Tahun Kesedihan: Wafatnya Abu Tholib dan Khodijah binti Khuwailid - IKPM KAIRO

Jumat, 10 April 2020

Tahun Kesedihan: Wafatnya Abu Tholib dan Khodijah binti Khuwailid


Setelah wafatnya Abdul Muthalib kakek Rasulullah Saw, maka berpindah kepengasuhan Rasulullah saw. ke tangan pamannya yaitu Abu Tholib. Allah memberi rasa  kasih sayang terhadap Rasulullah saw di hati Abu Tholib, ia takkan tidur kecuali di sampingnya,  setiap malam Abu Tholib mengganti posisi tidur Rasulullah saw karena khawatir dari serangan Quraisy di malam hari. Abu Tholib mempunyai banyak anak, akan tetapi takkan terasa kenyang jika tidak makan bersama Rasulullah saw. Abu Tholib menemani dan menjaga Rasulullah saw sampai akhir hayatnya.

Begitupun dengan Sayyidah Khodijah wanita yang pertama kali masuk Islam. Sosok wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah saw., dan tidak menikah dengan wanita selainnya sampai wafatnya, hingga setelah wafatnya Rasulullah saw masih sering menyebut namanya.

Pada tahun ke 10 dari kenabian, wafat istri tercinta Rasulullah saw yaitu Khodijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Tholib. Ibnu Sa’id berkata Jarak wafat antara wafatnya Khodijah dan Abu Tholib adalah satu bulan lima hari.

Ibnu Hisyam menceritakan dalam riwayatnya: Setelah Abu Tholib wafat kaum Quraisy memperhebatkan penentangan mereka terhadap Rasulullah saw dan kaum muslimin lainnya, lebih dari masa yang lampau, hingga orang biasa dari kaum Quraisy berani melemparkan pasir ke atas kepala Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw pulang dan anaknya pun melihat apa yang telah terjadi pada ayahnya kemudian ia langsung membersihkan kepala Rasulullah saw sambil menangis. Kemudian Rasulullah saw berkata : “Jangan menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah melindungi ayahmu.”

Rasulullah saw menamakan tahun kesedihan atas wafatnya Abu Tholib dan Khodijah karena penentangan dan penyiksaan terhadap kaum muslimin bertambah dari yang sebelumnya.

Pengajaran dan renungan:

Apa hikmah dari wafatnya Abu Tholib di masa ketika umat Islam memerlukan pertolongan (seperti bantuan Abu Tholib)? Seperti yang kita tau bahwa Abu Tholib telah menjaga dan melindungi Rasulullah Saw dalam dakwahnya dari siksaan dan kesusahan sampai akhir hayatnya. Apa hikmah dari wafatnya Khodijah binti Khuwailid di saat Rasulullah Saw sangat memerlukan kepada manusia yang dapat menghibur dan menenangkan hatinya saat duka cita dan meringankan beban dan tanggung jawab dakwah dengan nasihat dan penawar hati yang melegakan?

Di sini menunjukkan kepada kita semua perkara tentang asas Aqidah Islamiyyah. Jika Abu Tholib mempunyai umur yang panjang dan selalu ada di samping Rasulullah Saw hingga terdirinya negara Islam di Madinah dan Abu Tholib selalu ada untuk melindungi Rasulullah Saw dari siksaan kaum Quraisy, maka akan ada tanggapan bahwa Abu Tholib sebagai tokoh utama yang memainkan peran penting dalam dakwah Islam dan ialah yang membimbing dakwah ini dengan menggunakan pengaruh dan kedudukannya di kalangan masyarakat Quraisy. Dan dari sini orang akan mengambil kesempatan membuat penafsiran untuk memperkecilkan Rasulullah saw dan perjuangannya. Di samping melempar tuduhan bahwa Nabi Muhammad saw memang bernasib baik dari muslimin lainnya.

Semuanya adalah hikmah dan rahasia Ilahi, wafatnya Abu Tholib, Khodijah binti Khuwailid dan siapapun yang memberi pertolongan kepadanya sebenarnya mempunyai dua poin inti:

1. Pemeliharaan, penjagaan dan kemenangan tidak akan tercapai kecuali pertolongan dari Allah SWT.

2. Inti pemeliharaan dan penjagaan di sini bukanlah Rasulullah saw tidak akan diganggu sedikitpun, tetapi apa yang dimaksudkan oleh ayat Qur’an:
والله يعصمك من الناس

“Dan Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia.” (Ialah Allah akan memelihara kamu dari ancaman pembunuhan dan perseteruan yang akan memberhentikan perjalanan dakwah Islam)

Adapun kesengsaraan dan penyiksaan yang dirasakannya semasa dakwah adalah sesuatu yang sudah menjadi lumrah dan tradisi perjuangan kepada semua rasul. Kesengsaraan ini tidak bertentangan dengan pemeliharaan Ilahi yang dijanjikan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya. Andai kata Rasulullah saw dan Islam berjaya dengan mudah dalam usaha berdakwah, niscaya semua sahabat dan umat Islam seluruhnya akan menjadi berleha-leha tanpa ada usaha langsung dan akan terasa berat untuk menghadapi perjuangan dakwah Islam.

Perihal tentang mengapa Rasulullah saw menamakan tahun wafatnya Abu Tholib dan Khodijah binti Khuwailid sebagai tahun kesedihan baginya bukan semata-mata karena kesedihan yang mendalam atas kematian mereka. Akan tetapi dikarenakan jalan dan usaha untuk berdakwah hampir semuanya tertutup dan manusia tidak mau beriman dengan kebenaran yang dibawanya. Kemudian Allah menurunkan ayat untuk mengingatkan Rasulullah saw bahwa Allah mengutus rasul-Nya semata-mata menyeru dan menyampaikan seruan-Nya saja, tidak lebih dari itu dan tidak perlu terlalu berduka atas keengganan kaumnya. Allah SWT berfirman:

Yang artinya:
“Sungguh, kami mengetahui apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (Muhammad), (janganlah bersedih hati) karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah (33) Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul (34) Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu (Muhammad), maka sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh."(35)
(QS. Al-An'am 6: Ayat 33-35)

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: