Siasat Kaum Kafir dan Muslimin dalam Perang Khandaq - IKPM KAIRO

Jumat, 24 Juli 2020

Siasat Kaum Kafir dan Muslimin dalam Perang Khandaq

Doc. Google (Arsipku)

Perang Khandaq juga dikenal sebagai perang Al-Ahzab atau perang konfederasi.
Perang Khandaq diawali dengan pengepungan Madinah yang dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy Makkah dan yahudi bani Nadhir. Pengepungan tersebut terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi menurut sebagian besar ahli Sirah Nabawiyyah yang bersandar pada pendapat Ibnu Ishaq. Berlainan dengan pendapat Musa bin Uqbah yang mengatakan perang ini terjadi pada tahun 4 Hijriah yang didukung oleh imam malik.

Sebab dan Awal Perang Khandaq
Setelah pecah beberapa peperangan dan
manuver militer selama lebih dari satu tahun, Jazirah Arab menjadi tentram kembali. Hanya saja orang-orang Yahudi yang harus menelan beberapa kehinaan dan pelecehan karena ulah mereka sendiri yang berkhianat, berkonspirasi dan melakukan makar, tidak mau terima begitu saja. Setelah lari ke Khaibar, mereka menunggu-nunggu apa yang akan menimpa orang-orang muslim sebagai akibat bentrokan fisik dengan para paganis Quraisy. Hari demi hari terus berlalu membawa keuntungan bagi kaum Muslimin, pamor dan kekuasaan mereka semakin mantap. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi semakin dibakar amarah. Mereka kembali merancang konspirasi baru terhadap orang-orang muslim dengan menghimpun pasukan sebagai persiapan untuk memukul orang-orang muslim agar tidak memiliki sisa kehidupan setelah itu. Karena belum berani menyerang orang-orang Muslim secara langsung, maka mereka merancang dan melaksanakan langkah ini secara sembunyi-sembunyi dan hati-hati.

Ada dua puluh pemimpin dan pemuka Yahudi dari Bani Nadhir yang mendatangi
Quraisy di Makkah. Mereka mendorong orang-orang Quraisy agar menyerang Rasulullah Saw dan berjanji akan membantu rencana ini dan mendukungnya. Quraisy menyambutnya dengan senang hati, apalagi sebelumnya mereka tidak berani memenuhi janji di Perang Badr untuk kedua kalinya. Maka mereka melihat ini merupakan
kesempatan yang baik untuk mengembalikan pamor. Dua puluh orang pemuka Yahudi itu juga pergi ke Ghatafan dan mengajak mereka seperti ajakan yang diserukan kepada orang-orang Quraisy, ajakan ini mendapat sambutan yang
baik. Kemudian para utusan Yahudi itu berkeliling ke berbagai kabilah Arab dengan ajakan yang sama dan semuanya memberi respon. Yaitu suatu langkah yang dirancang orang-orang Yahudi untuk menyerang Rasulullah Saw dan membungkam dakwah Islam.

Secara serentak dari arah selatan mengalir pasukan yang terdiri dari Quraisy, Kinanah, dan sekutu-sekutu dari penduduk Tihamah. Mereka di bawah Komando Abu Sufyan. Jumlah mereka ada empat ribu prajurit. Bani Sulaim di Marr Azh-Zhahran juga ikut bergabung bersama mereka. Sedangkan dari arah Timur ada kabilah-kabilah Ghathafan, yang terdiri dari Bani Fazarah yang dipimpin Uyaiynah bin Hishn, Bani Murah yang dipimpin Al-Harits bin Auf, Bani Asyja’ yang dipimpin Mis’ar bin Rukhailah, Bani As’ad, dan lain-lainnya.

Semua golongan ini bergerak ke arah Madinah secara serentak seperti yang telah
mereka sepakati bersama. Dalam beberapa hari saja di sekitar Madinah sudah berhimpun pasukan musuh yang besar, jumlahnya mencapai sepuluh ribu prajurit. Itulah gelar pasukan yang jumlahnya lebih banyak dari pada seluruh penduduk Madinah, termasuk wanita, anak-anak, dan orang tua.

Jika pasukan yang sedang berhimpun di sekitar Madinah melakukan serangan
secara tiba-tiba dan serentak, maka sulit dibayangkan apa yang akan terjadi dengan eksistensi kaum muslimin. Tetapi model kepemimpinan Madinah tak pernah terpejam sekejap pun. Segala faktor dipertimbangkan sedemikian rupa secara masak dan segala gerakan tak lepas dari pantauan. Sebelum pasukan musuh beranjak dari tempatnya, informasi tentang rencana mereka pun sudah tercium di Madinah.

Berita kepada Rasulullah Saw dan ide pembuatan parit
Maka berdasarkan informasi ini, Rasulullah Saw segera menyelenggarakan majelis tinggi permusyawaratan untuk menampung rencana pertahanan Madinah. Setelah berdiskusi panjang lebar, di antara anggota majelis mereka sepakat melaksanakan usulan yang disampaikan seorang sahabat yang cerdik, Salman Al-Farisi. Dalam hal ini Salman berkata, “Wahai Rasulullah, dulu kami orang-orang Persia jika dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitar kami.“ Ini merupakan langkah yang amat bijaksana, yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab. Rasulullah Saw segera melaksanakan rencana itu. Setiap sepuluh orang laki-laki diberi tugas untuk menggali parit sepanjang empat puluh hasta. Panjang parit itu kurang lebih tiga ribu meter, dan luasnya seluas lima setengah meter, serta dalamnya setinggi orang yang sedang berdiri tegak sambil mengangkat tangannya. ( Asy- Syifa hal 356)

Dengan giat dan penuh semangat orang-orang Muslim menggali sebuah parit yang panjang. Rasulullah Saw terus memompa semangat mereka dan terjun langsung di lapangan. Di dalam Shahih Al Bukhari disebutkan dari Sahl bin Sa’d berkata, “Kami bersama Rasulullah Saw di dalam parit. Sementara orang-orang sedang giat menggalinya. Kami mengusung tanah di pundak kami." Beliau bersabda, “Tidak ada kehidupan selain kehidupan akhirat. Ampunilah dosa orang-orang Muhajirin dan Anshar.“

Anas meriwayatkan, Rasulullah Saw pergi ke parit pada pagi hari yang amat dingin, sementara orang-orang Muhajirin dan Anshar sedang menggali parit. Mereka tidak mempunyai seseorang yang bisa diupah untuk pekerjaan ini. Beliau tahu perut mereka kosong dan juga letih. Oleh karena itu beliau bersabda, “ Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang lebih baik adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah orang-orang Muhajirin dan Anshar. “ Mereka menjawab, “Kamilah yang telah berbaiat kepada Muhammad, siap berjihad selagi masih hidup.“

Dari Al-Barra' bin Azib dia berkata, “Kulihat beliau mengangkuti tanah galian parit,
banyak debu yang menempel di kulit perut beliau yang banyak bulunya. Sempat pula kudengar beliau melantunkan syair-syair Ibnu Rawahah. Sambil mengangkut tanah, beliau bersabda, “Ya Allah, andaikan bukan karena Engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bersedekah dan tidak shalat. Turunkanlah ketentraman kepada kami dan kokohkanlah pendirian kami jika kami berperang. Sesungguhnya para kerabat banyak sewenang-wenang
kepada kami. Jika mereka menghendaki cobaan, kami tidak menginginkannya.”

Orang-orang muslim bekerja dengan giat dan penuh semangat sekalipun mereka didera rasa lapar. Anas berkata, “Masing-masing orang yang sedang menggali parit diberi gandum sebanyak satu genggam tangan lalu dicampuri minyak sebagai adonan. Kerongkongan mereka jarang tersentuh makanan, sehingga dari mulut mereka keluar bau yang tidak sedap.“

Abu Thalhah berkata, “Kami mengadukan rasa lapar pada Rasulullah Saw. Lalu kami mengganjal perut kami dengan batu. Beliau juga mengganjal perut dengan dua buah batu.

Begitulah perjuanga kaum muslimin untuk menghalau musuh saat Perang Khandaq.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: