Langkah Bijaksana yang diambil Rasulullah Saw. dalam Menghadapi Berbagai Tekanan - IKPM KAIRO

Jumat, 13 Maret 2020

Langkah Bijaksana yang diambil Rasulullah Saw. dalam Menghadapi Berbagai Tekanan



Adapun di antara langkah bijaksana yang diambil Rasulullah Saw. dalam menghadapi tekanan sebagai berikut:

Darul-Arqom

Orang-orang Muslim di tengah berbagai tekanan pembesar Kafir Quraisy yang silih berganti, mereka tetap mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi, demi kemaslahatan diri mereka dan kepentingan Islam. Tempat tinggal Arqam bin Al-Arqam Al-Makhzumi yang berada di atas Bukit Safa dan terpencil dari pengintaian mata-mata Quraisy, menjadi markaz dakwah beliau, dan sekaligus menjadi tempat pertemuan orang-orang Muslim semenjak tahun kelima dari Nubuwah. Ini adalah salah satu langkah bijaksana yang diambil Oleh Rasulullah Saw. dalam menghadapi tekanan itu, beliau melarang menyembunyikan keislaman, ibadah, dakwah, dan pertemuannya. Tetapi Beliau tetap menampakan dakwahnya dan ibadah di tengah orang-orang Musyrik, dan sama sekali tidak mengurangi aktifitas tersebut. Namun Beliau tidak menemui Para sahabat kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi.

Sebab jika sampai diketahui beliau menemui mereka, tentu orang-orang Musyrik menghalangi usaha beliau untuk mensucikan jiwa orang-orang muslim dan mengajarkan Al-Qur'an. Bahkan tidak menutup kemungkinan yang menjurus kepada bentrokan fisik antara kedua belah pihak. Dan jika bentrok Fisik ini terjadi berulang-ulang dan berlarut-larut bisa menghancurkan orang-orang Muslim sendiri. Maka langkah yang paling bijaksana ialah dengan menyembunyikan keislaman mereka.

Hijrah Ke Habasyah

Berbagai tekanan yang dilancarkan orang-orang Quraisy dimulai pada pertengahan atau akhir tahun keempat dari Nubuwah, terutama diarahkan kepada orang-orang yang lemah. Hari demi hari dan bulan demi bulan tekanan mereka semakin keras hingga pertengahan tahun kelima, sehingga Makkah terasa sempit bagi orang-orang yang lemah itu. Mereka mulai berfikir untuk mencari jalan keluar dari siksaan yang pedih ini.

Akhirnya Rasulullah memerintahkan agar beberapa orang Muslim hijrah ke Habasyah, melepaskan diri dari cobaan sambil membawa agamanya. karena Rasulullah Saw. tahu bahwa Ashhamah An-Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah adalah seorang raja yang adil, tak akan ada seorangpun yang akan teraniaya di sisinya. Pada bulan Rajab tahun kelima dari Nubuwah, sekelompok sahabat Hijrah yang pertama kali ke Habasyah. Terdiri dari dua belas orang laki-laki dan empat orang wanita, yang dipimpin Utsman Bin Affan.  Sedangkan untuk hijrah yang kedua kalinya ke Habasyah, Hijrah ini lebih sulit dari yang sebelumnya. Sebab orang-orang Quraisy meningkatkan kewaspadaan dan menetapkan jalan bagi mereka untuk pergi ke Habasyah. Kali ini yang hijrah berjumlah delapan puluh tiga orang laki-laki, dan delapan belas atau sembilan belas wanita.

Setelah semua rencana mereka untuk menghalangi Kaum Muslimin Hijrah ke Habasyah gagal, mereka (orang-orang Musyrik) sangat meradang jika orang-orang Muslim memperoleh tempat yang aman bagi diri dan agama mereka. Untuk itu mereka mengutus dua orang yang cukup terpandang dan cerdik, yaitu Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabi'ah, sebelum keduanya masuk Islam. Yang tujuannya tidak lain adalah untuk melakukan tipu muslihat dalam menghadapi kaum muslimin yang Hijrah ke Habasyah dan mempengaruhi Raja Habasyah agar kaum Muslimin dikembalikan ke Makkah.

Namun Raja Najasyi tidak serta merta menanggapi permintaan dan pernyataan dari kedua utusan tadi, melainkan ia meneliti secara detil masalah ini dan mendengarkan dari masing-masing pihak. Yang menjadi juru bicara orang-orang Muslim adalah Ja'far bin Abu Thalib. Ia menjawab pertanyaan Raja Najasyi dengan penuh kejujuran tanpa ada sedikitpun yang disembunyikan. Lalu ia memerintahkan Ja'far untuk membacakan sedikit ajaran dari Allah yang dibawa Rasulullah Saw. Lalu Ja'far membacakan apa yang ia hafal, dari,”Kaf ha' ya' 'ain shad…” awal ayat surat Maryam. Demi Allah, Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya, begitu pula para uskupnya hingga jenggot mereka basah oleh air mata, tatkala mendengar apa yang dibacakan kepada mereka.
Amr bin Al-Ash tetap bersikukuh dengan pendapatnya dan keesokan harinya ia menghadap untuk kedua kalinya. Namun mereka harus pulang dengan muka masam karena
apa yang dibawanya tertolak.

Politik Negosiasi
Setelah dua pahlawan yang gagah berani ini masuk Islam, maka mendung serasa menggelantung dan orang-orang musyrik kerepotan mencari bentuk penyiksaan dan tekanan terhadap orang-orang muslim. Mereka berusaha mengajukan beberapa macam penawaran kepada Rasulullah Saw. yang memungkinkan bisa diajukan, dengan satu tujuan, menghentikan dakwah. Akan tetapi usahanya sama saja, mereka gagal mencapai apa yang mereka harapkan.

Dari riwayat yang dinukil Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq, dikatakan bahwa utbah ibn Rabi'ah – seorang pemimpin yang memiliki pengelihatan tajam terhadap rakyatnya – pernah berkata dihadapan majelis kaum Quraisy, “Wahai orang Quraisy, bagaimana jika aku menemui Muhammad untuk menawarkan beberapa hal? Siapa tahu ia bersedia menerima sebagian darinya supaya berhenti mengganggu kita?” orang-orang Quraisy menjawab, “Baiklah wahai Abul Walid, segeralah kau temui dia dan bicaralah dengannya.”

Utbah pun berangkat menemui Rasulullah Saw. setelah bertemu beliau, ia berkata,”Wahai keponakanku, sebagaimana kau ketahui, sesungguhnya engkau bagian dari kami. Keluargamu amatlah terpandang dan nasabmu amatlah luhur. Akan tetapi, kini kau telah membawa kepada kaummu suatu perkara yang berat, yang selain memecah belah mereka, engkau telah memupus impian mereka. Maka, sekarang dengarkanlah ucapanku. Aku akan menwarkan beberapa hal untuk dipertimbangkan, barangkali engkau bersedia menerima sebagian darinya.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Katakanlah wahai Abul Walid, aku akan mendengarkan.”
Utbah berkata, “Wahai keponakanku, jika yang kau bawa itu dimaksudkan untuk mendapatkan harta, akan kami kumpulkan semua harta kami untuk kuserahkan kepadamu
sehingga engkau menjadi orang paling kaya di antara kami semua. Jika engkau menginginkan kemuliaan, kami akan menjadikanmu pemimpin hingga kami tidak akan berani memutuskan suatu perkara tanpa restu darimu. Jika engkau menginginkan kerajaan, maka kami besedia mengangkatmu menjadi raja. Dan jika yang datang padamu ini (wahyu) adalah gangguan jin yang tidak dapat kau tangkal, maka kami akan mencari tabib terbaik. Kami bersedia menghabiskan harta yang kami miliki untuk membayar tabib tersebut sampai engkau terlepas dari gangguan jin itu.”

Mendengar tawaran Utbah, Rasulullah Saw. bersabda:
“Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Abul Walid?” “ya…,”Jawab Abul Walid. Rasulullah Saw. lalu lanjut bersabda, “kalau begitu, dengarkanlah apa yang kusampaikan ini……”

kemudian Rasulullah Saw. menilawahkan suatu ayat, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ha Mim. Diturunkan dari tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya); maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kamu dan kami ada dinding, maka bekerjalah kamu sesungguhnya kami bekerja (pula)'. Katakanlah Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka, tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukannya,”

Rasulullah Saw. terus membacakan ayat-ayat Allah itu di depan Utbah sampai firman Allah yang berbunyi, “Jika mereka berpaling, maka katakanlah, Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud, tiba-tiba Utbah mendekap mulut Rasulullah Saw. sambil memohon berhenti menilawahkan ayat Al-Qur'an. Utbah sangat takut mendengar ancaman yang terdapat di dalam ayat-ayat itu.

Tidak lama kemudian, Utbah kembali menemui kaumnya. Di luar dugaan, utusan kaum kafir Quraisy itu ternyata terpesona oleh keindahan ayat-ayat Al-Qur'an.
Orang-orang Quraisy bertanya, “Apa yang kau bawa, wahai Abul Walid?”
Utbah menjawab, “Aku datang membawa sebuah ucapan yang sangat indah dan belum pernah kudengar. Demi Tuhan, kata-kata itu bukanlah syair, bukan sihir, dan bukan pula mantra dukun. Wahai orang-orang Quraisy, patuhilah aku dan biarkanlah lelaki itu (Muhammad) dengan apa yang sedang dilakukannya. Janganlah kalian menggangu dia. Demi Tuhan, sungguh di dalam kata-kata yang telah kudengar darinya terdapat sebuah berita yang sangat agung. Andaikata ia dapat dikalahkan oleh bangsa Arab (selain Quraisy), kalian tidak perlu bersusah payah menghadapinya. Cukup mereka saja. Akan tetapi, jika ternyata ia berhasil menguasai bangsa Arab, maka kekuasaan itu akan menjadi kekuasaan bagi kalian juga, sebagaimana kejayaannya juga akan menjadi kejayaan bagi kalian.”

Mendengar ucapan Utbah yang benar-benar tak diduga itu, sontak orang-orang kafir Quraisy berkata, “Demi Tuhan, Muhammad telah menyihirmu dengan ucapannya.” Ubah menyahut, “Ini pendapatku, kalian boleh saja mengemukakan pendapat yang berbeda.”

Perjalanan situasi dan kondisi telah banyak yang berubah. Tetapi Abu Thalib masih dibayangi kekhawatiran terhadap gangguan orang-orang Musyrik terhadap anak saudaranya. Dia menyimak kembali satu dua peristiwa yang sudah terjadi. Dia bisa mencium bau busuk yang menyengat dan merasa yakin bahwa orang-orang musyrik hendak merusak perlindungannya, dengan maksud menghabisi anak saudaranya.

Hamzah atau Umar atau siapapun tentu tak akan sanggup menghalangi orang-orang Musyrik itu. Abu Thalib merasa yakin dengan hal itu, bahwa mereka telah sepakat untuk membunuh Rasulullah Saw. secara terang-terangan. Lalu Abu Thalib berdiri di tengah anggota keluarganya dari Bani Hasyim, bani Al-Muthalib dan Abdi Manaf, meminta kesedian mereka untuk melindungi anak saudaranya. Ternyata mereka menyanggupinya, yang kafir maupun yang muslim, sebagai langkah untuk menjaga kekerabatan. Yang tidak bergabung dalam kesedian ini adalah saudaranya, Abu Lahab. Dia memisahkan diri dari mereka dan bergabung bersama orang-orang Quraisy Lainnya.

Tidak ada komentar: