Pembebasan Makkah (2): Pengkhianatan Klausul Genjatan Senjata - IKPM KAIRO

Jumat, 02 April 2021

Pembebasan Makkah (2): Pengkhianatan Klausul Genjatan Senjata


Sebelum kita membahas peristiwa Fathu Makkah ada baiknya jika kita mengetahui penyebab terjadinya peristiwa ini. Dalam suku-suku Arab yang tinggal berdampingan dengan suku Quraisy, Terdapat dua suku yang selalu berseteru. Keduanya adalah suku Bakr dan suku Khuzaah. Setiap peperangan antara dua suku tersebut, suku Bakr selalu kalah dari suku Khuzaah, yang mana adalah kaum penggembala tapi mereka adalah kesatria-kesatria hebat di medan tempur, pemanah-pemanah ulung, serta orang- orang yang sangat kuat.

Maka ketika perjanjian Hudaibiah ditetapkan, suku Bakr memilih untuk bersekutu dengan Quraisy, berharap dengan bergabungnya mereka dengan Quraisy dapat membawa kemenangan melawan Khuzaah. Mereka mengira kaum Quraisy akan berkuasa setelah perjanjian tersebut dan akan memegang kemenangan. Dan apa yang dipilih Khuzaah adalah sebaliknya karena dakwah Islam sudah menyebar di tengah- tengah suku Khuzaah dan sebagian besar dari mereka telah memeluk ajaran Islam, suku Khuzaah memutuskan untuk bersekutu dengan umat muslim di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.


Perjanjian  Hudaibiah  harus  dijalankan  oleh  kedua  belah  pihak  beserta  para sekutunya.  Namun  semuanya  berbalik  pengkhianatan  ketika  Naufal  bin  Muawiyah  ad- Daili   –pimpinan   suku   Bakr-   merasa   tak   nyaman   dengan   perjanjian   tersebut.   Rasa dendamnya  amat  besar  terhadap  suku  Khuzaah.  Padahal  di  antara  perjanjian  tersebut adalah  adanya  gencatan  senjata  selama  10  tahun  antara  kedua  belah  pihak.  Saat  itu Naufal   memprovokasi   para   tokoh  Quraisy   untuk   melakukan pengkhianatan.  


Para pembesar ada yang menolak ide gila itu, mereka menyebutkan bahwa suatu kehinaan bila Quraisy    berkhianat.    Namun    beberapa    dari    tokoh    muda    Quraisy    menyetujui pengkhianatan tersebut.


Suku Bakr mengerahkan pasukan intinya dengan didukung oleh Quraisy. Terjadilah pembantaian malam hari dipimpin langsung oleh Naufal bin Muawiyah ad- Daili yang dibantu persenjataan dari kaum Quraisy dan bahkan beberapa dari orang Quraisy juga ikut berperang membantu Suku Bakr. Khuzaah terdesak hingga ke tanah suci. Sesampainya disana, orang-orang dari Suku Bakr mengingatkan, Wahai Naufal! Kita sudah memasuki tanah suci.Ingatlah tuhanmu, tuhanmu! dia menjawab dengan kata-kata yang tidak bisa dianggap enteng, Tidak ada tuhan hari ini. Wahai Suku Bakr lampiaskanlah dendam kalian! Demi Allah, kalau perlu kalian boleh mencuri di tanah suci. Apakah kalian tidak ingin melampiaskan dendam di tanah suci?. Suku Khuzaah berlindung di rumah Budail bin Warqa Al-KhuzaI, dirumah pembantunya yang bernama Rafi’1. Dalam pemabntaian ini memakan korban 20 laki-laki dari Suku Khuzaah.


Ketika terjadi pembantaian di malam hari seorang sahabat pergi ke Madinah untuk menyampaikan pesan bahwa terjadi pengkhianatan dalam bentuk sebuah syair dan Rasulullah paham isi dan maksud dari syair tersebut. Utusan tersebut bernama Amr bin Salim Al-KhuzaI, seorang penyair. Setelah terjadinya pengkhiantan ini, di Mekah para pembesar Quraisy segera mengadakan perkumpulan salah satunya Abdullah bin Abi Saad yang tidak lain adalah seorang munafik yang pernah diamanatkan sebagai penulis wahyu, tapi akhirnya dia murtad. Ia juga telah mengaku-ngaku telah mengganti teks Al- Quran ketikan masih dipercaya menjadi penulis wahyu. Pengakuan ini diklarifikasi langsung oleh Rasullah SAW bahwa apa yang di katakannya adalah dusta dan tidak benar.


Dengan dihadirinya Abdullah bin Abi Saad dalam perkumpulan itu, ia memberikan tiga pendapat yang kemungkinan terjadi setelah pengkhiantan tersebut di depan pembesar Quraisy untuk menyelesaikan pengkhianatan ini, yaitu:


Membayar diyat untuk korban pembantaian (orang Quraisy pun menolak pilihan ini karena melihat banyak korban yang berjatuhan dan melihat kondisi Makkah pada saat itu bisa saja suku Khuzaah meminta Mekah sebagai ganti dari diyat orang- orang yang meniggal ketika pembantaian).


Hukuman hanya untuk Suku Bakr, dan Quraisy pura-pura tidak tahu (orang Quraisy pun menolak pilihan ini karena ditakutkan tidak akan ada lagi yang ingin bersekutu dengan Quraisy).


Perang (hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelesaikan pengkhianatan ini).


Jalan satu-satunya adalah nomer ketiga, tapi melihat situasi dan kondisi Mekah saat itu tidak memungkinkan untuk mengumpulkan pasukan perang di mana harus terkumpul dengan cepat dan banyak karena pada hakikatnya pasukan perang Quraisy harus memiliki kesepakatan antara prajurit perang dengan Quraisy sebagai imbalan mereka atas keikut sertaanya dalam perang entah dalam bentuk materi atau non materi.


Hal yang terkait dengan gencatan senjata dan pelanggarannya; Terjadinyapenaklukan kota Mekah didasarkan karena pengkhianatan yang dilakukan kaum Quraisy karena perjanjian yang telah dilanggar membuat gencatan senjata juga di hentikan pertanda perang akan dimulai.

Jalan yang ditempuh Rasulullah Saw. bertujuan ke Mekah. Sebagai seorang imam dan pemimpin kaum muslimin, beliau memutuskan untuk memerangi pihak yang telah mengkhianati perjanjian gencatan senjata. Pada saat itu beliau berdoa, Ya Allah, cabutlah penglihatan kafir Quraisy hingga mereka tidak dapat melihatku, kecuali hanya sesaat.


Tim Kajian Arrazi IKPM Cabang Kairo

Tidak ada komentar: