Awal Embargo Ekonomi dan Masa Kelam Kaum Muslim - IKPM KAIRO

Jumat, 20 Maret 2020

Awal Embargo Ekonomi dan Masa Kelam Kaum Muslim


“Termaktub dalam beberapa riwayat yang berbeda dari Musa bin Aqabah dari Ibn Ishaq dan selain dari mereka berdua menyebutkan bahwa pihak kafir Quraisy telah menyatukan kesepakatan untuk membunuh Rasulullah Saw."
Tentunya, dengan berbagai macam cara salah satunya embargo ekonomi yang diakukan oleh orang-orang kafir Quraisy yang menyebabkan penederitaan kaum muslimin semakin berat. Bahkan, dampak dari pada peristiwa itu juga terasa oleh kalangan orang-orang musyrik dari kalangan bani Hasyim dan Bani Muthallib.

Sementara penyebab yang memicu terjadinya peristwa ini adalah orang-orang muslim dan musyrik dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib menghalangi perencanaan pembunuhan Nabi Muhammad Saw, yang dimana orang-orang muslim menjaga Nabi Muhammad dengan penuh ketaqwaan kepada Allah Swt. Sementara orang-orang Musyrik dari kalangan mereka, menjaga dengan ketakutan akan hinaan daripada suku-suku lain.

Setelah pupus dari harapan untuk membujuk kedua Suku yang se-darah dengan Nabi Muhammad Saw itu, akhirnya kaum Quraisy mengemukakan perang dingin dengan mendzahirkan perjanjian akan “Embargo Ekonomi” terhadap orang orang muslim dan Bani Hasyim juga Bani Muthallib, dengan tidak akan menikahkan anak–anak mereka dan menghalangi perniagaan jula-beli untuk masuk ke daerah orang-orang muslim, Bani Muthallib dan Bani Hasyim.

Tiga tahun lamanya, hingga peristiwa kezaliman itu menuju pada puncak yang begitu mengenaskan. Bahkan, dalam sebuah riwayat yang sahih dalam bukunya, Al-Imam Al-Allamah Asy-Syahid Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengatakan bahwa tidak ada makanan yang datang kepada kaum muslimin hingga mereka hanya memakan kayu dan dedaunan pohon.

Menarik sebuah perhatian penulis, adalah peran orang-orang musyrik dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muthallib yang juga turut menjaga dan tertimpa kekejaman suku-suku arab lainnya di Makkah untuk menentang dakwah Rasulullah.

Jadi, sebenarnya orang-orang musyrik Bani Hasyim dan Bani Muthallib itu memadukan dua hal. Pertama, tetap berada dalam kemusyrikan dan kesombongan terhadap kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw.
Kedua, melestarikan tradisi saling melindungi antar sesama karib-kerabat dari kejahatan dan kezaliman orang asing, kendati kerabat sendiri yang bersalah.

Adapun bagi kaum muslimin, dengan meneladani kepribadian Nabi Muhammad Saw sebagai yang terdepan, ketabahan mereka untuk saling membela satu sama lain dibangun berdasarkan perintah Allah Swt, sikap lebih mengutamakan ahirat dibandingkan dunia, dan sikap lebih meremehkan dunia dibandingkan keridhaan Allah Swt.

Beberapa pelaku ghazw al-fikr berkata, “Sebenarnya fanatisme Bani Hasyim dan Bani Muthalliblah yang ikut serta berada di balik dakwah Rasulullah Saw. Fanatisme itulah yang selalu menjadi pelindung. Buktinya, ketika orang-orang musrik Quraisy menjatuhkan embargo terhadap kaum muslimin, mereka bersifat pasif.”

Dalam pendapat ini Al-Imam Al-Allamah Asy-Syahid Sa’id Ramadhan Al-Buthi menolak keras dengan mengatakan bahwa pernyataan di atas jelas-jelas dusta. Alasannya, adalah wajar jika tradisi saling melindungi masih dipegang teguh oleh Bani Muthallib dan Bani Hasyim. Itulah Yang menjadikan kedua pihak ini bersedia menjaga keselamatan Muhammad Saw ketika “Tangan-tangan asing” berniat menyakiti keponakan mereka.

Sebagaimana diketahui, tradisi saling melindungi yang sudah ada sejak zaman Jahiliyyah (al-hamiyyah al-jahiliyyah) ini menekankan betapa pentingnya membela keluarga dan kerabat tanpa memandang perinsip, bahkan tanpa memdulikan anggota keluarga yang dibela benar ataupun salah. Jadi, fanatisme yang ditunjukan kedua pihak ini betul-betul fanatisme dalam arti sesungguhnya, bukan yang lain.

Jadi, untuk apa sebenarnya mereka membela Nabi Muhammad Saw ? Mereka ikut merasakan penderitaan Rasulullah Saw dan para sahabat. Namun dalam menghadapi kaum Quraisy yang selalu memperlakukan umat islam dengan buruk, orang-orang musyrik Bani Hasyim dan Bani Muthallib sebenarnya tidak pernah beharap perlakuan buruk itu akan mereda.


Nantikan kisah selanjutnya!

Tidak ada komentar: