Perang Badar al-Kubra - IKPM KAIRO

Jumat, 05 Juni 2020

Perang Badar al-Kubra

Doc. Google

Menurut beberapa hadis dan atsar yang sohih, perintah perang (al-qital) baru turun setelah hijrah. Namun, perintah ini baru benar-benar dilaksanakan pada bulan Shafar, atau dua belas bulan setelah Rasulullah tiba di Madinah. Pada saat itulah pertama kali Rasulullah meninggalkan rumah untuk berperang. Perang sebenarnya tidak benar-benar terjadi, karena yang seharusnya terjadi antara pasukan islam menghadapi pasukan Quraisy dan Bani Hamzah, ternyata berakhir dengan perjanjian damai di antara mereka. Rasulullah pun batal berperang, kemudian kembali bersama para sahabat ke Madinah.

Kemudian pada bulan Ramadahan tahun ke-2 Hijrah, terjadilah perang Badar Kubra. Sebuah pertempuran sengit yang sangat menentukan penentu nasib Islam dan dakwahnya, serta nasib kemanusiaan secara maknawi. Oleh karna itu, Allah Swt menyebutnya dengan perang Al-Furqon.

Sebab perang badar

Perang ini terjadi karena Rasulullah saw mendengar ada kafilah dagang milik
Quraisy yang baru saja kembali dari Syam dibawah pimpinan Sufyan ibn Harb, orang
yang paling keras dalam memusuhi Islam. Maka beliau mengarahkan pasukannya untuk menghadangnya, dengan tujuan merampas barang perniagaan yang dibawa mereka sebagai ganti dari harta umat Islam yang mereka tinggalkan di Mekah.

Abu Sufyan yang masih berada diperjalanan menuju Mekah ternyata mengetahui rencana umat muslim. Oleh sebab itu, ia lalu minta tolong kepada seorang yang bernama Dhamdham bin Amr Al-Ghifari supaya ia lekas menyampaikan kabar yang menghawatirkan itu kepada ketua-ketua dan kepala-kepala kaum Quraisy di Mekah. Sekaligus meminta bantuan pasukan untuk menjaga barang perniagaan mereka yang masih dalam perjalanan, orang-orangnya Quraisy pun langsung menyiapkan pasukan sehingga pasukan mereka mencapai
seribu orang.

Setelah beberapa malam berlalu, Rasulullah bersama kaum muslimin sebanyak 314 orang, terdiri dari sahabat Muhajirin 82 orang dan sahabat Anshar 231 orang, serta jumlah unta yang dikerahkan mencapai 70 unta. Setiap unta digunakan oleh 2 atau 3 orang sahabat. Uniknya, mereka sama sekali tidak tahu kalau pasukan Quraisy sudah siap menghadapi mereka.

Loyalitas para sahabat Muhajirin dan Anshar 
Rasulullah meminta pendapat para sahabatnya terutama kaum Anshar ketika
mendengar pasukan Quraisy jauh lebih besar telah siaga memerangi kaum muslim. Sahabat muhajirin seperti Miqdad ibn Amr berkata “wahai Rasulullah, lanjutkan apa yang Allah perintahkan kepadamu, kami akan selalu bersamamu.”

Sementara sahabat dari anshar seperti Sa’ad ibn Mu’adz berkata “sungguh kami telah beriman kepadamu, dan kamipun telah memercayaimu, kami pun telah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Atas dasar itu, kami telah bersumpah untuk selalu tunduk dan taat kepadamu. Maka, lakukanlah apa yang kau inginkan, karena pasti akan tetap bersamamu. Demi dzat yang telah mengutusmu dari kebenaran, andaikata di hadapan kami saat ini membentang lautan, lalu engkau menyelam, maka pasti akan ikut menyelam bersamamu.”

Bukan main betapa senangnya Rasulullah mendengar ucapan sahabatnya,bbeliau bersabda : “berjalan dan bergembiralah, Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua kelompok, demi Allah seakan-akan aku telah melihat pertempuran mereka.

Setelah itu, Rasulullah mengirim mata-mata untuk mencari tahu kekuatan Quraisy
yang beliau kirimkan ke garis depan. Dalam tempo singkat, berita dari satuan intelijen yang menyusup ke garis depan telah menyebar ke seluruh pasukan Muslim. Sebenarnya, pada saat itu Abu Sufyan sempat mengirim utusan untuk pasukan Musyrik ditarik mundur karena kafilah yang dipimpinnya sudah sampai ke Mekah, akan tetapi Abu jahal menolak mentah-mentah dan bersikeras untuk memerangi kaum Muslim, sampai dia berkata, ”Demi Tuhan, kita tidak akan kembali sebelum tiba di Badar dan bermalam selama tiga malam. Di situ kita akan menyembelih beberapa binatang, makan-makan, minum khamar, dan berpesta pora agar semua orang Arab tahu pergerakan pasukan kita sehingga mereka semua akan takut kepada kita."

Kaum Quraisy meneruskan perjalanan, hingga berhenti di salah satu lembah. Sedangkan umat islam berhenti di sisi sumur Badar. Pada saat itu, Habab ibn Mundzir berkata, ”Wahai Rasulullah apakah kau tidak memerhatikan tempat ini? Inikah tempat yang telah Allah tetapkan bagimu agar pasukan kita berada disini,bsehingga tidak ada pilihan untuk pindah kebtempat lain ataukah ini adalah siasat perang?”

Rasulullah menjawab, “Pilihan ini sebagai pendapat bentuk siasat perang.” Habab berkata, “Kalau begitu, berarti ini bukanlah tempat yang tepat. Segerakanlah engkau gerakkan pasukan kita agar lebih mendekati sumur. Selanjutnya, kita perdalam sumur itu, lalu kita tampung airnya di kolam. Jadi ketika kita bertempur kita memiliki persediaan air yang cukup, sedangkan musuh tidak.” Dan Rasulullah setuju dengan keputusa Habab dan bergegas pergi menuju posisi yang di arahkannya.

Persiapan bertempur 

Malam jum’at tanggal 17 Ramadhan, Rasulullah berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah memohonkan pertolongan bagi kaum Muslim yang sedikit jumlahnya dan miskin perlengkapannya. Beliau mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya. Melihat itu Abu Bakar terharu dan berkata “Wahai Rasulullah, pasti Allah akan memenuhi janji-Nya kepadamu."
Pagi harinya pertempuranpun di mulai, panji perang diserahkan kepada Mush’ab
bin Umair, bendera kaum muhajirin dipegang Ali bin Abi Talib, dan bendera kaum Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Muadz. Dalam perang ini juga Allah menurunkan malaikat untuk bertempur bersama mereka.

Pada saat itu majulah tiga orang pihak kaum Quraisy yakni Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah (kakanya) dan Walid bin Utbah (anaknya), sementara dari kaum Muslim majulah pemuda Anshar tapi mereka menginginkan anak-anak paman mereka sendiri. Maka majulah Ubaidah menyerang Utbah bin Rabi’ah, Hamzah berhadapan dengan Syaibah bin Rabi’ah, sedangkan Ali bin Abi Thalin berhadapan dengan Walid bin Utbah. Pertempuran semakin sengit mereka tidak mudah dikalahkan oleh musuh, berbeda dengan Ubaidah dan Utbah yang merupakan lawan seimbang. Medan peperangan telah terpenuhi oleh prajurit. Kaum Muslim saling merapat, kaum Quraisy pun mendekat. Rasulullah berkata “Majulah menuju syurga yang luasnya seluas langit dan bumi”.

Kemenangan berpihak pada umat Muslim dalam peperangan ini, tujuh puluh orang
pembesar Quraisy tewas termasuk paman Rasulullah Abu Jahal, dan tujuh puluh lainnya ditawan. Sedangkan dari pihak muslim, jumlah pasukan yang syahid berjumlah empat belas orang, adapun yang syahid pertama kali yaitu Umair bin al-Hamam al-Anshari.

Semua mayat Musyrik dimasukkan kedalam lubang di Badar, Rasulullah berdiri dibibir sumur Badar dan menghadap seraya berkata “Wahai fulan, wahai fulan ibn fulan. Bukankah akan lebih menyenangkan jika kalian patuh kepada Allah da Rasul-Nya?" Sesungguhnya kami sekarang telah menemukan apa yang dijanjikan Allah kepada kami, sekarang sudahkah kalian menemukan apa yang yang dijanjikan tuhan kalian?”.

Tiba-tiba Umar berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbicara dengan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi?” Beliau menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya kalian tidak lebih jelas mendengar apa yang ku katakan ini di bandingkan mereka.”

Tebusan tawanan

Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat untuk membahas tentang ihwal
tawanan perang. Pada saat itu, Abu Bakar mengusulkan agar ditebus dengan membayar diyat demi memperkuat perekomonian umat islam. Sementara Umar bin Khatab mengusulkan agar semua tawanan perang dijatuhi dengan hukuman mati, karena mereka semua adalah antek-antek kekufuran yang harus ditempas habis. Tetapi Rasulullah lebih menerima usulan Abu Bakar karena lebih memenuhi rasa kasih sayang dengan memberi
mereka peluang, dan menetapkan itu sebagai keputusan.

Namun beberapa saat Rasulullah menetapkan keputusan, turunlah ayat Al-Qur’an yang justru mendukung pendapat Umar bin Khatab. Namun di kitab Sirah Nabawi Abul hasan, bahwasanya tawanan yang tidak bisa membayar tebusan maka dibayar dengan mengajarkan baca tulis kepada anak-anak keluarga kaum Anshar. Setiap tawanan mengajarkan sepuluh orang anak.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: