Hijrah Rasulullah Saw serta Pembangunan Masjid Nabawi - IKPM KAIRO

Jumat, 15 Mei 2020

Hijrah Rasulullah Saw serta Pembangunan Masjid Nabawi

Doc. Google

Perjalanan hijrah beliau ditempuh selama 15 hari. Dimulai dari tangggal 2 Rabi’ul Awwal tahun 13 setelah bi’tsah dengan melewati jalan yang bukan jalan biasanya, karena para kuffar Quraisy telah memblokade seluruh jalur umum menuju Madinah. Akhirnya Rasulullah dan Abu Bakar melewati jalan yang lebih jauh yang ditunjukkan oleh ‘Abdullah bin ‘Arqath.

Sampailah mereka di quba’, tepatnya di kediaman Kultsum bin Hidam pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal.
Singkat cerita sampailah beliau di Madinah pada tanggal 15 Rabi’ul Awwal dan bermaqom di rumah Abu Ayyub al-Ansory, dan beliau masih menetap di sana sampai dibangun asas Daulah Islamiyyah yang pertama yakni Masjid Nabawi yang mulia.

Sejak Rasulullah melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah merupakan wujud
dari terbentuknya Daulah Islamiyah. Sejarah Rasulullah dan para sahabat juga tidak
datang sebagai penerapan praktis dari seruan manusia. Akan tetapi tabiat risalah Islam itu sendiri yang sudah memastikan keharusan adanya daulah atau wilayah bagi Islam. Agar bisa membangun akidah, syiar, ajaran, pemahaman, akhlak, keutamaan dan tradisi-tradisi serta syariat Islam. Karena pada saat itu, ummat Islam sangat membutuhkan adanya daulah yang bertanggung jawab pada setiap zaman. Salah satu hal yang dibutuhkan adanya Dar Islam agar bisa menjadi tumpuan risalah Islam, tatanan, akidah maupun akhlak.

Kehidupan maupun peradaban yang dapat menegakkan semua sektor kehidupan dilandaskan kepada risalah yang universal ini. Dan membuka pintu hijrah bagi  Muslimin dari wilayah orang-orang kafir dan menyimpang. Oleh sebab itu Rasulullah Saw melakukan beberapa tindakan sebelum tercetusnya Daulah Islamiyah secara sempurna. Beberapa hal tersebut yang menjadi dasar-dasar peletakan masyarakat baru bagi kaum Muhajirin dan kaum Anshor yang menjadi elemen utama dalam hal ini. Untuk itu kita harus mempelajari dan memahami secara keseluruhan hal apa saja yang dilakukan Rasulullah Saw dalam meletakkan dasar-dasar masyarakat tersebut.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam meletakkan dasar-dasar paling utama bagi adanya negara baru ini. dasar-dasar tersebut terkumpul dalam tiga hal utama, yaitu:

1. Pembangunan masjid

2. Mengikat tali persaudaraan antar muslim khususnya antar kaum Muhajirin dan kaum Anshor

3. Menyusun undang-undang dasar yang mengatur kehidupan ummat Islam, sekaligus mempertegas hubungan mereka dengan Non-Muslim, terkhusus kelompok Yahudi

Sebagaimana telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya, unta yang dikendarai Rasulullah Saw berhenti di sebuah tempat milik dua anak yatim golongan Anshor. Diceritakan bahwa dulunya, sebelum Rasulullah Saw hijrah dan tiba Madinah, tempat tersebut dulunya oleh As’ad bin Zararah telah dijadikan tempat tersebut sebagai musholla, tempat shalat bersama rekan-rekannya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw menjatuhkan pilihan di tempat itu untuk dijadikan masjid.

Rasulullah Saw lalu memanggil kedua anak yatim Anshor tersebut dan mengutarakan keinginannya untuk membeli tanah tersebut. Mendengar hal tersebut, kedua anak itu
menyatakan akan meghibahkan tanah tersebut kepada Rasulullah Saw. Akan tetapi, Beliau menolak dan tetap membayar harga tanah tersebut sebesar sepuluh dinar.
Kebetulan, di atas tanah tersebut tumbuh beberapa batang pohon gharqad dan kurma. Selain itu, juga terdapat beberapa kuburan kuno. Rasulullah Saw memerintahkan agar kuburan tersebut dibongkar, kemudian tulang belulang yang ada didalmnya dipindahkan. Sementara itu, pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya ditebang, dari kayu-kayu tebangan itulah yang nantinya akan disusun menjadi bagian kiblat Masjid Nabi.Panjang Masjid Nabi dari bagian depan sampai belakang adalah seratus hasta (sekitar 60 meter), sebagaimana kedua sisinya juga memiliki panjang yang hampir sama.

Bagian dinding itu diperkuat dengan menggunakan batu bata. Dalam proses pembangunannya, Rasulullah Saw terlibat langsung bersama para sahabat. Beliau ikut
mengangkut batu. Pada saat itu, arah kiblat Masjid Nabi mengarah ke arah Baitul Muqoddas. Pilar-pilar masjid terbuat dari batang pohon kurma, sedangkan bagian atap terbuat dari pelepahnya.

Ketika proses pembangunan masjid tersebut, para sahabat bertanya apakah masjid akan dibuat beratap. Kemudian Rasulullah menjawab bahwa masjid tersebut akan dibuat atap seperti dangau Musa as. yang terbuat dari beberapa ranting dan kayu tsimam. Sedangkan lantainya dibiarkan beralaskan bebatuan kecil dan kerikil.


Kala itu, Rasulullah Saw tak henti-hentinya mengucap doa yang berbunyi:


“Ya Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan akhirat. Maka tolonglah orang-orang Anshar dan Muhajirin.” (H.R. Bukhari)

Demikianlah bentuk masjid Nabi seperti yang telah disebutkan di atas tetap bertahan tanpa adanya perubahan sedikitpun hingga masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Siddiq. Setelah itu di masa khalifah Umar bin Khattab terjadi sedikit perbaikan tanpa merubah bentuk yang asli. Beliau tetap menjaga bentuk asli sebagaimana yang didirikan oleh Rasulullah Saw dengan menggunaan batu bata dan kayu kurma serta pilar yang tetap dibuat dari kayu. Akan tetapi, pada masa khalifah Utsman bin Affan-lah yang kemudianmelakukan renovasi besar-besaran terhadap Masjid Nabi dengan penambahan di beberapa bagian. Pada masa pemerintahan Utsman ra, dinding Masjid Nabi sudah dibuat dari batu berukir dan diplester.

Tim Kajian

Tidak ada komentar: