Kisah Terusirnya Bani Nadhir - IKPM KAIRO

Jumat, 26 Juni 2020

Kisah Terusirnya Bani Nadhir

Doc. Google

Bani Nadhir adalah kaum Yahudi yang bertempat tinggal di sekitar pegunungan yang bernama Nadhir. Pada hari Sabtu di bulan Rabiul Awwal tahun 4 hijriah, Nabi berkehendak untuk pergi kepada Bani Nadhir untuk membayar diyat. Beliau pergi bersama Abu Bakar, Umar, dan sahabat-sahabat yang lain. Dalam riwayat Ibnu Sa‘ad dijelaskan, Rasulullah Saw. bersama sejumlah sahabat Muhajirin dan Anshar keluar dari Madinah untuk shalat di masjid Quba‘, lalu bergerakm perkampungan Bani Nadhir.

Rasulullah Saw. datang untuk meminta bantuan mereka dalam penyelesaian pembayaran diyat atas kematian dua orang Bani Kilab, yang telah mendapatkan jaminan keamanan dan perlindungan dari Rasulullah Saw., di tangan Amr bin Umayyah Al-Dhamri yang Muslim. Sementara Bani Nadhir diketahui memiliki hubungan yang baik dan bersekutu dengan Bani Kilab. Mereka menyetujui permintaan Baginda dan mempersiapkan kedatangannya dengan menyediakan suguhan-suguhan makanan dan minuman.

Tetapi pemimpin Bani Nadhir, Huyay, dan beberapa orang dari mereka -Yahudi- pergi keluar, berpura-pura memberi instruksi untuk menghibur para tamunya. Ibnu Ishaq dan lainnya meriwayatkan, ―Baiklah, Abu Al-Qasim. Kami akan memenuhi keinginanmu, kata Bani Nadhir kepada Rasulullah Saw. sementara beberapa orang dari mereka saling berbisik dan merencanakan pengkhianatan kepada Rasulullah Saw. Amr bin Jihasy Al-Nahdari
berkata, ―Aku yang akan naik ke atap rumah dan melemparkan sebongkah batu ke arahnya (Rasulullah Saw). Salam bin Misykam (seseorang dari Bani Nadhir) mengatakan: ―Jangan lakukan itu! Sungguh, Allah akan memberitahu niat buruk kalian. Dan akan memutuskan perjanjian damai antara kita

Saat itu -ketika berdiri di sisi dinding-, Jibril datang, tak terlihat oleh yang lain, dan mengabarkan bahwa mereka merencanakan pembunuhannya. Maka, Nabi segera bangkit pulang ke Madinah dan disusul oleh para sahabatnya. Setiba di Madinah sahabat menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Nabi menjelaskan niat buruk mereka, lalu mengutus Muhammad ibn Maslamah pergi ke Bani Nadhir untuk menyampaikan pesan Beliau. Tanpa menunggu lama lelaki itu pergi dengan cepat menuju benteng dan para pemimpin mereka keluar, ia berkata ―Rasulullah telah mengutusku untuk datang kepada kalian dan menyampaikan pesan: Pergilah kalian dari negeriku, kalian telah bermaksud melakukan pengkhianatan. Siapa pun diantara kalian yang masih ada setelah itu, akan dipenggal kepalanya‘. ―hei anak Maslamah, kata mereka. ―kami tak menyangka seorang Aus dapat menyampaikan pesan seperti itu kepada kami. ―hati kami telah berubah katanya.

Kemudian ketika mereka hendak pergi, Abdullah bin Ubayy bin Salul menahan dan berjanji akan mengirimi mereka pasukan sebanyak 2000 orang untuk berperang. Dan mereka mengira Bani Ghatafan dan Bani Quraizah pasti tidak akan diam saja. Hal ini diabadikan dalam al-qur‘an:


"Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu."

Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah Saw. mempersiapkan pasukan dan menyerahkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke benteng mereka, sedangkan urusan di Madinah diserahkan
kepada Abdullah bin Umi Maktum.

Sesampainya Rasulullah dan pasukannya mengepung benteng mereka, mereka menjumpai benteng yang dilengkapi dengan panah dan bebatuan yang besar. Namun,A bin Ubayy yang sebelumnya berjanji, berkhianat, dan pasukan yang ia janjikan tak kunjung tiba. Rasulullah Saw. memerintahkan untuk menebang sebagian pohon kurma disekitar benteng tersebut. Lalu mereka berkata: ―Wahai Muhammad, kau telah melarang untuk melakukan kerusakan dan mencaci yang berbuat demikian. Lalu mengapa kau menebang pohon kurma ini dan membakarnya? Setelah kejadian ini turunlah firman Allah dalam surah Al-Hasyr ayat 5:

“Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.”

Akhirnya mereka menyerah dan memohon kepada Rasulullah Saw. agar diizinkan untuk membawa barang yang mereka hendak bawa. Namun Rasulullah Saw. menolak seraya bersabda: “kali ini aku tak akan mengabulkan permintaan kalian. Kalian hanya boleh membawa barang yang
bisa dibawa seekor unta, kecuali senjata”.

Mereka mematuhi perintah Rasulullah dan berkemas untuk pergi. Pendapat Ibnu Hisyam, di antara mereka ada yang merobohkan rumahnya dan mengambil daun pintunya. Mereka pun menyebar, ada yang pergi menuju Khaibar, ada pula yang pergi ke Syam. Hanya dua orang yang bersedia masuk Islam, yaitu; Yamin bin Amir bin Ka‘ab (sepupu Amr bin Jihasy) dan Abu Sa‘ad bin Wahb. Rasulullah Saw. kemudian membagi harta yang ditinggalkan Yahudi Bani Nadhir kepada kaum Muhajirin dan 2 orang Anshor yaitu; Sahl bin Hanif dan Abu Dujanah Simak bin Kharsyah, karena kondisi mereka yang fakir. Patut kita ketahui bahwa harta Bani Nadhir yang ditinggalkan ini adalah kepemilikan Rasulullah Saw. sepenuhnya secara mutlak. Al-Baladzuri dalam kitabnya Futuh al-Buldan menuturkan bahwa Rasulullah Saw. memanfaatkan tanah itu untuk bercocok tanam di bawah pohon kurma yang telah dibakar dan menyisihkan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan istri-istrinya, sisanya digunakan untuk pengadaan hewan kendaraan dan senjata-senjata peperangan. Dari peristiwa perang terhadap Bani Nadhir ini turunlah surah Al-Hasyr secara keseluruhan yang menjelaskan tentang kebijakan pembagian harta Bani Nadhir tersebut oleh Rasulullah Saw.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: