Umroh Qadha: Nasehat dan Pelajaran - IKPM KAIRO

Jumat, 25 September 2020

Umroh Qadha: Nasehat dan Pelajaran




Pada bulan Zulqa'dah tahun ke-7 Hijrah, Nabi Saw berangkat menuju Makkah guna menunaikan umrah qadha. Bulan Zulqa'dah adalah bulan dilarangnya Rasulullah Saw masuk Makkah oleh kaum Musyrikin pada tahun sebelumnya. Ibnu Sa‘ad menyebutkan di dalam thabaqatnya bahwa orang-orang yang melaksanakan umrah pada bulan dan tahun ini bersama Rasulullah Saw sebanyak 2000 orang. Mereka terdiri dari ahlul Hudaibiyah dan orang-orang yang bergabung kepada mereka.

Ibnu Ishaq berkata, “Kaum Quraisy menyebarkan berita bohong, bahwa Nabi Saw dan para sahabatnya sedang menghadapi kesukaran, kesulitan dan kepayahan. Ia berkata: “Saat itu kaum Musyrikin Quraisy berbaris di pintu Darun-Nadwah, ingin melihat Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Setibanya di Makkah, Rasulullah Saw langsung masuk ke dalam masjid al-Haram, kemudian duduk menghamparkan burdahnya dan sambil mengangkat tangan kanannya lalu beliau berucap: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini dapat menyaksikan kekuatan yang datang dari hadhiratNya.“Kemudian beliau mencium Hajar Aswad, lalu berjalan cepat bersama para sahabatnya mengelilingi Ka‘bah.

Dalam tawaf ini, beliau berlari kecil tiga keliling dan selebihnya berjalan biasa. Ibnu Abbas berkata, “orang- orang mengira bahwa hal itu bukan sunnah umum. Rasulullah Saw melakukan hal itu sekadar untuk membantah desas-desus yang disebarkan oleh orang- orang Quraisy tersebut. Tetapi pada haji wada’, Rasulullah Saw juga melakukannya sehingga hal ini menjadi sunnah. Dalam kesempatan ini, Nabi Saw juga melangsungkan pernikahan dengan Maimunah binti al-Harits. Dia katakan bahwa Nabi Saw melangsungkan pernikahannya dalam keadaan ihram (akad nikahnya saja). Tetapi riwayat lain mengatakaan setelah tahalul. Orang yang menikahkan adalah Abbas bin Abdul Muthallib, suami Ummul Fadhal saudaranya Maimunah. 

Setelah tiga hari Rasulullah Saw tinggal di Makkah (waktu yang disepakati dalam perjanjian Hudaibiyah), orang-orang Musyrik datang kepada Ali seraya berkata, “Katakan kepada temanmu (Nabi Muhammad Saw) agar segera meninggalkan Makkah karena waktunya telah habis. Akhirnya Nabi Muhammad Saw keluar meninggalkan Makkah. Rasulullah Saw menyelenggarakan walimah (pesta) pernikahannya dengan Maimunah di tengah perjalanan menuju Madinah, di sebuah tempat bernama “Sarif“ dekat Tan‘im. Kemudian pada bulan Zulhijah berangkat ke Madinah.

Pelajaran dan Nasihat:


Umrah ini dianggap sebagai penunaian janji Allah kepada Rasulullah Saw dan para sahabatnya bahwa mereka akan masuk Makkah dan tawaf di Ka‘bah. Telah diketahui bagaimana Umar pernah bertanya kepada Rasulullah Saw pada waktu perdamaian Hudaibiyah, ia berkata, ”Tidakkah engkau pernah menjanjikan bahwa kita akan tawaf di Ka‘bah?“ Nabi Saw menjawab, “Ya, tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan melaksanakannya tahun ini?“. Umar mengakui, “Tidak“. Nabi saw menegaskan, “Sesungguhnya kamu akan datang ke sana dan tawaf di Ka‘bah. “Ini adalah penunaian janji Rasulullah Saw tersebut. Di samping itu, Allah juga mengingatkan kepada para hamba-Nya akan penunaian janji ini di dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah pasti membuktikan kepada Rasul- Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepada dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat“. (QS. Al-Fath:27)

Selain itu Umrah ini mengandung arti pengkondisian dan pendahuluan bagi “kemenangan besar“ (alfathul-kabir) yang datang sesudahnya. Pemandangan tersebut, berupa sejumlah besar dari kaum Muhajirin dan Anshar yang mengelilingi Rasulullah Saw dengan penuh semangat saat tawaf, sa‘i dan seluruh upacara pelaksanaan ibadah umrah, yang juga disaksikan oleh kaum Musyrikin, dan ternyata memiliki pengaruh yang sangat mendalam terhadap jiwa mereka. Mereka telah dicekam rasa takut terhadap kaum Muslimin setelah dikejutkan oleh kenyataan yang sama sekali bertentangan dengan gambaran yang selama ini mereka percayai tentang kaumMuslimin. Digambarkan bahwa kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan pemalas akibat penyakit panas dan jeleknya cuaca Yatsrib, Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu  Abbas bahwa kaum Muslimin berlari-lari kecil di sekitar Ka‘bah dan di Mas‘a (tempat Sa‘i), sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Itukah mereka yang kalian sangka loyo akibat penyakit panas ?! Mereka lebih gagah dari ini dan itu“. Pelajaran yang lain yang dapat diambil dari umrah ini diantaranya:

Pertama, ketika tawaf disunnahkan menampakkan lengan dan berlari-lari kecil pada tiga putaran yang pertama, karena mengikuti Rasulullah Saw. Hal ini disunnahan bagi tawaf yang dilanjutkan dengan Sa‘i. Demikian pula disunnahkan berlari-lari kecil antara dua tanda di Mas‘a (tempat sa‘i antara Shafa dan Marwah), tetapi tidak disunnahkan bagiwanita. Kedua, sebagian fuqaha‘ membolehkan akad nikah dalam keadaan ihram haji atau ihram umrah, berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Saw melaksanakan akad nikahnya dengan Maimunah dalam keadaan ihram. Tetapi jumhur fuqaha‘ tidak membolehkan seorang yang sedang ihram untuk melangsungkan akad nikah untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Ulama Hanafiy berpendapat bahwa seorang yang sedang ihram tidak boleh mewakili akad nikah untuk orang lain yang tidak dalam keadaan ihram.

Demikianlah, Rasulullah Saw telah menunaikan empat kali umrah dan satu kali haji. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas r.a bahwa Rasulullah Saw menunaikan empat kali umrah yang semuanya dilaksakanan pada bulan Zulkaidah. Kedua umrah pada tahun berikutnya di bulan Zulkaidah. Ketiga, umrah dari Ji‘ranah dimana dibagikan pampasan Hunain di bulan Dzul kaidah. Keempat, umrah bersama hajinya

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo


Tidak ada komentar: