Peristiwa Hijrah Rasulullah Saw ke Thaif - IKPM KAIRO

Jumat, 17 April 2020

Peristiwa Hijrah Rasulullah Saw ke Thaif

Doc. Google

Setelah lamanya tersiksa di Makkah, Rasulullah saw memutuskan hijrah ke Thaif. Sesampainya di sana, beliau menyeru pembesar-pembesar Thaif untuk memeluk agama Allah. Namun sayang, dakwahnya ditolak mentah-mentah, mereka mencaci Rasulullah. Rasulullah meminta mereka agar tidak menyebarkan kabar kedatanganya kepada kaum Quraisy, namun mereka juga menolak permintaan tersebut. Bahkan, beberapa dari mereka melempari Rasulullah dengan batu sembari meneruskan cacian. Zaid bin Haritsah yang kala itu melindungi Rasulullah merasakan dampak yang cukup parah dengan mendapat beberapa luka di kepalanya, lantaran terkena lemparan batu penduduk Thaif.

Sampailah Rasulullah di kebun anggur milik Atabah bin Rabi’ah, lalu beliau menyandarkan diri di salah satu pohon dan berdo’a untuk penduduk Thaif. Melihat Keadaan Rasulullah, Atabah merasa iba dan menyuruh budaknya, Adas, untuk memberi Rasulullah seikat anggur. Ketika hendak makan, beliau mengucap ‘Bismillah’. Mendengar ucapan Rasulullah, Adas berkata “Kalimat yang anda ucapkan tidak pernah saya dengar di Thaif”. Rasulullah bertanya “Darimana kamu berasal?” Ia menjawab “Saya seorang Nasrani, dari kampung Al-Musil di Daerah Ninawa.” Rasulullah bertanya kembali “Berarti kau satu kampung dengan seorang saleh yang bernama Yunus bin Matta?” Adas menjawab “Bagaimana tuan bisa mengenal Yunus bin Matta?” Rasulullah menjawab “Yunus adalah saudaraku, ia seorang nabi demikian denganku.” Seketika Adas memeluk Rasulullah, juga mencium kepala, kedua tangan dan kakinya.

Rasulullah melanjutkan perjalanan kembali ke Makkah. Ketika malam tiba, ia sempatkan untuk shalat malam. Sehingga ketika segerombolan jin mendengar bacaan beliau, lalu mereka meyampaikan apa yang mereka dengar pada kaumnya sehingga kaumnya ikut beriman.

Zaid bin Haritsah yang menemani Rasulullah dari berangkat sampai kembali lagi ke Makkah bertanya “Wahai Rasulullah, kenapa engkau kembali lagi ke Makkah sedangkan engkau tau bahwa merekalah alasanmu untuk pergi ke Thaif?” Rasulullah menjawab “Wahai Zaid, Allah lah yang akan memberi kita kelapangan dan bantuan untuk menegakkan agama-Nya.”

Ibrah dan pelajaran yang dapat diambil:

1. Sifat sabar Rasulullah menerima segala cobaan dalam berdakwah. Hal ini juga diperlihatkan kala ‘Aisyah bertanya pada Rasulullah “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau menghadapi cobaan yang lebih pahit dari Perang Uhud?” Rasulullah menjawab “Menghadapi kaummu merupakan ujian yang berat. Kala aku berdakwah kepada kalangan Yalil bin ‘Abdil Kalal dan ditolak mentah-mentah dengan cara yang buruk. Sesampainya aku Qiran Tha’alib dan aku menengadah ke langit yang mana awan meneduhiku, kala itu Jibril datang kepadaku dan berkata “Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang kau katakan dan ia mengutus malaikat gunung kepadamu.” Rasulullah menjawab “Apa yang ia katakan?” Jibril menjawab “ Ia menitipkan salam padaku dan berkata: Aku telah mendengar tentang kaummu yang enggan mengikuti seruanmu. Aku diutus Tuhanmu untuk mematuhi perintahmu. Jika engkau berkehendak, aku bisa timpakan kepada mereka bukit Al-Akhsyabin” Rasulullah menjawab “ Aku hanya ingin mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukannya.

2. Sesungguhnya cobaan dan rintangan selalu diiringi dengan kemudahan. Sebagaimana Rasulullah yang ditimpa dengan cacian, makian, bahkan siksaan dari penduduk Thaif, Allah berikan setelahnya seorang hamba yang beriman dengan mendengar kenabianya.

3. Tegar dalam membantu dakwah Islam adalah kewajiban. Sebagaimana Zaid yang senantiasa menemani dan melindungi Rasulullah kala menerima siksaan dari penduduk Thaif.

4. Jin merupakan makhluk mukallaf yang dapat beriman pada perintah Allah ataupun membangkang.

5. Allah akan membantu kita pada saat kita memperjuangkan penegakan agamanya.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: