Permulaan Hijrah Kaum Muslimin ke Habasyah - IKPM KAIRO

Jumat, 03 April 2020

Permulaan Hijrah Kaum Muslimin ke Habasyah


Pada riwayat Musa bin Uqbah, menunjukkan bahwa peristiwa embargo terjadi sebelum perintah Nabi Muhammad SAW kepada sahabat sahabatnya untuk Hijrah ke Habasyah, akan tetapi perintah tersebut datang pada masa pemboikotan ini. Namun pada riwayat Ibn Ishaq menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah perintah Nabi untuk hijrah ke Habasyah dan juga setelah islamnya Umar bin Khatab. Sebagaimana tertuliskan dalam kitab Ar.Rahiq Al-Makhtum

Kekejaman yang dilakukan oleh orang orang kafir Quraisy tidak berhenti dengan berhentinya embargo ekonomi kepada kaum muslimin. Bahkan, mereka semakin menambahkan kepedihan-kepedihan fisik dan mental terhadap orang-orang mukmin. Rasulullah SAW melihat perlakuan Quraisy terhadapnya dan pengikutnya yang amat sangat menyiksa, dan kala itu beliau merasa tidak sanggup lagi dalam melindungi kaumnya, dan Rasulullah pun mengemukakan kepada umatnya untuk berhijrah ke Habsyah (Ethiopia) untuk sementara waktu.

Faktor yang menjadikan Habasyah sebagai kota pilihan untuk berhijah adalah:

1. Dikenalnya seorang raja yang memimpin di sana ialah raja yang adil dan tak pernah menzalimi penduduknya.

2. Negeri tersebut dikatakan oleh Rasulullah Saw sebagai Negeri yang benar dan jaya.

Jumlah kaum muslmin yang beangkat menuju kota tersebut berjumlah 80 orang.

Ketika Quraisy melihat kejadian ini mereka mengirimkan utusan kepada Najasyi (Raja Habasyah) yaitu Abdullah bin Abi Rabi'ah dan Amru bin Al-'Ash (mereka belum memeluk agama Islam) dan mereka membawa hadiah yang banyak untuk diberikan kepada raja habasyah dengan tujuan untuk menawan hati Najasyi. Dengan itu beliau akan menolak dan menyerahkan kepada mereka orang Islam yang hijrah ke sana. Akan tetapi Najasyi enggan menyerahkannya ke siapapun melainkan beliau mengetahui dengan jelas tentang Agama baru yang mereka anuti itu.

Orang Islampun masuk kehadapan Najasyi dimana dua orang utusan Quraisy berada disamping Najasyi. Raja Habsyah pun meminta dua orang Islam supaya menerangkan tentang diri mereka dan Agama yang mereka anut.

Ja'far bin Abi Thalib pun berkata “Wahai Raja, sebenarnya kami ini di masa-masa dahulu yaitu di zaman Jahiliyyah menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kejahatan, berperang, berkelahi, yang kuat menganiaya yang lemah sehingga Allah SWT mengutus seorang Rasul dari kalangan kami juga. Beliau itu memang terkenal dengan kejujuran, amanah, budi pekerti, dan utusan Allah itu selalu menyeru kami supaya berperilaku baik dan benar, bersifat dengan sifat yang terpuji, jujur, ikhlas dan beramanah, menyeru kami untuk menyembah Tuhan yang maha Esa dan meninggalkan penyembahan berhala, berlaku baik dengan tetangga, meniggalkan kejahatan dan peperangan yang berlarutan serta segala sesuatu yang terkeji. Seruannya kami terima dengan baik, segala sesuatu yang dibawanya kami percaya sepenuhnya. Tetapi kaum kami, termasuk dua orang utusan ini, menyiksa dan menekan kami supaya kami kembali kepada agama yang lama yaitu menyembah berhala. Setelah kami merasakan kesulitan dan penyiksaan yang tidak dapat kami menanggungnya maka kami keluar. Dan ke negara tuan lah yang kami pilih. Dengan harapan kami berlindung disini jauh dari penyiksaan dan kedzhaliman”

Lalu Najasyi meminta dari mereka untuk menunjukkan sesuatu antara apa yang dibawa oleh utusan Allah (Muhammad SAW). Kemudian Ja'far bin Abi Thalib membacakan Surat Maryam.

Setelah Najasyi mendengarnya beliau menangis sehingga air mata mengalir membasahi pipi dan janggutnya dan kemudian beliau berkata “Sesungguhnya apa yang kau baca tadi dengan apa yang dibawa Isa Alaihissalam adalah sumber yang sama. Setelah itu Raja menoleh kepada dua utusan Quraisy dan berkata : Pergilah dari sini dan aku tidak akan menyerahkan mereka ini (islam). Begitulah bentuk keadilan yang selalu sang raja terapkan dalam kepemimpinannya di Negeri Habasyah ini.

Dapat kita simpulkan tiga point penting dari hijrah pertama Islam ke Habasyah:

1. Berpegang teguh dengan Agama serta menegakkan Rukunnya merupakan asas segala kekuatan dan perisai yang wajib mempertahankan hak seseorang. Harta benda negara, kebebasan dan kemuliaan diri yang demikian adalah kewajiban tiap-tiap pembawa dakwah Islamiyah dan para mujahid hendaknya mengeluarkan segala tenaga dan kekuatannya demi mempertahankan kesucian agama ini.

Negara juga menjadi tapak untuk menegakkan agama dan harta kekayaan hidup, begitu pula sebagai senjata untuk mempertahankan kedaulatan dan kesucian agama. Andaikata keadaan terpaksa menggadaikan segala sesuatu demi kesucian agama maka di masa itu mestilah dilakukan apa saja bagi membolehkannya membela agama.  Tidak ada arti hidup tanpa agama, tidak ada arti hidup sekiranya agama sudah hancur, malah penghidupan tanpa agama lambat laun akan musnah dan binasa.

2. Menunjukkan titik percantuman dan integrasi di antara dua agama yaitu, agama yang dibawa oleh Muhammad SAW dan agama yang dibawa oleh Isa AS. Najasyi yang menjadi maharaja Habsyah negeri tempat orang-orang Islam berhijrah dan tempat berlindung adalah pemeluk agama Nasrani yang sejatinya penuh kepercayaan dan keikhlasan terhadap Nasraninya.

Sebagai bukti keikhlasan dan kepercayaan yang penuh beliau tidak memihak kepada pihak yang bertentangan dengan Aqidah pegangannya yang dibawa oleh Isa AS. Kalaulah benar seperti yang disebutkan oleh segolongan manusia yang mendakwa diri mereka adalah pengikut Isa sejati, dan percaya pada kitab injil dan bahawasanya Isa ialah anak Tuhan dan dia adalah salah satu dari uknum yang tiga, maka sudah tentu maharaja Najasyi juga seperti mereka ini, kerana setahu kita Maharaja Najasyi adalah seorang yang paling ikhlas kepada agama Nasrani.

Seperti yang kita lihat bahawa Najasyi satu pandangan dengan pandangan Islam dan beliau sendiri yang menegaskan, “Bahwa apa yang dibawa oleh Isa dan Muhammad itu dari sumber yang sama.” Penegasan ini diucapnya ketika pembesar-pembesar agama Kristian ada di sampingnya. Semua ini membuktikan kepada kita bahwa apa yang dibawa oleh para Anbiya seluruhnya adalah Aqidah yang satu, tidak benlainan. Adapun pendapat ahli kitab yang berbeda tentang Islam itu disebabkan hasad dengki mereka terhadap Islam seperti yang mereka katakan dulu.

3. Apabila terjadi sesuatu keadaan yang memaksa maka diharuskan kepada Islam untuk bernaung dan berlindung diri kepada ahli kitab seperti Najasyi maharaja Habsyah yang menganut agama Nashrani dan setelah itu akhirnya ia telah memeluk agama Islam. Perlindungan boleh didapati dari orang-orang yang belum masuk Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Thalib (Paman Nabi) ketika mereka pulang dari Habsyah dan seperti Mut'am ibn 'Ady yang melindungi Rasulullah SAW di Makkah ketika beliau pulang dari Ta'if, itu pun jika keadaan memaksa. Perkara ini dibolehkan asalkan ia tidak menjelaskan dakwah Islamiyyah dengan tidak melenceng dari hukum-hukum Islam.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: