Perang al-Muraisi’ dan Fitnah Keji Kaum Munafik - IKPM KAIRO

Jumat, 17 Juli 2020

Perang al-Muraisi’ dan Fitnah Keji Kaum Munafik

Doc. Google (bincangsyariah)

Ibnu Ishaq dan beberapa ulama sirah mengatakan, perang Bani Musthauliq terjadi pada tahun keenam hijriah (6H). Tetapi yang lebih tepat, sebagaimana diakui kebanyakan dari ulama-ulama sirah, perang ini terjadi pada bulan Sya'ban tahun kelima Hijriah (5H).

Sekalipun peperangan ini tidak berlangsung lama dan berlarut-larut, tapi buntut dari peperangan ini sempat mengguncang dan meresahkan kaum muslimin. Akar persoalannya berasal dari ulah kelompok kaum munafiq. Peperangan ini dimulai saat Rasulullah mendapat informasi bahwa pemimpin Bani Musthauliq, Al-Harits bin Abu Dhirar sedang menghimpun kaumnya dan kepada bangsa Arab dari lain-lain qabilah untuk memerangi kaum muslimin. Mendapat informasi ini Rasulullah mengutus Buraidah bin al-Husaib al-aslamy untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

Setelah buraidah melakukan pengecekan dan benar ternyata Al-Harits bin Abu Dhirar sedang berupaya memerangi kaum muslimin, Rasulullah bertindak cepat dengan menghimpun para sahabat dan berangkat menuju al-Muraisi dengan pasukan sebanyak 700 orang dan 30 ekor kuda. Dalam pasukan kaum muslimin tersebut, terdapat segolongan orang-orang munafik yang ikut bergabung yang dikepalai Abdullah bin Ubay bin Salul. Mereka tergiur oleh harta rampasan perang karena pada perang-perang sebelumnya kaum muslimin selalu memperoleh kemenangan.

Setelah pasukan Rasulullah tiba di Qudaid, Muraisi, mereka bertemu dengan pasukan Al-Harits bin Abu Dhirar. Kemudian Rasulullah langsung mengatur barisan tentara (Formasi). Sahabat Umar bin Khattab disuruh untuk menyeru terhadap Bani Musthauliq, agar mengucapkan kalimat tauhid (Syahadatain). Jika mereka mengucapkan dengan suka rela, maka diri dan harta mereka akan selamat (terpelihara) dari serangan. Setelah kedua pasukan berhadap-hadapan, selang beberapa waktu kedua pasukan itu pun saling melepaskan anak panah. Beberapa lama kemudian Rasulullah memberi komando untuk melancarkan serangan secara serentak hingga kemudian berhasil menundukan pasukan Al-Harits bin Abu Dhirar.

Korban jiwa dari pasukan musuh sebanyak sepuluh orang, sementara korban dari
pasukan Muslim hanya satu orang yaitu Hisyam bin Shubaba. Hisyam terbunuh oleh orang Anshar karena dikiranya termasuk dalam pasukan musyrikin. Adapun binatang ternak mereka dijarah oleh tentara muslim, yaitu sebanyak 2000 ekor unta dan 5000 kambing.

Kemudian Rasulullah memerintahkan kepada budaknya yang bernama Syuqran supaya mengatur dan menggiring binatang-binatang tadi ke Madinah. Adapun orang-orang yang tertawan adalah 200 ahli bait (keluarga). Beliau memerintahkan sahabat Buraidah supaya mengatur para tawanan itu dan menggiringnya ke madinah. Diantara mereka terdapat putri dari Al-Harits bin Abu Dhirar (pemimpin Bani Musthaliq) yang bernama Juwairiyah binti Al-Harits. Yang kemudian dalam pembagian harta rampasan dan tawanan, Juwairiyah menjadi bagian Tsabit bin Qais. yang kemudian ditebus Oleh Rasulullah dan dinikahi oleh beliau.

Yang luar biasa dari peperangan ini adalah banyaknya fitnah yang dihembuskan oleh kaum Munafiqin. Antara lain tentang kabar bohong bahwasanya kaum Muhajirin akan menguasai kaum Anshar di tanah Madinah. Isu tersebut sampai menimbulkan ketegangan antara kedua penopang utama pasukan kaum Muslimin. Peristiwa ini berawal dari peristiwa senggolan antara salah seorang dari kaum Muhajirindan Anshar di dekat mata air Muraisi. Yaitu setelah perang usai berubah menjadi adu mulut.

Kejadian ini didengar oleh seorang dari golongan kaum munafiq, Abdullah bin Ubay bin Salul. Dia kemudian menggunakan kesempatan untuk mengadu domba kaum Anshar dan Muhajirin dengan memunculkan kebencian kaum Anshar terhadap Muhajirin. Hasutan Abdullah bin Ubay ini membuat Umar bin Khattab marah dan mengusulkan kepada Rasulullah untuk membunuhnya. Mendapat usul tersebut Rasulullah menjawab, “Bagaimana wahai Umar jika manusia membicarakan bahwa Muhammad telah membunuh rekan-rekannya? Tidak.Tapi suruhlah pasukan untuk berangkat.”

Rasulullah sengaja mengajak pasukannya berjalan meskipun itu bukan waktu yang tepat untuk memberangkatkan pasukan, tetapi mereka tetap akan berangkat agar mereka melupakan kejadian itu dan tidak membicarakannya lagi. Beliau mengajak pasukannya berjalan seharian penuh, dan seharian itu pula mereka dipanggang terik
matahari. Saat berhenti untuk bersinggah, mereka langsung tertidur pulas karena kelelahan. Abdullah bin Ubay yang tahu bahwa perbuatannya diketahui oleh Rasulullah bergegas menemui beliau dan bersumpah bahwa apa yang disampaikan Zaid bin Arqom itu tidak benar, dan bahkan ada beberapa orang Anshar yang mengatakan bahwa Zaid mengada-ada. Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah menurunkan surat Al-Munafiqun ayat 1-8.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa Abdullah bin Ubay memang mempunyai dendam tersendiri terhadap Islam dan kaum Muslimin, terlebih lagi terhadap Rasulullah. Karena ia menganggap bahwa Rasulullah telah merampas kekuasaan yang sudah ada di tangannya.

Tidak hanya sampai di situ, bahkan setelah perang yang cukup singkat tersebut kaum
munafik mulai membuat kekacauan lagi dengan menyebarkan berita bohong mengenai Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah dalam peperangan dengan Bani Musthaliq ini. Rasulullah memang didampingi oleh beliau.

Dalam perjalan kembali ke madinah setelah peperangan di Muraisi‟, pasukan kaum Muslimin singgah disuatu tempat. Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Keluar dari rombongan untuk keperluannya. Saat itu tanpa ia sadari kalung yang ia kenakan terjatuh. Maka ia kembali kebtempat yang menurutnya disitulah kalung yang ia kenakan terjatuh. Ketika pasukan kembali bergerak, pembawa sekedup (tandu) tidak tahu bahwa Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Belum kembali kesekedupnya.

Menyadari bahwa dirinya telah tertinggal rombongan, Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah memilih untuk duduk di tempatnya, berharap ada yang menyadari bahwa
dirinya tidak berada di dalam sekedup kemudian mencarinya dan menjemputnya di tempat itu. Kebetulan pada saat itu seorang sahabat nabi, Shafwan Ibnu Mu'athal, melintas di jalan dan menemukan Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Sedang tertidur sendiri “Innalillahi wa inna ilaihi raji‟un, istri Rasulullah Saw”. Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Ra pun terbangun, lalu dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Kemudian Shafwan berjalan menuntun untanya sampai mereka tiba di Madinah.

Kejadian itu akhirnya menimbulkan desas-desus yang dimanfaatkan oleh kaum munafik untuk menghancurkan nama baik istri Rasulullah Saw. Dalam sejarah, kisah tersebut diistilahkan dengan “hadits al-ifki” atau berita bohong. Hadits al-ifki adalah istilah yang muncul setelah ada klarifikasi pembelaan Allah terhadap Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah. Yaitu melalui turunnya surat An-Nur (ayat 11 hingga 19).

Adapun sebelum turun ayat tersebut, isu tentang pemfitnahan itu sangat tidak jelas, liar, dan menggelinding begitu saja. Isu yang awalnya dihembuskan oleh kaum munafik tersebut mendapat sambutan sebagian mukminin.Hingga akhirnya dapat membentuk opini yang mendiskreditkan Rasulullah Saw sebagai pemimpin (Qiyadah ulya) umat islam.

Dan yang menarik dari kisah ibunda di atas adalah pernyataan Allah setelah melakukan pembelaan tentang kebenaran Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah, yaitu “(jangan) kembali mengulangi hal seperti itu selama-lamanya” maksud dari firman Allah tersebut adalah, jangan sampai isu bohong seperti itu atau yang sejenisnya terjadi lagi pada shaf jamaah kaum muslimin. Pernyataan itu tidak hanya berlaku saat itu saja, melainkan berlaku sampai sekarang hingga hari kiamat. Jangan sampai ada shaf yang dakwah lebih mengedepankan hawa nafsu ketimbang akal sehat.

Salah satu hikmah yang sangat agung adalah kesabaran dan kejujuran Rasulullah. Sebulan lebih lamanya beliau menghadapi fitnah yang menggerogoti kehidupan rumah tangganya. Jika dilihat menggunakan kacamata kita, dengan posisi dan kedudukan nabi serta penerima wahyu sekaligus pemimpin tertinggi umat islam, Bisa saja dengan mudahnya nabi membela Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah dengan mengatakan bahwa Allah telah menurunkan “Wahyu pembelaan” sejak hari pertama tersebarnya fitnah tersebut. Namun itu semua tidak dilakukan oleh Rasulullah.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabamg Kairo

Tidak ada komentar: