Kecamuk Perang Mu'tah - IKPM KAIRO

Jumat, 02 Oktober 2020

Kecamuk Perang Mu'tah

 


Kecamuk Perang Mu'tah

Perang Mu’tah merupakan salah satu perang terbesar diantara perang yang pernah dilakukan kaum muslimin pada zaman Rasulullah. Perang ini menjadi barometer awal pembuka penaklukan negeri-negeri Nasrani, pada Jumadil Ula thun 8 H. Mu’tah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam, sekarang lebih dikenal dengan nama Karak.Tempat ini bisa ditempuh selama dua hari dua malam perjalanan kaki dari Baitul Maqdis.

Latar Belakang Peperangan

Suatu hari Rasululah mengutus Harist bin Umair Al- Azdi r.a untuk mengantarkan surat kepada raja Bashra. Di tengah perjalanan ia dicegat oleh Syurahbil bin Amr, seorang prajurit daerah Al Balqa' termasuk wilayah Syam, dibawah kekuasaan Kaisar. Al-Harist diikat dan diserahkan kepada Kaisar dan dipenggal lehernya.

Pesan Rasulullah Kepada Para Komandan Pasukan

Rasulullah Saw menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Beliau bersabda, “Apabila Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far. Apabila Ja’far gugur penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah."

Rasulullah mengikatkan bendera kain bendera berwarna putih dan memberikannya kepada Zaid bin Haritsah. Beliau juga mendatangi tempat terbunuhnya Haritsah bin Umair, lalu mengajak penduduk disana agar masuk Islam. “Jika mereka meresponsnya, bersyukurlah. Namun jika sebaliknya, mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka.” Beliau meneruskan sabdanya.

'Dengan asma Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, janganlah berkhianat, janganlah mengubah, jangan membunuh anak-anak, perempuan, orang tua renta, dan orang yang menyelamatkan diri ke rumah ibadah, janganlah memotong pohon kurma atau menumbangkannya, dan jangan pula menghancurkan bangunan.

Ketika pasukan itu bergerak, kaum muslimin ramai mendoakan mereka, “Semoga Allah menemani kalian, membela kalian, dan mengembalikan kalian dalam keadaanbaik.”

Ketika itu pula, rupanya pihak musuh mendengarnya sehingga pasukan Romawi mulai bersiap-siap menyambut kedatangan mereka. Saat itu, Kaisar Heraklius menyiapkan lebih dari seratus ribu prajurit Romawi, sementara Syurahbil bin Amr, Gubernur Bashra, juga menyiapkan seratus ribu prajurit yang berasal dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qain, dan Bahra’.

Berunding di Mu’an dan Mulai Bergerak Mendekati Musuh

Mendengar jumlah pasukan musuh sebesar itu, Pasukan Muslim benar-benar bingung. Dua bulan mereka berada di Mu’an memikirkan masalah ini. Mereka terus menimbang-nimbang dan bertukar pikiran. Mereka memutuskan untuk menulis surat kepada Rasulullah dan mengabarkan jumlah musuh mereka, entah beliau akan memberikan perintah tertentu dan mereka siap melaksanakannya.

Tetapi Abdullah bin Rawahah menentang pendapat ini. Dia memberikan motivasi kepada orang-orang dan berkata, “Wahai semua orang, demi Allah, apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini sebenarnya justru sesuatu yang kalian cari, yaitu mati Syahid. Kita tidak berperang dengan manusia karena jumlah, kekuatan dan banyaknya personil. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena agama ini, yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah karena disana hanya ada dua pilihan kebaikan, entah kemenangan atau mati syahid.”

Pasukan Muslim pun akhirnya bertemu pasukan musuh dekat Karak. Mereka bersiap-siap untuk mengadakan pertempuran. Saat itu dari pasukan muslim, sayap kanan dipimpin Quthbah bin Qatadah dan Sayap kiri dipimpin Ubadah bin Malik.

Awal Perang Berkecamuk dan Pergantian Kepemimpinan

Di Mu’tah itulah dua pasukan itu bertemu dan pertempuran pun pecah. Dan selang beberapa saat, Zaid bin Haritsah r.a gugur ketika sebilah tombak menghujam tubuhnya. Setelah syahidnya Zaid, panji-panji Islam diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib r.a. Ja’far terus bertempur sampai akhirnya dia syahid di tanga prajurit pasukan Romawi yang mengayunkan pedang kearah tubuhnya sampai terbelah menjadi dua. Ketika syahidnya, tak kurang dari lima puluh luka terdapat di sekujur tubuh Ja’far r.a.

Setelah Ja’far gugur, panji-panji Islam dibawa Abdullah bin Rawahah r.a, sahabat Rasulullah yang pandai bertempur sekaligus piawai bersyair. Abdullah binRawhah r.a lalu bertempur mati-matian sampai akhirnya panglima pasukan Islam yang ketiga ini pun syahid.

Bendera diserahkan Kepada Pemegang Pedang Allah

Setelah Abdullah bin Rawhah gugur, para prajurit muslim sepakat menunjuk Khalid bin Walid sebagai Panglima baru. Di tangan Khalid inilah paukan Muslim berhasil memukul mundur pasukan Kafir dari Mu’tah. Demi mengingat jumlah dan persenjataan yang tidak sebanding dengan pihak musuh, akhirnya Khalid memutuskan untuk menarik pasuka Islam Ke Madinah.

Imam Ibnu Katsir menyatakan:

Disepakati bahwa (dalam Perang Mu’tah) Khalid memang menahan laju pasukan Islam karena dia menunggu malam berlalu. Keesokan paginya, Khalid mengubah posisi Pasukan Islam dengan cara menukar pasukan sayap kanan di sebelah kiri begitupun sebaliknya. Dengan cara seperti itulah , Khalid menyerang pasukan Romawi dan membuat musuh-musuh Allah itu tunggang langggang meninggalkan medan pertempuran. Namun Khalid tidak mengejar yang melarikan diri karena menganngap bahwa keberhasilan pasukan Islam untuk dapat pulang ke Madinah dengan selamat merupakan Ghanimah yang tidak ternilaiharganya.

Akhir Peperangan

Ketika pasukan itu mendekati Madinah, Rasulullah Saw segera menyambut kedatangan mereka. Sambil melangkah, Rasulullah melihat anak kecil berlarian. Beliau lalu berkata, “Cepatlah bawa kemari anak Ja’far, tak lama kemudian dibawanya Abdullah kepada Rasulullah, dan akan Ja’far itu dibawa dengan menggunakan kedua tangannya.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo


Tidak ada komentar: