Menjadi Pendidik Generasi Rabbani bersama Al-Quran - IKPM KAIRO

Minggu, 28 Juni 2020

Menjadi Pendidik Generasi Rabbani bersama Al-Quran

Pada hari Jumat lalu (26/6), salah satu alumni Gontor Putri, Hamidah Hasan, menyampaikan materi yang bertema “Menjadi pendidik generasi rabbani dengan Al-Quran”. Bersama anaknya Ula yang sudah menghafal delapan juz pada usianya yang tujuh tahun, Bu Hamidah mengajarkan kita bagaimana menjadi orangtua yang mampu mendorong generasi penerusnya untuk mencintai Al-Quran, dari masih berupa janin hingga anak tersebut lahir.

Doc. Google

Sebelum memberikan tips-tips untuk mendidik anak dengan Al-Quran, ia menjelaskan ada beberapa fase yang harus dipersiapkan dalam mendidik anak. Dimulai dari tahapan pra-nikah, ia menganjurkan pada kita untuk mencari pasangan yang unggul dengan visisnya sama dengan kita yaitu mendidik anak dengan Al-Quran, yang selanjutnya adalah fase janin, di dalam fase ini hendaknya kita memperbanyak mendengarkan Al-Quran, karena anak yang masih berada di dalam janin ini dapat merespon apa yang kita perdengarkan untuknya.

Lalu lanjut pada fase setelah kelahiran, sama dengan fase janin, kita hendaknya untuk banyak memperdengarkan Al-Quran pada anak, sebab Al-Quran dapat mengembangkan kecerdasan anak. Kemudian fase bayi, pada fase ini, ibu harus menjadi qudwah hasanah, karena di fase inilah anak mulai meniru, dengan menjadi qudwah hasanah, secara tidak langsung ibu sudah mendidik anaknya untuk mencintai Al-Quran.

Pada fase umur anak mencapai tiga sentengah tahun hingga lima tahun, kita dianjurkan untuk menanamkan iman, mengajarkan ayat-ayat Al-Quran, sirroh nabawiyyah, dan menberitahu keutamaan menghafal Al-Quran. Dan fase yang terakhir adalah fase umur enam hingga sepuluh tahun. Pada fase ini anak sudah diajarkan untuk disiplin, lalu cobalah untuk membuat buku harian untuk hafalan anak.

Setelah kita mengenal beberapa fase dalam menghafal Al-Quran, berikut ini adalah tips-tips untuk mencintai Al-Quran ala ustadzah Hamidah Hasan, kepada kami.

Yang pertama, luruskan niat. Dalam mendampingi anak, orang tua harus meluruskan niat hanya semata-semata karena Allah SWT

Yang kedua, jauhi maksiat. Seperti kata Imam Syafi'i“ ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat”. Maka Al-Quran adalah cahaya Allah, jika orang tua bermaksiat, bagaimana Allah akan memberikan cahayaNya?

Yang ketiga, kerjasama yang solid antara kedua orangtua. Ibu harus menjadi madrosah ula, dan ayah sebagai kepala sekolah yang memimpin keluarganya untuk mencintai Al-Quran.

Yang keempat, mengajarkan isi Al-Quran, serta keutamaan dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Quran.

Yang kelima, selalu perdengarkan murottal Al-Quran.

Yang keenam, upayakan untuk menciptakan suasana nyaman untuk menghafal Al-Quran.

Yang ketujuh, berikan reward. Reward tidak harus berupa benda, bisa dengan pelukan dan ciuman orangtua. Dan buatlah anak bahagia karena ketika anak bahagia ia mudah diarahkan.

Yang kedelapan, jangan terburu-buru dalam menghafal. Sedikit hafalan tetapi bacaannya benar lebih baik daripada banyak hafalannya tapi bacaannya salah.

Yang kesembilan, adakan waktu khusus untuk menghafal Al-Quran.

Yang kesepuluh, perbanyak murajaah.

Yang kesebelas, memperbanyak doa dan tobat kepada Allah SWT. Karena bisa jadi anak susah menghafal karena dosa-dosa orangtua, dan doa orangtua lebih manjur.

Sebagai penutup, Ustadzah Hamidah juga berpesan agar kita terus menjaga doa agar senantiasa istiqomah dam mendidik anak, juga dengan terus mengupgrade niat kita, serta senantiasa menjaga diri agar berada di dalam lingkungan atau komunitas pecinta Al-Quran.

Rep: Haya
Red: Ummu

Tidak ada komentar: