Akhir Masa Embargo dan Pencabutan Perjanjian Oleh Pembesar Quraisy - IKPM KAIRO

Jumat, 27 Maret 2020

Akhir Masa Embargo dan Pencabutan Perjanjian Oleh Pembesar Quraisy


Kekejaman kaum musyrikin dalam peristiwa embargo ini menimbulkan beberapa fenomena yang tidak ber-peri kemanusian, diantaranya:

1. Kaum muslimin meninggalkan perumahan mereka dan hanya bertempat tinggal di syi’ab (lorong) milik Bani Muthallib.

2. Kenaikan harga sandang dan pangan di berbagai macam tempat jual-beli. Sehingga orang muslim hanya akan pulang ke rumahnya dengan tangan kosong tanpa bisa membeli apapun, sementara mereka dalam keadaan yang dilanda kelaparan.

3. Kekurangan makanan yang sangat, mengakibatkan kaum muslimin sampai memakan kayu dan daun-daun pohon.

Tiga tahun berjalan, embargo ini dikecam oleh beberapa orang dari kalangan bani Qushayy. Mereka menyatukan sepakat untuk membatalkan perjanjian embargo yang mereka sepakati sebelumnya. Sementara itu, Allah SWT mengirimkan pasukan rayap untuk memakan habis lembaran perjanjian embargo yang kejam itu. Hanya bagian yang bertuliskan lafal “Allah” yang tersisa. Rasulullah SAW menyampaikan berita itu kepada pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib berkata, “Apakah Tuhanmu telah mengabarimu tentang hal itu?”
“Ya,” jawab Rasulullah Saw. Abu Thalib pun segera menemui orang orang Quraisy. Ia meminta meeka untuk menunjukkan lembaran perjanjian embargo. Sesaat kemudian, lembaran itu diambil dari dinding Ka’bah dan ditunjukkan kepada Abu Thalib dalam keadaan tergulung.

Abu Thalib Berkta, “Sesungguhnya keponakanku tidak pernah berdusta padaku. Ia berkata bahwa Allah SWT telah mengirimkan rayap untuk memakan lembaran perjanjian yang berisi kebusukan dan pemutusan silaturahmi ini. Jika yang dikatakan benar, sadarlah kalian dan tinggalkanlah pikiran buruk yang kalian pendam. Demi Allah, kami tidak akan menyerahkannya sampai orang terakhir dari kami pun kehilangan nyawa. Akan tetapi, jika yang dikatakannya tidak terbukti, kami akan langsung menyerahkannya kepada kalian. Kalian boleh melakukan apa saja kepadanya.”

Orang-orang Quraisy berkata, “Baiklah, kami setuju.” Mereka lalu membuka lembaran yang masih tergulung itu. Semua mata tertuju padanya. Ternyata, setelah dibuka, semua tulisan suku Quraisy itu sudah hancur, kecuali lafal Allah, sebagaimana diberitakan Rasulullah SAW.

Tetapi, alih-alih mempercayai ucapan Rasulullah SAW, orang-orang kafir itu justru berkata ketus kepada Abu Thalib, “Ah, ini semua adalah sihir keponakanmu itu.” Kekufuran mereka semakin bertambah. Beberapa waktu kemudian, lima orang pemuka Quraisy tampil untuk menarik kembali embargo yang mereka berlakukan, yaitu Hisyam ibn Amr ibn Harits, Zuhair ibn Umayyah, Muthim ibn ‘adi, Abul Bukhtari ibn Hisyam, dan Zam,ah ibn Aswad.

Orang pertama yang secara terang-terangan menarik embargo itu adalah Zuhair ibn Umayyah. Di dekat Ka’bah, di hadapan orang banyak ia berseru lantang, “Wahai penduduk Makkah, relakah kalian menyantap makanan dan mengenakan pakaian, sementara Bani Hasyim dan Bani Muthallib binasa karena tidak dapat berjual-beli? Demi Allah aku tidak akan duduk sampai lembaran pemutus (silaturahmi) yang zalim ini dikoyak-koyak.”

Lalu, keempat tokoh yang lain mengamini pernyataan Zuhair. Setelah itu, Muth’im ibn ‘Adi berjalan mendekati lembaran kesepakatan, lalu merobeknya. Dari Ka’bah, kelima orang tokoh Quraisy diikuti sejumlah orang, bergerak menemui Bani Hasyim, Bani Muthallib, dan masyarakat muslim lainnya yang masih berada di Syi’ab Bani Muthallib. Mereka datang untuk meminta mereka kembali ke rumah masing masing.

Dengan ini berakhirlah masa embargo ekonomi yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Mereka sebagai para penentang dakwah Nabi Muhammad Saw belum mapu mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu membunuh Nabi Muhammad Saw. Sungguh perbuatan yang keji.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Kairo

Tidak ada komentar: