Pondasi Kedua Daulah Islamiyah: Persaudaraan antar Kaum Muslimin - IKPM KAIRO

Jumat, 22 Mei 2020

Pondasi Kedua Daulah Islamiyah: Persaudaraan antar Kaum Muslimin

Doc. Google

Kita sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri, membutuhkan bantuan kepada sesama dalam menjalankan kehidupan,maka dari itu Rasulullah Saw menjadikans persaudaraan antar kaum muslimin, sebagaimana firman Allah yang artinya:

”Sesungguhnya orang – orang mu’min itu bersaudara ...” ( QS. Al-Hujurat : 10 ) maka
persaudaraan antar kaum muslimin menjadi pondasi kedua setelah pembangunan masjid.

Pengertian dari sebuah persaudaraan sendiri ialah menumbuhkan rasa persaudaraan atas suatu dasar yang menjadikannya terikat. Membuat hubungan persaudaraan yang baik berasal dari pribadi perorangan yang menyadari bahwa menjalin hubungan persaudaraan sesama muslim adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan.

Dalam Islam, untuk membangun persaudaraan yang kokoh harus berlandaskan aqidah dan iman yang sejalan, karna jika tidak diiringi oleh aqidah dan iman yang sejalan akan menciptakan persaudaraan yang semu, terlebih lagi jika aqidah yang diimani tiap individualnya menuntut penganutnya untuk menerapkan suatu aturan tertentu dalam kehidupan yang mereka jalani. Persaudaraan antar kaum muslimin ini menjadi inti dari kokohnya suatu daulah, karna untuk membangun suatu daulah, harus diawali dengan adanya persatuan umat yang saling berkerja sama. Persatuan umat tidak bisa terwujudkan tanpa adanya jalinan persaudaraan yang baik, kasih sayang dan saling tolong menolong antar sesama, dan ketika prinsip ini telah diterapkan maka barulah kekuasaan dan undang – undang memainkan peranannya.

Karna itulah mengapa persaudaraan di kalangan sahabat dibangun Rasulullah Saw,
yang mana ajaran ini datang dari Allah melalui perantaranya, tidak ada yang membedakan mereka kecuali ketaqwaan dan amal sholih. Rasulullah Saw mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshor dengan tali persaudaraan, Beliau mempersaudarakan Ja’far bin Abi Tholib dengan Mu’adz bin Jabal , Hamzah bin Abdul Mutholib dengan Zaid bin Haritsah, Abu Bakar Ash-Shidiq dengan Khorijah bin Zuhair, Umar bin Khothob dengan Utbah bin Malik, Abdurahman bin Auf dengan Saad bin Rabi’, dan seterusnya. Mereka saling membantu, mengasihi dan menyayangi layaknya saudara kandung, ketika kaum Muhajirin meninggalkan tanah kelahiran mereka, meninggalkan harta benda mereka, kaum Anshor menyambut mereka dengan suka cita, mereka membagi harta benda yang mereka miliki.

Prinsip persaudaraan yang dibangun Rasulullah Saw di kalangan sahabat bukan sebagai retorika kosong yang disampaikan dari mulut ke mulut, melainkan diterapkan dalam kehidupan kaum Muhajirin dan Anshor.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori: ketika Rasulullah Saw mempersaudarakan Saad
bin Rabi’ dengan Abdurahman bin Auf, Saad bin Rabi’ berkata : “Sesungguhnya aku termasuk orang yang memiliki banyak harta dari kalangan Anshor, maka akan aku bagi setengah hartaku denganmu, dan aku memiliki dua istri, lihatlah mana yang kamu suka di antara mereka, maka aku akan menceraikannya untukmu, dan ketika sudah melewati masa iddahnya, maka menikahlah kau dengannya.” tetapi Abdurahman bin Auf menjawab : “Semoga Allah memberkatimu, keluargamu dan hartamu, aku hanya ingin kau menunjukanku arah menuju pasar Madinah.”

Hikmah dari kisah sahabat di sini ialah kecintaan Saad bin Rabi’ terhadap saudara yang dipersaudarakan Rasulullah Saw semata mata karna ingin meraih ridho Allah. Dunia tidak ada artinya lagi di mata sahabat, bahkan uslub yang digunakan Saad adalah setengah dari harta, bukan beberapa, hingga menawarkan salah seorang istri untuk dinikahinya, jiwa mereka sudah terdidik dengan pendidik terbaik yaitu oleh Rasulullah Saw sehingga kecintaan mereka antar saudara semata mata untuk mencari ridho Allah dan RasulNya. Dan ternyata tidak hanya Saad bin Rabi’ yang seperti itu, tetapi kaum Anshor secara umum melakukan hal yang sama, terlebih setelah hijrah Rasulullah Saw mempersaudarakan mereka dengan kaum Muhajirin.

Bukan hanya sebatas persaudaraan secara spiritual, Rasulullah Saw bahkan mengikat
tali persaudaraan antar muslimin hingga ke ranah material, ketetapan persaudaraan yang diikat Rasulullah Saw ini terus ditetapkan sebagai yang lebih utama daripada hubungan persaudaraan sedarah (termasuk hukum waris)

Mereka mewarisi harta mereka setelah meninggal kepada yang bukan saudara sedarah hingga datangnya Perang Badar Kubra. Ketika turun ayat Al Qur’an yang menyatakan:

“Dan orang – orang yag beriman setelah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka mereka termasuk golonganmu. Orang – orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya ( dari pada yang bukan kerabatnya) menurut kitab Allah, Sungguh, Allah mengetahui segala sesuatu. “ (QS. Al-Anfal : 75). Ayat inilah yang menghapus semua ketetapan hukum yang pernah berlaku sebelumnya. Dan hukum waris antar para sahabat yang dijadikan saudara oleh Rasulullah Saw pun dianggap tidak berlaku lagi. Sejak saat itu, semua hukum waris kembali berdasarkan nasab dan hubungan darah, sedangkan semua umat Islam tetap dinyatakan sebagai saudara.

Imam Bukhori meriwayatkan sebuah hadist dari Ibnu Abbas ra “Ketika orang – orang Muhajirin baru tiba di Madinah, tiap – tiap mereka berhak mewarisi harta peninggalan saudaranya dari kalangan Anshor - dengan mengesampingkan hubungan darah –sebagaimana ditetapkan Rasulullah Saw." Tetapi, ketika turun ayat Al Qur’an yang berbunyi : “Bagi tiap – tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapaknya dan kerabat karib, Kami jadikan pewaris pewarisnya...” ( QS. An-Nisa’ :33) dilanjutkan dengan firman Allah, “ Dan orang – orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah mereka bagiannya ...” ( QS. An-Nisa’ :33 ). Yang dimaksud dengan “bersumpah” adalah bersumpah untuk menolong, melindungi dan menasehati. Maka, sejak saat itu hukum warisan berdasarkan persaudaraan yang pernah ditetapkan Rasulullah Saw dihapuskan, dan hubungan darah kembali digunakan bagi sesama muslim.

Adapun hikmah dari hak waris berdasarkan hubungan persaudaraan seiman ialah ketika pada masa awal hijrah, kaum Muhajirin sedang menjalani masa – masa sulit karna terpisah dari keluarga, tempat tinggal dan harta benda mereka di Makkah, kemudian menjadi “tamu” bagi kaum Anshor di Madinah. Tindakan Rasulullah Saw mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshor ini merupakan jaminan demi terwujudnya tanggung jawab yang mereka pikul. Tanggung jawab memiliki arti yang
lebih kuat daripada sekedar persaudaraan disebabkan hubungan darah.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, ketika kalangan sahabat Muhajirin sudah mulai mapan menjalani hidup di Madinah dan Islam sudah mulai kokoh, maka tidak akan menjadi masalah jika hukum ini dikembalikan ke tempat semula. Segala kekhawatiran akan hancurnya ikatan persaudaraan antar umat Islam di Madinah telah sirna. Mereka semua bernaung di bawah payung Ukhuwah Islamiyyah yang berlaku bagi semua muslim.


Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: