Gejolak Perang Uhud - IKPM KAIRO

Jumat, 19 Juni 2020

Gejolak Perang Uhud

Doc. Google

Penyebab terjadinya perang Uhud adalah berkumpulnya para pembesar
Quraisy yang selamat pada perang Badar. Mereka sepakat untuk membalaskan
dendam, dan membunuh Rasulullah Saw. Mereka menggalang kekuatan dengan
barang-barang berharga yang dimiliki oleh kafilah kepemimpinan Abu Sufyan.
Seluruh pasukan Quraisy bersatu padu. Bahkan ada satu kelompok yang bukan
dari mereka, bernama al-Ahabish (gabungan kabilah-kabilah dan suku kecil,
pemukanya adalah al-Haristh bin Abd ibn manaf bin Kinanah. Hubungan mereka
dengan Quraisy sangat erat). Dan akhirnya mereka keluar dari Makkah untuk bertempur dengan jumlah 3000 tentara.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah Saw. mengadakan musyawarah dengan sahabat. Dalam musyawarah tersebut, Rasulullah Saw. meminta para sahabat untuk memilih, apakah mereka keluar dari Madinah untuk menghadapi musuh, atau menetap di kota sampai musuh tiba. Ternyata, beberapa sahabat mengusulkan untuk menetap di Madinah. Abdullah bin Ubayy bin Salul adalah salah satu yang berpendapat untuk menetap, dia adalah gembongnya kaum
munafik nantinya.

Namun sebagian mereka mengusulkan untuk keluar, khususnya sahabat yang tidak ikut di perang Badar, agar bisa menyongsong musuh. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, keluarlah bersama kami mengahadapi musuh, agar mereka tidak mengira kita takut atau lemah.” Mereka terus mendesak Rasulullah, sehingga permintaan mereka dituruti oleh beliau.

Maka, pada Sabtu 7 Syawwal tahun ke-2 Hijrah, keluarlah Rasulullah bersama kurang lebih 1000 pasukan. Sesampainya mereka di antara gunung Uhud
dan kota Madinah, Abdullah bin Abu Sahul melakukan sesuatu yang aneh, dia dan beberapa pengikutnya membelot, dan ingin kembali ke Madinah. Tanpa rasa malu dan takut, dia berkata, “Ia (Muhammad Saw.) telah menentangku, dan menuruti bocah-bocah yang belum matang akalnya. Padahal, kami tidak tahu untuk apa kami berperang.”

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Kaum Muslimin berbeda pendapat akan orang-orang yang berkhianat tersebut. Satu kelompok mengatakan bahwa mereka harus dibunuh, dan satu kelompok lagi mengatakan, mereka diseru lagi unutk bergabung. Maka, pada kejadian tersebut, turunlah firman Allah:

"Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi)
orang-orang munafik, padahal Allah telah mengembalikan mereka (kepada
kekafiran) disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang yang telah dibiarkan sesat oleh Allah? Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi
petunjuk) baginya."

Rasulullah bersama pasukan kaum Muslimin –yang jumlahnya 700-
mendirikan kemah di lembah gunung Uhud. Dengan menghadap ke kota Madinah, maka gunung Uhud berada tepat di belakang mereka. Beberapa saaat
kemudian, Rasulullah menempatkan 50 pemanah ke lereng gunung Uhud, pimpinan yang ditunjuk adalah Abdullah bin Jubair ra. Pesan Rasulullah untuk para pemanah, “Tetaplah kalian berada di barisan ini, dan lindungilah bagian belakang kami (Kaum Muslimin). Jika kalian melihat pasukan kita sudah menang, janganlah kalian ikut turun untuk bersenang. Dan apabila kalian melihat kami dalam keadaan terdesak/kalah, janganlah kalian ikut turun untuk menolong.”

Dalam perang Uhud, rasulullah menyerahkan bendera/panji pasukan Islam ke tangan Mus’ab bin Umai ra. Sedangkan di pihak musuh, sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid, yang ketika itu belum masuk Islam. Dan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal.

Dalam waktu yang singkat, kaum Muslimin berhasil memorakporandakan pasukan musuh yang jumlah jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan pasukan Muslimin. Di barisan terdepan Muslimin ada Abu Dujanah, Hamzah bin Abi Thalib, dan Mus’ab bin Umair. Tak lama kemudian, Mus’ab bin Umair syahid di medan perang. Panji pasukan Muslimin diambil alih oleh Ali bin Abi Thalib. Pertolongan Allah datang.

Kemenangan sudah di depan mata kaum Muslimin. Pertahanan pasukan musuh kacau balau, kondisi ini memaksa mereka yang masih hidup mundur, kemudian langsung disambut oleh caci maki perampuan-perempuan Quraisy yang
berdiri di garis belakang. Kerena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kaum
Muslimin terus mengejar musuh yang lari meninggalkan medan perang dan harta
rampasan.

Melihat tanda-tanda kemenangan ini, pasukan pemanah yang diletakkan di
atas Uhud, berbondong-bondong turun untuk memungut harta rampasan, karena
mereka mengira bahwa perang benar-benar telah usai, dan kemengangan berada di pihak mereka. Abdullah bin Jubair, sebagai kepala pasukan pemanah menetap di atas bersama segelintir pasukan yang taat. Abdullah berkata, “Aku tidak akan
menentang perintah Rasulku.”

Ternyata, Khalid bin Walid yang sudah mundur bersama pasukannya, melihat kondisi gunung Uhud yang nyaris kosong. Ia memanfaatkan keadaan. Segera ia kerahkan pasukannya untuk kembali menyerang pasukan Muslimin. Langkah Khalid diikuti oleh Ikrimah bin Abu Jahal yang menyerang  Muslimin dari bagian belakang. Menerima serangan dadakan yang seperti itu, kaum Muslimin benar-benar kalang kabut. Pimpinan pasukan pemanah, Abdullah bin Jubair gugur. Pertahanan Muslimin yang tadinya sangat kokoh, tiba-tiba rapuh dan mudah dipatahkan.

Kaum Muslimin mulai merasa gencar, sedangkan pasukan musuh terus mendesak, sampai-sampai Rasulullah sendiri terkena lemparan batu, dan terluka
di bagian pipi. Seraya menyeka wajah yang dialiri darah, Rasulullah bersabda,
“Bagaimana mungkin bisa beruntung suatu kaum yang membuat luka wajah nabi
mereka sendiri, padahal ia menyeru mereka pada Tuhan mereka.”

Kemudian Fatimah datang guna membersihkan darah dari wajah
Rasulullah, sedangkan Ali bin Abi Thalib menungakan air ke wajah beliau
dengan perisai kulit miliknya. Karena tindakan itu malah memperbanyak darah
mengalir, Fatimah lalu menyobek sehelai kain dan membakarnya. Setelah menjadi
abu, ia meletakannya pada wajah Rasulullah. Darahpun berhenti mengalir.

Dalam situasi seperti itu, menyebar sebuah berita bahwa Rasulullah telah wafat. Kabar itulah yang membuat iman dan nyali Muslim yang masih tersisa menjadi lemah, mereka berkata, “Apa gunanya kita di sini jika Rasulullah telah wafat?” lalu mereka berbalik arah dan meninggalkan pertempuran.

Anas bin Nadhir ra. yang melihat mereka berseru, “Justru sebaliknya, apa
guna hidup jika Rasulullah telah tiada!” Kemudia Anas memandang mereka dengan tajam seraya menunujuk dan berkata lagi, “Ya Allah, aku berlepas tangan terhadap apa yang dilakukan oleh mereka (munafik). Dan aku sangat menyayangkan atas apa yang dikatakan oleh mereka itu.” Setelah itu, Anas melesat ke barisan depan, kembali bertempur, hingga akhirnya Anas bin Nadhir syahid di perang Uhud.

Di tengah pertempuran Uhud inilah terlihat sangat jelas pengorbanan para
sahabat untuk Rasulullah SAW. mereka bahkan rela kehilangan nyawa sendiri.
Dalam riwayatnya, Imam Bukhari menyatakan bahwa beberapa sahabat
melindungi Rasulullah menggunakan tubuh mereka sendiri. Seperti Abu Thalhah
yang melindungi Rasulullah di bagian depan menggunakan tubuhnya. Sebuah
perisai kulit ia kenakan. Abu Thalhah sendiri adalah seorang pemanah yang sangat handal, setiap kali Thalhah melepaskan anak panah, Rasulullah selalu menyempatkan melihat (melongok) pada orang banyak. Pada saat seperti itu Abu Thalah berkata, “Demi ayah dan ibuku, janganlah engaku melongokkan kepalamu, kerena engkau akan terkena panah yang mereka lepaskan. Biarlah kugunakan tubuhku untuk melindungi tubuhmu.”

Begitupula Abu Dujanah, ia menjadikan dirinya sebagai perisai bagi Rasulullah.
Meskipun beberapa kali anak panah tertancap di puggungnya, dia tidak pernah
membiarkan tubuh Rasulullah terluka.
Ziyad bin Sakan, juga menjadikan dirinya sebagai perisai yang melindungi Rasulullah Saw bersama lima sahabat lainnya, mereka menghadang segala ancaman yang ingin menyakiti Rasulullah Saw.

Menurut penafsiran Ibnu Hisyam, sahabat yang terakhir gugur dalam peperang Uhud adalah Imarah bin Yazid bin Sakan. Dia adalah sahabat yang melindungi Rasulullah dari bagian bawah, tubuhnya banyak terluka. Pada saat genting seperti itu, Rasulullah sempat berseru, “Dekatkanlah ia
(Imarah) kepadaku.” Maka Imarah pun mendekatkan kaki (tubuhnya) kepada
Rasulullah. Dan dia gugur dengan pipi menempel di kaki Rasulullah.

Setelah perang mulai agak reda, kaum Muslimin mulai terheran menyadari
bahwa banyak di antara mereka yang gugur. Di antara sahabat dan pasukan Muslimin yang syahid ketika itu antara lain; Hamzah bin Abdul muththalib Al Yamani, Anas bin Nadhir, Mus’ab bin Umair dan sejumlah sahabat yang lainnya.
Wafatnya Hamzah, sungguh membuat sakit hati Rasulullah sangat dalam. Ditambah lagi kondisi jenazahnya yang sudah rusak; dadanya terbelah, dan bagian hidung dan telinganya terpotong. Semua ahli sejarah sepakat bahwa yang melakukan tindakan keji terhadap tubuh Hamzah adalah Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Dia bahkan sempat mengunyah jantung Hamzah, sedangkan telinga dan hidungnya dijadikan gantungan kunci.

Selanjutnya, Rasulullah bersama sahabat lainnya mulai mengebumikan
jenazah parah syuhada’. Satu helai kain digunakan untuk dua syahid, untuk
masing-masing dari mereka, Rasulullah bersabda, “siapa di antara mereka yang
paling bayak hafalan Qurannya?” setelah ditentukan, Rasulullah memerintahkan
agar jenazah yang bersangkutan diletakkan di bagian depan liang lahad. Saat pemakaman berlangsung, Rasulullah juga bersabda, “Aku akan menjadi saksi bagi
mereka nanti di hari kiamat.” Rasulullah juga memerintahkan agar mereka dimakamkan bersama darah dan pakaian mereka, tanpa dibasuh dan dishalatkan terlebih dahulu.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: