah beliau kenal baik.

Orang yang pertama kali masuk islam diantara mereka adalah Khadijah binti Khuwailid r.a., Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah (mantan budak Rasulullah Saw. sekaligus anak angkatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq bin Abu Quhafah, Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan beberapa lainnya
-semoga Allah meridhoi mereka semua-.

Mereka bertemu dengan Nabi Saw. secara diam-diam. Apabila salah seorang diantara mereka ingin mempraktikkan suatu ibadah, dia pergi ke lorong-lorong Kota Makkah yang sepi agar tidak terlihat orang Quraisy. Ketika jumlah pemeluk islam mencapai lebih dari 30 orang laki-laki dan perempuan, Rasulullah memilih rumah salah seorang dari mereka, Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, sebagai majelis pertemuan dan pengajaran. Dakwah pada tahapan ini menghasilkan sekitar 40 orang muslim, laki-laki dan perempuan. Kebanyakan mereka adalah orang miskin, budak, dan orang Quraisy yang tidak punya kedudukan.

Petikan Pelajaran
Berkenaan dengan tahapan pertama dakwah Rasulullah Saw. kita bisa memetik hikmah bahwa Nabi Saw. berdakwah secara rahasia selama beberapa tahun bukan karena beliau mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Sebab, sejak beliau dibebani dakwah dan kepada beliau diturunkan firman Allah swt.,”Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan,” beliau sudah menyadari bahwa dirinya adalah utusan Allah bagi umat manusia. Maka, Rasulullah Saw. yakin bahwa Tuhan yang mengutus dan menugaskan dakwah ini kepada beliau pastilah melindungi dan menjaga beliau dari kejahatan manusia.

Seandainya Allah Swt. memerintahkan beliau langsung berdakwah secara terang-terangan, tentu Rasulullah Saw tidak akan menundanya sekejap pun meskipun resikonya adalah kematian. Namun, Allah Swt. memberi ilham kepada Rasulullah agar memulai dakwah pada tahapan awal ini secara diam-diam dan hanya kepada orang-orang yang beliau yakini akan menerimanya.

Tahapan awal yang ditempuh Nabi Saw. mengandung pelajaran penting bagi kaum muslim di zaman sekarang, terutama para juru dakwah. Tahapan ini mengajarkan kepada kita agar selalu membuat perencanaan yang matang dan mengambil langkah-langkah yang praktis dan efektif agar kita berhasil meraih tujuan. Kita juga seharusnya mempersiapkan secara cermat berbagai sarana yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan.
Namun, semua langkah itu jangan sampai menafikan sikap tawakkal kepada Allah, dan jangan dianggap sebagai satu-satunya penentu keberhasilan. Sebab, sikap yang menafikan kuasa kepada Allah seperti itu akan merusak pondasi keimanan kepada Allah dan bertentangan dengan tabiat dakwah islam.

Dari sini kita mengetahui bahwa metode dakwah yang digunakan Nabi pada masa ini ialah dengan memposisikan dirinya sebagai seorang imam yang memberi contoh atau teladan yang baik bagi ummatnya, bukan bagian dari tugas tabligh-nya sebagai nabi. Bagian ini mengandung pelajaran bagi para juru dakwah islam untuk senantiasa bersikap fleksibel (tidak kaku) dalam menyampaikan dakwah sehingga mungkin di satu waktu dakwah dilakukan secara diam-diam tetapi di waktu lain secara terang-terangan; di satu waktu dengan metode yang lemah-lembut dan di waktu lain dengan sikap yang lebih tegas, sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi pada zamannya. Inilah kelenturan yang diajarkan syariat islam seperti yang tergambar dalam sirah Nabi Saw.

Berkenaan dengan orang pertama yang memeluk islam serta hikmah di balik keislaman mereka, Sirah Nabi Saw. menuturkan kepada kita bahwa kebanyakan mereka adalah orang miskin, lemah, dan para budak.Apa hikmahnya? Mengapa komunitas islam didirikan pertama kali oleh kelompok yang lemah ini?

Jawabannya, fenomena itu merupakan buah alami dakwah para nabi pada tahap pertamanya. Perhatikanlah kisah Nabi Nuh a.s yang diikuti oleh golongan yang lemah dan miskin. Oleh karena itu, kaum Nabi Nuh a.s mengejeknya lantaran para pengikutnya hanyalah orang yang dianggap paling hina diantara mereka: Berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya,”Kami tidak melihatmu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikutimu,melainkan orang yang hina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihatmu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang yang dusta” (Q. S. Hud: 27)

Perhatikan pula kisah Nabi Musa a.s yang harus berhadapan dengan Fir'aun, sang penguasa negeri. Lihatlah, betapa Fir'aun dan para pendukungnya memandang para pengikut Musa a.s sebagai orang hina yang tertindas, sebagaimana ditegaskan dalam ayat Al-Qur'an setelah ayat yang bercerita tentang kematian Fir'aun dan para pendukungnya: "Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian Timur bumi dan bagian Baratnya yang telah kami beri berkah kepadanya.(QS Al-A’raf;37)

Perhatikan pula bagaimana kaum Tsamud yang menolak dakwah Nabi Shalih a.s. Para pemimpin kaum itu bersikap angkuh dan sombong. Mereka menindas dan menyakiti para pengikut Nabi Shalih yang terdiri atas orang-orang yang lemah dan tertindas: Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang yang dianggap lemah yang telah beriman diantara mereka,”Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya? Mereka menjawab,”Sesungguhnya kami beriman kepada sang wahyu yang Shalih diutus untuk menyampaikannya.” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata,”Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya pada apa yang kamu imani itu.” (Q. S
Al-A’raf: 75-76)

Kenyataan ini mengandung hikmah bahwa tujuan risalah yang dibebankan Allah kepada semua nabi dan rasul adalah mengentaskan manusia dari kekuasaan dan pengaturan sesama manusia menuju kekuasaan dan pengaturan oleh Allah. Hakikat ini bertentangan dengan “ketuhanan” orang yang mengaku sebagai penguasa.

Sebaliknya, hakikat ini sesuai dengan keadaan orang yang tertindas dan diperbudak. Alhasil, reaksi penolakan terhadap ajakan berserah diri kepada Allah itu ditunjukan oleh orang yang mengaku tuhan dan berkuasa. Sementara, sikap tunduk patuh dan menerima justru ditunjukkan oleh kalangan yag tertindas.

Tidak ada komentar: