Mukjizat dan Tanda Kenabian Rasulullah Saw bagi Pejuang Khandaq - IKPM KAIRO

Jumat, 31 Juli 2020

Mukjizat dan Tanda Kenabian Rasulullah Saw bagi Pejuang Khandaq

Mukjizat dan Tanda Kenabian Rasulullah Saw bagi Pejuang Khandaq

Selama penggalian parit dalam perang Khandaq terjadi beberapa tanda nubuwwah yang berkaitan dengan rasa lapar yang mendera mereka. Jabir bin Abdullah melihat beliau yang benar-benar tersiksa karena lapar. Lalu Jabir meyembelih seekor domba betina dan istrinya menanak satu sha’ tepung gandum. Setelah memasak, Jabir membisiki Rasulullah secara pelan-pelan agar datang ke rumahnya beserta beberapa sahabat saja. Tetapi beliau justru berdiri di hadapan semua orang yang sedang menggali parit yang jumlahnya ada seribu orang, lalu mereka melahap makanan yang tak seberapa banyak itu hingga kenyang. Bahkan masih ada sisa dagingnya, begitu pula adonan untuk tepung roti. (Terdapat hadits tentang mukjizat Rasul masalah memperbanyak makanan yang sedikit di kitab Asy-Syifa hal 356, begitupula terdapat rujukan lain dari kitab nurul
yaqin masalah ini)

Begitupula saudara perempuan An-Nu’man bin Basyir, ia datang ke tempat penggalian parit sambil membawa korma setangkup tangan untuk diberikan kepada ayah dan pamannya. Ketika itu pula Rasulullah Saw lewat di dekatnya dan meminta korma tersebut, lalu beliau meletakannya di atas selembar kain. Setelah itu beliau memanggil semua orang dan mereka pun memakannya. Ternyata korma yang hanya setangkup tangan itu masih tersisa dan bahkan jumlahnya lebih banyak, sehingga sebagian ada yang tercecer keluar dari hamparan kain.

Yang lebih besar dari gambaran ini adalah yang diriwayatkan oleh Al- Bukhari dari Jabir, dia berkata, “Saat kami menggali parit, ada sebongkah tanah yang amat keras, mereka mendatangi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam seraya berkata, “ Ini ada tanah keras yang teronggok di atas parit."

“Kalau begitu aku akan turun ke bawah," sabda beliau. Setelah turun beliau berdiri
tegak dan terlihat perut beliau yang diganjal batu. Sebelumnya para sahabat sudah mencoba mengatasinya, namun tidak mampu. Lalu beliau mengambil cangkul dan memukul onggok tanah yang keras itu hingga hancur bekeping-keping menjadi pasir."

Al-Barra’ berkata, “Saat menggali parit, kami terhalang oleh tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali dengan cangkul. Kami melaporkan ini kepada Rasulullah Saw. Lalu beliau datang, mengambil cangkul, dan bersabda, “ Bismillah..." Kemudian menghantam tanah yang keras itu dengan sekali hantaman. Lalu berkata, “Allah Maha Besar, aku diberi tanah Persi. Demi Allah saat ini aku pun bisa melihat istana Mada’in yang bercat putih.“

Kemudian beliau menghantam untuk yang ketiga kalinya, dan bersabda, “Bismillah... “ Maka hancurlah tanah yang tersisa. Kemudian beliau bersabda, “Allah Maha Besar. Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a. (Terdapat juga di buku asbabun Nuzul imam Suyuthi surat Al-Ahzab hal 258- 260). Ibnu Ishaq juga meriwayatkan yang serupa dengan ini dari Salman Al-FarisiRadhiyallahu ‘Anhu.

Karena Madinah dikepung dengan gunung, tanah-tanah kasar yang berbatun, dan
kebun-kebun kurma di segala sudutnya kecuali di bagian utara, tentunya pasukan musuh sebanyak itu akan menyerbu Madinah dari arah utara. Sebagai pemegang pucuk pimpinan militer, beliau tahu betul hal ini. Untuk itu parit digali di bagian ini.(Dijelaskan lebih detail di buku Asy Syifa hal 356)

Begitulah gambaran singkat kisah kenabian Rasulullah Saw yang terlihat sama penggalian parit perang Khandaq.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: