Perjanjian Hudaibiyah: Kemenangan Kaum Muslimin - IKPM KAIRO

Jumat, 07 Agustus 2020

Perjanjian Hudaibiyah: Kemenangan Kaum Muslimin

Sumber foto: Doc. Google (labbaik.id)

Pada bulan Dzulqo’dah di akhir tahun keenam hijriyah, Rasulullah Saw berniat untuk melaksanakan umroh ke Mekkah setelah bermimpi bahwa beliau
bersama para sahabat memasuki Masjidil Haram, mengambil kunci Ka'bah,
melaksanakan thawaf dan umroh. Beliau menyampaikan mimpinya kepada para sahabat dan mereka sangat senang. Adapun jumlah para sahabat yang ikut ada 1.400 orang, namun ada yang menyebutkan 1.500 orang. Mereka berangkat tanpa membawa senjata apapun, kecuali senjata yang biasa dibawa para musafir, yaitu pedang yang dimasukkan ke dalam sarungnya.

Orang-orang Muslim bergerak ke Mekkah, setelah mendengar keberangkatan Rasulullah Saw, Kaum Quraisy segera menyelenggarakan majelis permusyawaratan. Keputusannya, apa pun caranya mereka hendak menghalangi orang-orang Muslim memasuki Masjidil Haram. Kemudian Rasulullah mengambil jalur yang sulit dan berat di antara celah-celah gunung untuk menghindari bentrok fisik. Pada saat itu Rasulullah Saw. mengutus Ustman bin Affan untuk menegaskan kepada Quraisy sikap dan tujuan beliau dari perjalanan kali ini. Lalu terdengar kabar angin terbunuhnya Ustman bin Affan di Mekkah, setelah itu beliau memanggil para sahabat untuk melakukan baiat. Kejadian inilah yang sering kita dengar dengan Baiat Ridwan.

Terjadilah pengukuhan perjanjian Hudaibiyah antara Kaum Muslim dan Kaum Quraisy. Pada prinsipnya, perjanjian yang monumental ini sebelumnya tidak disukai sahabat-sahabat Nabi seperti Umar, Ali dan beberapa sahabat lain karena dianggap merugikan umat islam. Setelah perjanjian itu Rasulullah Saw dan para sahabat tidak jadi melaksanakan umroh, mereka menyembelih hewan kurban, mencukur rambut sebagai tanda umroh dan kembali pulang menuju Madinah.

Dan pada akhir bulan Muharam tahun ketujuh hijriyah terjadilah perang Khaibar, Rasulullah Saw bersama para sahabat berangkat menuju Khaibar. Pasukan islam yang berjumlah 1.400 orang berhasil menaklukkan 8 benteng besar yang berada di Khaibar dengan pengepungan yang terjadi selama 14 hari.

Perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu dari seluruh cara Allah Swt untuk meninggikan derajat Rasulullah Saw. Perjanjian tersebut terjadi pada Maret 628 M (Dzulqa'dah 6 H); yaitu perjanjian yang melarang umat Muslim melaksanakan umroh, peristiwa dimana turunnya surah Al Fath atas izin Allah Swt dan disnisbatkannya penaklukan terhebat dan tak ada tandingannya di dalam perjanjian ini, karena setiap orang menjamin keselamatan satu sama lain, saling bertemu, berbincang, dan berdebat.

Dibalik kemenangan semu yang kaum sekutu rasakan, Baiat Ridwan menjadi
saksi bahwa perjanjian Hudaibiyah adalah bukti kemenangan umat Muslim kala itu.
Diikuti oleh penaklukan Khaibar dimana Rasulullah Saw tidak pernah menyerang
kecuali menunggu datangnya waktu pagi, jika mendengar adzan beliau akan menahan serangan. Berlimpahnya hikmah yang dapat kita pelajari dari berbagai peristiwa yang Rasulullah Saw alami, khususnya dalam perjanjian Hudaibiyah dan penaklukan Khaibar.

Adapun Perang Khaibar adalah pertempuran yang terjadi antara umat Islam yang dipimpin Rasulullah Muhammad Saw dengan orang-orang Yahudi yang hidup di oasis Khaibar. Khaibar terletak sekitar delapan barid (sekitar 96 mil/154 km) sebelah utara Madinah, Raba Saudi.

Jarak tersebut pada umumnya ditempuh selama tiga hari perjalanan dari Madinah. Saat itu, Khaibar terkenal dengan kesuburan lahan pertanian dan hasil kurmanya. Selain sebagai perkampungan tempat tinggal, Khaibar juga didesain sebagai benteng pertahanan. Untuk itu, di Khaibar banyak didirikan benteng-benteng untuk menahan laju serangan lawan. Tercatat, sejak didirikan tampaknya belum ada kekuatan manapun yang berhasil menaklukkannya. Hingga akhirnya berhasil ditakulukkan oleh pasukan Islam yang dipimpin oelh Rasulullah Saw.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: