Bani Qainuqa’: Awal Pengkhianatan Yahudi terhadap Muslimin - IKPM KAIRO

Jumat, 12 Juni 2020

Bani Qainuqa’: Awal Pengkhianatan Yahudi terhadap Muslimin

Doc. Google

Keberadaan Yahudi sebagai bagian dari masyarakat Madinah tidak dapat dipungkiri. Di awal-awal berdirinya Daulah Islamiyah di Madinah, terdapat tiga kabilah besar Yahudi yang tinggal disana. Kabilah-kabilah tersebut adalah Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.

Walaupun mereka membenci Islam dalam dirinya, namun saat itu mereka tidak menampakkan permusuhan. Oleh karena itu Rasulullah merasa perlu untuk mengadakan perjanjian dengan mereka untuk semakin memperkuat sendi-sendi masyarakat Madinah serta menjaga perdamaian antara kedua kaum beragama. Perjanjian tersebut tertulis di dalam Piagam Madinah.

Bani Qainuqa adalah salah satu dari suku Yahudi yang terikat perjanjian tersebut. Mereka terkenal lihai dalam hal perperangan. Hal itu dapat dilihat dari kemenangan mereka atas musuh-musuh mereka. Dan mereka juga memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi masyarakat Madinah kala itu. Di mana mereka memiliki sebuah pasar yang di sebut dengan ‘Pasar Bani Qainuqa’. Kaum muslimin yang pada saat itu belum memiliki pasar sendiri pun banyak yang berdagang dan berbelanja di pasar tersebut.

Pengkhianatan Bani Qainuqa’ 
Kebencian mereka terhadap muslimin pun semakin bertambah ketika kaum muslimin
berhasil meraih kemenangan atas kaum kafir Quraisy dalam perang Badar. Dengan berbagai macam cara mereka menghembuskan fitnah untuk menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin. Rasulullah berulang kali menasehati mereka dan menyerukan mereka kepada Islam. Namun hal tersebut justru semakin membuat mereka angkuh dan mengejek kaum muslimin.

Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Ishaq:
Salah satu perkara yang berhubungan dengan Bani Qainuqa’ adalah ketika Rasulullah Saw. mengumpulkan mereka di pasar Qainuqa’ dan bersabda, “Wahai orang-orang Yahudi, takutlah kalian kepada Allah Swt., seperti petaka yang telah menimpakaum Quraisy. Masuklah kalian ke dalam Islam, karena kalian telah mengetahui bahwa aku benar-benar seorang nabi yang diutus. Kalian mengetahui hal itu dalam kitab suci kami, dan di dalam janji Allah kepada kalian.

”Mereka berkata, “Wahai Muhammad, apakah kamu menganggap kami seperti kaummu?Janganlah tertipu hanya karena engkau menghadapi suatu kaum yang tidak memiliki pengetahuan tentang perang, sehingga engkau dapat mengambil kesempatan. Demi Tuhan, seandainya engkau memerangi kami, engkau pasti mengerti, bahwa kami adalah orangnya.”

Pada saat itu turunlah firman Allah yang artinya: "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, "Kalian pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati." (Ali-Imran :12-13)

Kebencian tersebut pun berujung dengan pengkhianatan Bani Qainuqa’ terhadap
perjanjian yang telah disepakati antara mereka dan kaum Muslimin. Yaitu ketika seorang perempuan Arab datang membawa barang dagangan untuk dijual di pasar Qainuqa’. Di situ ia menemui seorang pandai emas. Tiba-tiba, orang-orang di pasar Qainuqa’ meminta perempuan itu untuk membuka cadar yang dikenakannya. Tentu saja perempuan itu membela diri dan menolak. Akhirnya, ditempuhlah cara-cara licik. Si pandai emas mengikat ujung kain perempuan itu secara diam-diam. Ketika berdiri, kain yang ia gunakan terlepas. Orang-orang Qainuqa’ ramai menertawakannya. Dan perempuan Arab itu menjerit-jerit menahan malu.

Dalam pada itu, muncullah lelaki Muslim dan langsung menyerangvsi pandai emas hingga tewas. Karena ia orang Yahudi, maka orang-orang Yahudi yang ada di situ balik mengeroyok si Muslim sampai tewas. Setelah itu, berita pembunuhan tersebut menyebar luas. Umat Islam marah mendengarnya. Maka, meletuslah peperangan antara kaum muslimin dengan Bani Qainuqa’. Merekalah kaum Yahudi yang pertama melanggar perjanjian dengan Rasulullah Saw.

Peran Si Munafik
Ketika kabar itu sampai kepada Rasulllah Saw., beliau memerintahkan agar Bani
Qainuqa’ dikepung. Ketika melihat kedatangan kaum muslimin, orang-orang Yahudi segera berlindung di balik benteng-benteng mereka. Setelah 15 hari pengepungan, akhirnya Bani Qainuqa’ menyerah dan tunduk di bawah aturan Islam. Mereka menyerahkan keputusannya kepada Rasulullah Saw

Disaat itu, tampillah seorang tokoh munafik Abdullah ibn Ubayy ibn Salul menghadap
Rasulullah Saw. dan membujuknya untuk tidak membunuh mereka. Rasulullah Saw. tidak menanggapi permintaan tersebut, namun Abdullah bersikeras hingga akhirnya Rasulullah Saw. memutuskan untuk mengusir mereka dari Madinah. Beliau bersabda kepada Abdullah ibn Ubayy, “Mereka adalah milikmu. Perintahkan mereka keluar dari Madinah, dan jangan tinggal di dekat kota ini.” Maka, orang-orang Bani Qainuqa’ pun kemudian keluar dari Madinah menuju Syam. Tidak sedikit dari mereka yang meregang nyawa di tempat yang baru.

Pada saat itu, Ubadah ibn Shamit ra. masih menjalin perjanjian damai dengan kaum Yahudi, seperti yang dilakukan oleh Abdullah ibn Ubayy. Mendengar pengusiran itu, Ubadah menemui Rasulullah Saw.dan berkata, “Sesungguhnya aku akan berwali kepada Allah, Rasulullah Saw., dan orang-orang mukmin. Dan aku berlepas tangan dari perjanjian yang diucapkan orang-orang kafir itu dan perwalian kepada mereka.” Disaat itulah turun ayat yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka, kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata; ‘kami takut akan bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka, karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Al-Maidah :51-52)

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: