Kisah Perang Dzat al-Riqa - IKPM KAIRO

Jumat, 10 Juli 2020

Kisah Perang Dzat al-Riqa

Doc. Google

Perang Dzatu ar-Riqa‘ menurut kebanyakan penulis sirah dan maghazi, terjadi pada
tahun keempat hijriah, sekitar sebulan setengah setelah pengusiran Bani Nadzir. Namun, al-Bukhari dan beberapa ahli hadist lainnya berpendapat bahwa perang Dzat-al-Riqa‘ terjadi setelah Perang Khaibar meletus.

Perang Dzatu al-Riqa‘ disebabkan oleh pengkhianatan suku-suku Nejd hingga
mengakibatkan terbunuhnya tujuh puluh sahabat yang ditugaskan Rasulullah Saw sebagai juru dakwah. Rasulullah Saw bergerak keluar dengan niat memerangi suku Muharib dan Tsa‘lab. Abu Dzar al-Gifari mendapat tugas dari Rasulullah untuk tinggal di Madinah dan mengurus Madinah. Setiba di Nakhl, sebuah daerah di Nejd milik Bani Ghathafan, Rasulullah dan pasukannya mendirikan markas. Namun, Allah telah merembeskan rasa gentar dan takut ke dada suku-suku penghianat itu. Akibatnya, seperti dituturkan Ibnu Hisyam, mereka memilih menjauh dari pasukan Muslim, meskipun saat itu jumlah mereka cukup banyak. Sehingga tidak terjadi kontak senjata.

Lepas dari itu semua, kisah peperangan Dzatu al-Riqa‘ mengandung banyak pelajaran berharga yang perlu kita ketahui sekaligus renungkan. Detail kisah peperangan ini telah disebutkan dalam banyak riwayat:

Pertama, dalam shohihaini disebutkan dalam sebuah hadist dari Abu Musa al-Asy‘ari yang berkata, ― kami pergi bersama Rasulullah Saw dalam satu peperangan. Saat itu kami berenam menunggang satu ekor unta secara bergantian. Banyak luka pada kaki kami, juga pada kakiku. Bahkan, kuku-kuku kakiku patah. Kami membalut kaki kami yang terluka dengan sobekan kain. Dengan alasan inilah peperangan itu kami sebut dengan perang Dzatu ar-Riqa‘ (yang memiliki banyak sobekan kain). Setelah menuturkan ini, Abu Musa al-Asy‘ari seperti tidak suka dengan hadist yang ia ceritakan sendiri. Barangkali ia tidak suka jika perbuatannya tersebar luas.

Kedua, Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw melakukan sholat
khauf dalam perang Dzatu ar-Riqa‘. Satu kelompok sahabat berbaris bersamanya, sementara satu kelompok lain menghadap ke arah musuh. Rasulullah shalat satu rakaat bersama kelompok yang bersamanya, lalu beliau tetap berdiri dan mereka menyempurnakan shalatnya masing-masing. Seusai shalat, mereka bubar dan berbaris menghadap ke arah musuh. Kelompok yang tadinya belum shalat kemudian datang. Rasulullah shalat bersama merekam sholat masing-masing, lalu beliau membaca salam.

Ketiga, ketika Rasulullah dan para sahabat tengah dalam perjalanan, mereka beristirahat siang di sebuah lembah yang dipenuhi pohon udhah. Mereka berpencar mencari tempat masing-masing untuk berteduh. Jabir mengisahkan, ―ketika kami sedang tidur, tiba-tiba Rasulullah memanggil kami. Kami pun segera berdatangan dan kami mendapati seorang Badui tengah duduk lemas di dekat Rasulullah. Lalu Rasulullah berkata, ―orang ini menyambar pedangku ketika aku tertidur. Lalu, ketika aku terjaga, dia langsung menghunus pedang di tangannya sembari berkata, siapa yang dapat menolongmu dariku? Allah, jawabku
padanya. Selanjutnya, beginilah dia sekarang, terduduk di sini. Meskipun begitu, Rasulullah sama sekali tidak menghukum Badui itu. Peristiwa ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Jabir.

Keempat, Ibnu Ishaq dan Ahmad meriwayatkan dari Jabir yang menuturkan, ―dalam perang Dzat ar-Riqa‘, yang kami ikuti bersama Rasulullah, seorang perempuan musyrik terbunuh. Setelah Rasulullah pergi meninggalkan medan perang, suami perempuan itu, yang semula tidak ada di sana datang. Lelaki itu menjumpai istrinya telah terbunuh. Maka lelaki itu bersumpah akan berusaha sebisa mungkin untuk menumpahkan darah para sahabat. Dia pun lalu pergi untuk mengikuti jejak Rasulullah. Setibanya di suatu tempat, Rasulullah berkata, "siapakah yang akan berjaga malam ini untuk kita semua?" seorang Muhajirin dan seorang Anshar seketika maju menawarkan diri dan berkata, "kami, ya Rasulullah."  "jika begitu, berjagalah di mulut syi‘b (lembah pegunungan)," kata Rasulullah kepada keduanya.

Saat itu, Rasulullah dan para sahabat lainnya telah masuk ke syi‘b. Dalam perjalanan kedua sahabat itu menuju syi‘b untuk berjaga, sahabat Muhajirin ditanya sahabat Anshar, "Engkau lebih menyukai berjaga diawal malam ataukah diakhir malam?" "Engkau berjagalah lebih dahulu," jawab sahabat Muhajirin sembari mengambil tempat untuk berbaring lalu tidur. Adapun sahabat Anshar berdiri dan melakukan shalat.

Tak berapa lama, lelaki musyrik yang bersumpah itu sampai di tempat Rasulullah dan para sahabat berhenti untuk bermalam. Saat melihat sahabat Anshar, lelaki itu segera melepaskan anak panah dan langsung mengenai tubuh sahabat Anshar. Anak panah itu tepat mengenai sasaran, menancap di tubuh sahabat Anshar. Ia tetap melanjutkan shalatnya, sembari mencabut anak panah itu. Melihat kejadian itu, lelaki musyrik itu melepaskan anak panah kedua, yang juga tepat sasaran. Lagi-lagi, Sahabat Anshar itu tetap melanjutkan shalatnya sembari mencabut anak panah dari tubuhnya. Anak panah ketiga dilepaskan dan juga tepat mengenai sasaran. Untuk kali ketiga, sahabat Anshar mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya, lalu rukuk dan sujud. Saat itulah ia membangunkan temannya, "duduklah.
, sekarang giliranmu berjaga. Aku sudah bertahan sedari tadi."Sahabat Muhajirin
seketika bangkit dari tidurnya. Ketika mengetahui ada dua sahabat Rasulullah yang bertugas jaga, lelaki musyrik itu segera kabur. Apalagi keberadaanya sudah diketahui.

Sahabat Muhajirin terkejut melihat tubuh temannya berlumuran darah. "Mengapa engaku tidak membangunkanku saat anak panah pertama mengenaimu?" sahabat Anshar menjawab, "saat itu aku sedang membaca sebuah surah al-Qur‘an dan aku tidak ingin memutusnya. Lalu, saat anak-anak panah lainnya mengenaiku, aku rukuk dan memberitahumu. Demi Allah, andai tak takut mengabaikan perintah Rasulullah untuk menjaga tempat itu, pasti aku sudah mati sebelum memutus shalatku."

Kelima, al-Bukhari dan Muslim, juga Ibnu Sa‘d dalam Thabaqat-nya serta Ibnu
Hisyam dalam sirah-nya meriwayatkan bahwa Jabir bin Abdullah mengisahkan cerita: Aku pergi bersama Rasulullah dalam perang Dzat al-Riqa‘ dengan mengendarai
untaku yang lemah. Ketika dalam perjalanan pulang, aku membiarkan rombongan berlalu pergi lebih dahulu. Aku tetap berada di bagian belakang hingga terlihat Rasulullah.

"Mengapa engkau di belakang, Jabir?"tanya Rasulullah. Aku menjawab, "untaku inilah penyebabnya, ya Rasulullah." Beliau berkata, "jerumkan untamu." Aku kemudian menjerumkan untaku dan beliau juga menjerumkan untanya. Beliau lalu berkata, "berikan tongkat ditanganmu kepadaku." Aku mengulurkan tongkatku. Setelah menerima tongkatku, beliau memukul untaku beberapa kali, lalu berkata, "sekarang, naiklah." Aku pun menaiki untaku yang lemah itu. Demi Zat yang mengutus Rasul-Nya dengan kebenaran, untaku tiba-tiba berlari kencang hingga sanggup menyalip unta beliau. Kemudian, Rasulullah berkata kepadaku, "maukah engkau menjual untamu ini kepadaku, Jabir?" "Bahkan, aku lebih suka memberikannya kepadamu," jawabku. "Tidak. jual sajalah untamu," kata beliau. Aku berkata, "Jika begitu, menawarlah." Rasulullah berkata, "Bagaimana jika aku beli dengan harga satu dirham?" Aku menyahut, "Belum bisa, aku masih rugi." "Bagaimana jika dengan harga dua dirham?" tawarnya. "Belum bisa," jawabku singkat. Beliau menawar lagi hingga mencapai harga satu uqiyah. Lalu, aku berkata, "apakah engkau sudah rela membelinya dengan harga itu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Ya"  "Jika begitu, unta ini milikmu," kataku.

Rasulullah kemudian bertanya, "sudahkah engkau menikah, Jabir?" "sudah", jawabku.
"Dengan seorang janda ataukah perawan?". "dengan janda, ya Rasulullah," jawabku.
Rasulullah masih bertanya, "mengapa engkau tidak menikahi perawan saja agar engkau bisa saling bercanda?" Aku menjawab, "ya Rasulullah ayahku syahid di Perang Uhud dan meninggalkan enam anak perempuan. Aku menikahi janda karena ingin mereka semua terurus dengan baik." beliau berkata, "Engkau sudah bertindak benar, InsyaAllah. Nanti setibanya kita di Shirar, kita akan memerintahkan penyembelihan unta dan hari itu kita akan berhenti sejenak di sana. Dia (istri Jabir) akan mendengar kedatangan kita dan menyiapkan bantal-bantal sandaran miliknya." Jabir menyahut, "Demi Allah , kami tidak mempunyai bantal-bantal sandaran ya Rasulullah." Rasulullah berkata, 'Bantal-bantal itu pasti akan ada, jika engkau sudah sampai di sana, bersikap baik dan lemah lembutlah."

(Jabir melanjutkan) Setiba kami di Shirar, Rasulullah memerintahkan untuk memotong unta. Hari itu, kami berhenti sejenak disana. Ketika hari beranjak petang, kami dan Rasulullah sudah berada di Madinah. Pagi hari berikutnya, aku (Jabir) menuntun untaku menuju rumah Rasulullah. Aku menjerumkannya tepat di depat di depan pintu rumah, lalu aku duduk di masjid dekat sana. Ketika keluar rumah dan melihat untaku, Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang ada di situ, "unta siapakah ini?" "Tadi unta ini dibawa Jabir, ya Rasulullah' jawab mereka.

Rasulullah bertanya , "lalu dimana Jabir sekarang?" Tak lama berselang, aku dipanggil menghadap. "Wahai anak saudaraku, bawa kembali untamu, ia milikmu,‘ kata Rasulullah kepadaku. Setelah itu, beliau memanggil Bilal dan berkata kepadanya, "pergilah bersama Jabir dan beri dia satu uqiyah." Aku pun pergi bersama Bilal yang lantas memberiku unag satu uqiyah dan menambahnya sedikit lagi. Demi Allah. Unta itu tumbuh besar bersamaku dan kandangnya bisa dilihat dari rumah kami.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: