Hikmah Perjanjian Hudaibiyah - IKPM KAIRO

Jumat, 14 Agustus 2020

Hikmah Perjanjian Hudaibiyah

Doc. Google

Model kepatuhan Islam terhadap perjanjian International

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai yang dilakukan oleh Nabi
Muhammad Saw dengan kaum Quraisy Makkah pada Dzulqa'dah, 6 hijriah. Perjanjian ini adalah perjanjian yang dinilai sebagai peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw.

Sebagian besar sejarawan sirah nabawiyah
menyebutkan kemenangan kaum muslimin terhadap kaum Quraisy Makkah tidaklah
terjadi pada peristiwa Fathu makkah, tetapi terjadi pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah ketika sebagian besar sahabat menilai klausul-klausul dalam perjanjian sebagai kelemahan dan kekalahan bagi kaum muslimin. Para mufasir menyebutkan perjanjian ini sebagai kemenangan yang nyata dengan menunjuk pada turunnya al-Qur'an surah al-Fath ayat pertama.

Dalam khazanah hukum internasional Islam, di samping ayat-ayat al-Qur'an
dan Sunnah, perkataan dan apa yang dipraktikan dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw adalah sumber penetapan hukum. Perjanjian Hudaibiyah dalam hal ini menjadi referensi utama para ulama dalam merumuskan prinsip dan hukum perjanjian internasional dalam Islam. Perjanjian Hudaibiyah menjadi model perjanjian internasional dalam Islam yang paling sahih.

Hal ini disebabkan oleh beberapa hal:
pertama perjanjian ini dilakukan langsung oleh Nabi Muhammad Saw. Kedua perjanjian ini menghasilkan preseden yang sangat kuat tentang perjanjian internasional sebagai salah satu instrument memperjuangkan Islam. Dan ketiga menunjukkan bahwa kemenangan bisa diperoleh justru dengan menaati perjanjian. Berdasarkan perjanjian Hudaibiyah ini para ulama menetapkan kebolehan mutlak melakukan perjanjian damai antara negeri muslim dengan negeri non-muslim.

Yang menarik dari perjanjian ini adalah komitmen Nabi Muhammad Saw dan
kaum muslimin untuk mematuhi perjanjian yang telah ditandatangani walaupun klausul-klausul dalam perjanjian dianggap sangat merugikan. Penolakan terhadap perjanjian tersebut bahkan ditunjukkan secara verbal oleh tokoh muslim sekaliber Umar bin Khatthab. Akan tetapi, pada akhirnya kaum muslim dapat menerima keputusan Nabi untuk menerima perjanjian Hudaibiyah dan mematuhi semua klausul termasuk yang dianggap sangat merugikan.

Wahyu dan pikiran manusia biasa

Sebelum lebih lanjut merinci terhadap beberapa hal yang berkaitan dengan
pelajaran, ada beberapa pernyataan penting yang perlu direnungkan: perjanjian Hudaibiyah ini merupakan wujud dari ajaran Ilahi yang menonjolkan misi kenabian yang diemban Rasulullah Saw. Dan tidak muncul dalam peristiwa lainnya.

Secara samar, keberhasilan yang didapat umat Islam dari perjanjian ini berhubungan langsung dengan tirai kegaiban pengetahuan Allah Swt. Oleh karena itu, sebagaimana anda ketahui, kaum muslimin benar-benar terkejut karena mereka mencerna hikmah perjanjian Hudaibiyah berdasarkan akal semata.

Tak diragukan lagi, perjanjian Hudaibiyah merupakan pemicu peristiwa Fath
Makkah (Penaklukan Kota Makkah). Bahkan, menurut Imam Ibnu Qayyim, perjanjian Hudaibiyah merupakan pintu gerbang dan sekaligus kunci penaklukan kota Makkah. Demikianlah sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya. Dia selalu meletakkan serangkaian ”peristiwa pembuka” sebelum peristiwa besar yang dikehendaki-Nya benar-benar terjadi.

Melalui perjanjian ini, Allah Swtbingin menampakkah secara jelas perbedaan
antara wahyu kenabian dan pikiran manusia biasa; antara taufik yang diterima seorang nabi yang diutus Tuhan dan tindakan seorang pemikir brilian, serta antara “ilham” dari Allah yang datang dari luar kawasan “dunia sebab-musabab” dengan segala penampakannya, dan kesalahpahaman terhadap berbagai isyarat yang mengiringi kejadian ini beserta hikmahnya.

Dalam perjanjian ini Rasulullah Saw nengabulkan semua syarat yang diajukan
kaum musyrikin. Bahkan, beliau menyetujui beberapa hal yang diminta pihak musyrik. Padahal permintaan-permintaan itu satu pun tidak bisa diterima oleh para sahabatnya.

Tentu saja, anda dapat mengetahui betapa Umar bin Khatthab ra gundah dan gelisah
atas perjanjian Hudaibiyah. Bahkan, dalam sebuah riwayat yang dinukil Imam Ahmad,
diceritakan bahwa setelah perjanjian Hudaibiyah berlalu sekian lama, Umar berkata, “Aku selalu menjalankan puasa, shalat, bersedekah, dan membebaskan budak sebagai penebus tindakanku. Aku begitu khawatir atas ucapan yang kulontarkan saat itu, Sungguh, aku melihat bagaimana para sahabat hanya diam ketika Rasulullah Saw memerintahkan mereka untuk memangkas rambut dan menyembelih kurban, lalu pulang ke Madinah. padahal saat itu, Rasulullah Saw mengulangi perintahnya sampai tiga kali. Para sahabat tetap diam karena mereka terus memikirkan perjanjian yang telah disepakati Rasulullah Saw. Sikap mereka tentu amat wajar. Para sahabat hidup di dunia sebagai manusia biasa, sehingga mereka selalu memandang segala yang terjadi di dunia ini berdasarkan akal pikiran mereka yang mencerna semua kenyataan yang terindra. Sementara itu Rasulullah Saw. Bertindak berdasarkan landasan dan pertimbangan di atas kemampian manusia. Karena kenabiannya-lah beliau mengarahkan, mengilhami, dan diberi wahyu. Dan, hal ini paling penting baginya adalah beliau hanya melaksanakan peritah Allah Swt.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: