Petikan Pelajaran dalam Perang Mu'tah - IKPM KAIRO

Jumat, 30 Oktober 2020

Petikan Pelajaran dalam Perang Mu'tah


Setelah mengarungi kisah Perang Mu'tah di tulisan sebelumnya, berikut terdapat beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:
Pertama: Wasiat Rasulullah Saw kepada para panglima pasukan Islam menjadi dalil bahwa seorang pemimpin umat Islam boleh menyerahkan kepemimpinan dalam misi atau tugas tertentu kepada seseorang berdasarkan penunjukan. Kedua: Dari wasiat Rasulullah Saw itu juga kita mendapatkan dalil bahwa umat Islam boleh berijtihad  untuk memilih pemimpin mereka yang baru jika pemimpin mereka gugur atau mereka yang diperinthkan oleh khalifah untuk memilih pemimpin berdasarkan pendapat mereka sendiri.

Ketiga: Seperti anda ketahui, Rasulullah Saw menyampaikan berita duka tentang gugurnya Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah dengan berlinangan air mata, padahal saat itu Rasulullah dalam jarak yang sangat jauh. Hal ini membuktikan bahwa Allah Swt telah melihat pasukan Islam yang sedang bertempur di perbatasan Syam.  Keistimewaan ini tentu menjadi salah satu kelebihan luar biasa yang menjadi tanda pemuliaan Allah terhadap hamba yang paling dicintai-Nya. Tentu saja tangisan Rasulullah Saw sama sekali tidak menaafikan keridhaannya terhadap ketetapan dan takdir Allah Swt. “Karena mata sungguh dapat mencucurkan air mata dan sungguh dapat bersedih,” seperti dikatakan Rasulullah Saw. Oleh sebab itu, tangisan yang rasulullah tunjukan itu semata-mata menunjukkan kewajaran dan kelembutan yang telah digariskan oleh Allah sebagai fitrah bagimanusia. Keempat: Hadis mengenai berita duka gugurnya ketiga panglima muslim yang disampikan Rasulullah Saw juga meenyatakan sebuah keistimewaan Khalid bin Walid r.a. Di penghujung hadis itu Rasulullah bersabda, “Lalu panji-panji pasukan di bawah salah satu pedang di antara pedang- pedang-Nya smpai akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka.”

Perang Mu’tah adalah perang pertama yang diikuti Khalid bin Walid r.a. yang ikut membela pasukan Muslim, karena saat itu dia memang muallaf. Dari hadis ini, Anda tahu bahwa Rasulullahlah yang menyematkan julukan Pedang Allah (Saifullah) kepada Khalid bin Walid r.a.  Al-Bukhari meriwayatkan dari Khalid bin Walid r.a, dia berkata, “Ada sembilan pedang yang patah ditanganku, dan yang tersisa hanya sebatang pedang lebar model Yaman. Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa saat Perang Mu’tah para prajurit Islam berhasil membunuh begitu banyak prajurit musuh.

Tim Kajian Sirah Arrazi IKPM Cabang Kairo


Tidak ada komentar: